Fawaidul Fawaid
Berpaling dari Al-Qur’an
Berpaling dari Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 2 Dzulhijjah 1446 H / 29 Mei 2025 M.
Kajian Islam Tentang Berpaling dari Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا
“Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan.” (Al-Furqan [25]:30)
Ini tentu menjadi peringatan bagi kita semua bahwa banyak manusia yang telah meninggalkan Al-Qur’an, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta‘aladan diberikan petunjuk-Nya. Padahal, Al-Qur’an adalah sebaik-baik petunjuk. Ia merupakan sebab tumbuhnya keimanan dan pembersih penyakit hati, serta menjadi obat bagi keraguan, kesalahpahaman, dan kerusakan dalam iman kita. Bahkan, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Al-Qur’an juga menjadi obat bagi penyakit jasmani, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun, meskipun keutamaan dan kemuliaan Al-Qur’an sedemikian agung, banyak manusia yang lalai darinya, kecuali mereka yang benar-benar mendapatkan rahmat dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata bahwa meninggalkan atau berpaling dari Al-Qur’an itu memiliki beberapa bentuk:
1. Tidak mau mengimaninya, mendengarkan dan memperhatikannya
Ini merupakan kedudukan yang paling parah dan salah satu sebab utama dari kecelakaan dan kebinasaan. Kita tahu bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala, dan Allah telah menjamin bahwa siapa saja yang berpegang teguh kepadanya (membaca, merenungkan, serta mengamalkannya) maka dia akan dijauhkan dari kesesatan dan kebinasaan.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku (wahai manusia), maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” (QS. Ṭaha [20]: 123)
Ia tidak mau mendengarkan, tidak pula mengimaninya. Ini menunjukkan bahwa dirinya telah tertutup dari segala bentuk kebaikan. Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang paling agung yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Namun, justru ada orang yang berpaling darinya. Maka, orang seperti ini layak digolongkan sebagai golongan yang celaka dan binasa. Na’udzubillahi min dzalik.
2. Tidak berhenti pada perkara halal dan haramnya meskipun dia membacanya dan beriman dengannya
Al-Qur’an diturunkan dengan tujuan agar kita mengikuti segala ketetapan halal dan haramnya, menaati hukum-hukumnya, serta mempraktikkan isi kandungannya.
Setelah kita mengimaninya secara menyeluruh dan membacanya, apa tujuan di balik semua itu? Tujuan dari membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang baik adalah untuk mengenal dan memahami kandungan isinya. Bukankah Al-Qur’an memang diturunkan agar direnungkan maknanya, dijadikan pelajaran, dan menjadi sebab yang memenuhi hati kita dengan kebaikan serta membersihkannya dari berbagai kotoran yang menghalangi keimanan? Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
كِتَٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ
“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (wahai Rasulullah) penuh berkah agar mereka (manusia) menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapatkan pelajaran darinya.” (QS. Shad [38]: 29)
Maka, tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah agar dipahami isi kandungannya dan diamalkan maknanya. Adapun membaca, atau bahkan menghafalnya, ini merupakan sarana. Tentu, sebuah sarana akan menjadi mulia apabila mengantarkan kepada tujuan. Karena itu, orang yang benar-benar disebut sebagai ahli Al-Qur’an bukanlah sekadar yang membaca tanpa memahami isinya. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengamalkan isi Al-Qur’an jika ia tidak memahami dan tidak merenungkannya.
Lihat juga: Keutamaan-Keutamaan Hamalatul Qur’an (Para Pengemban Al-Quran)
3. Tidak menjadikannya sebagai hukum dan rujukan dalam berbagai perkara agama.
Ada keyakinan dusta yang mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan arti keyakinan, Al-Qur’an hanya memberikan prasangka. Dan mereka mengatakan bahwa dalil-dalil Al-Qur’an hanya lafadz saja, tidak bisa menghasilkan ilmu yang yakin. Semua ini menjadikan sebagian orang ragu terhadap Al-Qur’an. Padahal, Al-Qur’an itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala, dan Dia-lah yang menjamin kemurniannya. Al-Qur’an dijaga dari segala bentuk kesalahan.
لَّا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Al-Qur’an adalah kitab suci yang tidak mungkin mengandung kebatilan, baik dari arah depan maupun belakangnya. Hal ini karena Al-Qur’an diturunkan dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala Dzat Yang Maha sempurna dalam hukum dan hikmah-Nya, serta Mahaterpuji dalam segala keadaan.” (QS. Fussilat[41]: 42)
Oleh karena itu, segala bentuk keraguan terhadap Al-Qur’an, seperti keyakinan yang menyatakan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan faedah, tidak menghasilkan ilmu yang yakin, atau tidak memberikan pengaruh yang berarti semuanya adalah bentuk penyimpangan. Demikian pula, orang-orang yang enggan mengembalikan hukum kepada Al-Qur’an, atau bahkan berani mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak cocok untuk diterapkan pada zaman sekarang, sungguh mereka telah melakukan bentuk pemalingan yang sangat parah terhadap Al-Qur’an.
4. Tidak mentadabburinya, tidak memahami makna-maknanya, dan tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki darinya.
Dengan merenungkan isi Al-Qur’an, kita dapat memetik keindahannya untuk membersihkan hati yang kotor, menguatkan keyakinan yang masih goyah, serta menumbuhkan buah-buah keimanan di dalam hati. Melalui tadabbur terhadap kandungan maknanya, akan terpancar keberkahan dan keindahan makna-makna Al-Qur’an yang agung.
Setelah itu, tentu dengan izin Allah Subhanahu wa Ta‘ala kita akan dimudahkan untuk mengamalkannya, mengambil hukum-hukumnya, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, hal ini termasuk salah satu bentuk berpaling dari Al-Qur’an yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin, kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
5. Tidak menjadikannya sebagai obat bagi penyakit hati, malah justru mencari kesembuhan pada selainnya.
Di antara fungsi terbesar Al-Qur’an adalah sebagai obat bagi penyakit-penyakit yang bersarang di dalam dada, yakni penyakit hati. Allah Subhanahu wa Taʿala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yūnus [10]: 57)
Kita mengetahui bahwa penyakit hati merupakan salah satu masalah terbesar yang menimpa kebanyakan manusia. Masalah-masalah yang berkaitan dengan keimanan adalah persoalan paling besar yang dialami oleh mayoritas manusia. Kebersihan hati adalah sebab tumbuhnya keimanan, dan ia menjadi kunci bagi kebaikan seluruh anggota badan. Jika hati bersih dan sehat, maka akan terpancar dalam sikap dan perbuatan. Sebaliknya, jika hati rusak, maka rusak pula seluruh amal dan perilaku seseorang.
Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Berpaling dari Al-Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




