Renovasi Masjid

Ada Apa dengan Remaja

Jangan Menjauh Saat Anak Melakukan Kesalahan

By  |  | https://rodja.id/5ne

Jangan Menjauh Saat Anak Melakukan Kesalahan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 14 Dzulhijjah 1446 H / 10 Juni 2025 M.

Kajian Tentang Jangan Menjauh Saat Anak Melakukan Kesalahan

Perilaku negatif yang terjadi pada anak-anak remaja kita yang pertama harus kita sikapi dengan belajar untuk menerima. Bagaimanapun, itu adalah ujian yang Allah Subhanahu wa Ta‘ala berikan kepada kita. Tugas kita hadir di sisinya bukan untuk memvonis atau menghukumnya, melainkan untuk membimbing dan mendidiknya. Jangan sampai kita menolaknya atau mempertanyakan. Terimalah remaja kita dengan apa adanya, dengan segala yang terjadi dan dilakukannya, termasuk perilaku negatifnya.

Jangan sekali-kali membenci atau menjauhinya. Pendidikan tidak bisa diberikan dengan kebencian atau sikap menjauh. Bagaimana kita bisa memiliki akses untuk membimbingnya, sementara kita justru menjauhinya? Sebagian orang tua mungkin terbawa perasaan dan emosi. Akibatnya, karena membenci perilaku negatif tersebut, mereka menjauhi anaknya. Hal itu terjadi karena merasa kecewa atau kurang Puas.

Kecewa itu wajar, tentu saja. Namun, tidak perlu sampai menjauhi. Justru, saat itulah kita harus mendekat. Memang berat menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Menerima kenyataan yang mengecewakan itu berat, sebagaimana beratnya menerima kekalahan, namun terkadang kita harus menerima.

Maka, jangan sekali-kali membenci atau menjauhi. Sikap seperti inilah yang justru memperlebar jurang antara orang tua dan anak remaja, hingga komunikasi pun terputus. Ketika tidak ada komunikasi, maka akan terjadi miskomunikasi dan kesalahpahaman yang membuat masalah semakin rumit, runcing, dan sulit diselesaikan seperti benang kusut.

Maka, memang kita perlu berlapang dada dalam hal ini. Walaupun kita akui itu berattidak mudah menerima kekurangan-kekurangan pada anak yang telah kita besarkan sejak kecil dengan penuh perjuangan tetapi kita pun perlu bercermin kepada diri sendiri. Mungkin, kita juga memiliki banyak kekurangan dalam mendidiknya.

Jadi, berusahalah untuk berlapang dada. Belajarlah menerima. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dunia adalah tempat ujian, dan salah satu ujiannya adalah anak kita sendiri. Maka, dekati dia, raih tangannya. Jangan biarkan anak itu semakin menjauh. Karena itulah yang diharapkan oleh setan agar anak menjauh dari kita. Akibatnya, kebencian itu muncul dalam pandangan kita.

Pandangan kebencian akan menampakkan segala sesuatu yang buruk. Jika kita memandang anak dengan kebencian, maka yang terlihat hanyalah sisi negatifnya. Tidak tampak sisi positifnya. Hal ini akan semakin menjauhkan hubungan antara orang tua dan anak.

Anak ini akan hancur, seperti yang dikatakan sebagai anak “broken home” anak yang tidak diurus oleh kedua orang tuanya. Akhirnya dia menjadi korban. Demikian pula, terkadang kita salah memposisikan diri di hadapannya, bukan sebagai pendidik, melainkan sebagai penikmat kesalehan anak. jadi, yang pertama adalah berlapang dada dan berusaha untuk menerima. Supaya hati tidak dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan terus-menerus, karena hal itu akan menghambat tugas kita sebagai pendidik.

Karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi pesan kepada para lelaki agar memilih calon istri yang subur dan penyayang. Subur berarti ia mampu menjadi seorang ibu yang melahirkan anak. Namun, ia bukan hanya sekadar istri atau ibu, melainkan juga pendidik madrasah pertama bagi anak-anaknya. Inilah yang diharapkan. Karena wanita bukan hanya memiliki peran untuk melahirkan, tetapi juga memikul tugas yang lebih mulia dan lebih besar, yaitu menjadi pendidik dan guru bagi anak-anaknya.

Demikianlah. Jangan biarkan anak semakin menjauh dari kita. Tidak perlu berbicara tentang hubungan anak dan orang tua. Hubungan kita dengan sahabat saja, ketika dipenuhi kebencian dan saling menjauh, maka yang muncul adalah prasangka buruk (su’udzan). Terjadi pula miskomunikasi, dan segala sesuatu ditanggapi secara negatif. Kita pun tahu, hal ini dapat menjerumuskan keduanya ke dalam dosa dosa ghibah, namimah (adu domba), fitnah, dan berbagai dosa lainnya.

Maka rengkuhlah ia dalam kehangatan kasih sayang orang tua. Orang tua harus senantiasa memberikan kasih sayang kepada anaknya, apa pun yang terjadi, apa pun yang tampak di hadapannya meskipun pahit. Percayalah, itu hanyalah ujian. Allah Subhanahu wa Ta‘ala ingin menguji, apakah kita lulus atau tidak dalam menghadapi ujian tersebut. Allah Subhanahu wa Ta‘ala maha melihat apa yang kita kerjakan. Oleh karena itu, tetaplah memberikan cinta yang tulus kepada anak, bukan cinta yang bersyarat. Bersikaplah tenang, santun, dan sabar itulah kuncinya.

Kepada para orang tua yang mungkin menerima ucapan kasar dari anaknya, apa yang sebaiknya dilakukan? Apakah kita langsung marah atau memvonisnya sebagai anak durhaka? Kadang-kadang, kita terlalu terbawa perasaan. Perlu diingat, posisi kita di hadapannya adalah sebagai pendidik, bukan sekadar orang tua. Peran sebagai pendidik jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan gengsi sebagai orang tua. Anak akan jauh lebih menghormati kita ketika melihat kita sebagai pendidik, apalagi jika ia menghormati karena kedua peran sekaligus: sebagai orang tua yang telah melahirkan dan merawatnya sejak kecil, serta sebagai guru yang mendidiknya.

Ia pasti akan menghormati. Karena yang ia dapati pada diri kita adalah jiwa pendidik mengarahkan, mengayomi, menuntun, dan membimbing. Bukan sosok yang langsung memvonis ketika anak bersalah, atau langsung marah ketika melihat kekeliruan. Sebaliknya, pendidik itu bisa memberikan toleransi dan memahami. Nah, itu adalah sifat-sifat pendidik. Jika itu yang didapati anak dalam diri kita, maka besar kemungkinan ia akan lebih menghormati kita ke depannya. Ia akan melihat di hadapannya adalah sosok seorang pendidik.

Yang kedua adalah jangan mengedepankan emosi ketika menghadapi perilaku negatif anak-anak remaja. Kadang emosi hanya sesaat, selebihnya penyesalan. Maka berusahalah mendalami inti masalah. Pepatah mengatakan, “Tidak ada asap kalau tidak ada api.” Maka logikanya, padamkan apinya, selesai pula urusan asapnya. Namun, sering kali dalam menyelesaikan masalah anak, kita justru terkena bias. Kita tidak melihat akar masalahnya. Kita tidak menelusurinya. Bisa jadi, masalah itu justru kembali kepada kita sendiri, tetapi kita justru menimpakan seluruh kesalahan kepada anak tanpa mengusutnya, tanpa berusaha mendalami dan mencari tahu akar persoalannya. Padahal, dengan mengetahui sumber permasalahan yang sebenarnya, kita dapat menyelesaikannya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Jangan Menjauh Saat Anak Melakukan Kesalahan” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses