Tarbiyah Jinsiyyah
Menanamkan Sifat Malu pada Anak
Menanamkan Sifat Malu pada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 27 Ramadhan 1447 H / 17 Maret 2026 M.
Kajian Tentang Menanamkan Sifat Malu pada Anak
Salah satu akhlak mulia yang dapat membentengi anak dari segala perbuatan hina dan nista adalah sifat malu. Sifat ini merupakan kunci dari semua kebaikan dan kemuliaan. Ibnul Qayyim dalam kitab Miftah Daris Sa’adah menjelaskan bahwa malu adalah sifat yang sangat utama, luhur, dan paling banyak mendatangkan manfaat.
Malu merupakan ciri khas yang membedakan manusia dengan hewan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan rasa malu pada fitrah manusia sehingga manusia memiliki keinginan untuk berpakaian dan menutup aurat. Syariat agama hadir untuk membekali fitrah tersebut guna membentengi manusia dari keburukan. Seseorang dianggap tidak memiliki kebaikan sedikitpun jika ia kehilangan akhlak ini.
Malu sebagai Akhlak Islam
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa malu adalah identitas utama dalam akhlak Islam. Beliau bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah)
Meskipun semua agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, Islam menjadikan rasa malu sebagai karakter utama bagi pemeluknya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap muslim wajib memiliki sifat tersebut. Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menekankan bahwa seluruh unsur dalam rasa malu adalah kebaikan:
الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ
“Malu itu baik semuanya.” (HR. Muslim)
Sifat malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Seorang yang memiliki rasa malu akan meraih banyak kemuliaan serta mampu menebarkan kebaikan di lingkungannya. Begitu pentingnya posisi sifat ini sehingga ia dijadikan sebagai pilar utama dalam akhlak Islam. Seorang muslim dinilai memiliki kecacatan karakter jika tidak memiliki rasa malu.
Malu sebagai Cabang Keimanan
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaitkan sifat malu dengan keimanan. Malu adalah manifestasi nyata dari iman seseorang. Beliau bersabda:
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً … وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu memiliki tujuh puluh lebih cabang… dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim)
Iman merupakan amal hati yang bersifat gaib dan tidak tampak secara kasat mata. Oleh karena itu, diperlukan indikasi atau bukti nyata yang menunjukkan keberadaan iman tersebut. Amal-amal lahiriah menjadi pembukti keimanan seseorang, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut salat sebagai iman dalam Al-Qur’an:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ
“…dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (salatmu).” (QS. Al-Baqarah[2]: 143)
Rasa malu menjadi salah satu cabang penting yang membuktikan bahwa cahaya iman benar-benar bersemayam di dalam hati seorang hamba. Tanpa rasa malu, pengakuan iman seseorang kehilangan salah satu pilar pembuktiannya yang paling utama.
Hubungan Erat Antara Malu dan Iman
Memiliki rasa malu merupakan salah satu tanda nyata bahwa seseorang memiliki iman di dalam hatinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa rasa malu dan iman adalah dua hal yang selalu berpasangan dan tidak dapat dipisahkan. Beliau bersabda:
الْحَيَاءُ وَالإِيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ
“Malu dan iman itu bergandengan bersama. Jika salah satunya diangkat (hilang), maka hilang pula yang lainnya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Keduanya saling berdampingan dan berjalan bersamaan. Jika ada rasa malu, maka di sana terdapat iman. Sebaliknya, hilangnya rasa malu menjadi indikasi hilangnya keimanan. Oleh karena itu, setiap mukmin wajib memiliki sifat ini sebagai bukti keimanan sejati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penjagaan Lisan Sebagai Tanda Iman
Selain rasa malu, kemampuan untuk menjaga lisan juga merupakan bukti keimanan seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْحَيَاءُ وَالْعُيُّ شُعْبَتَانِ مِنَ الإِيمَانِ وَالْبَذَاءُ وَالْبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ
“Malu dan diam (menjaga lisan) adalah dua cabang dari keimanan, sedangkan berkata keji dan fasih bersilat lidah adalah dua cabang dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi)
Menjaga lisan dari perkataan haram adalah wujud dari rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Indikasi Kemunafikan pada Lisan dan Perbuatan
Sebaliknya, ucapan yang keji, kotor, serta kemahiran dalam bersilat lidah untuk menutupi kebenaran merupakan tanda-tanda kemunafikan. Sebagaimana iman, kemunafikan adalah penyakit hati yang tidak terlihat secara kasat mata, namun gejalanya nampak melalui perbuatan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia melanggar, dan jika diberi amanah dia berkhianat.” (HR. Bukhari)
Sifat-sifat ini menunjukkan adanya penyakit nifaq dalam hati seseorang. Meskipun hati manusia bersifat gaib, perilaku lahiriah seperti kejujuran dan rasa malu menjadi tolok ukur utama untuk menilai kondisi batin tersebut.
Keindahan yang Dibawa oleh Rasa Malu
Rasa malu memberikan pengaruh yang luar biasa dalam setiap urusan manusia. Segala sesuatu yang disertai dengan rasa malu akan berakhir dengan keindahan. Sebaliknya, perkataan atau perbuatan yang keji akan merusak segala sesuatu yang disentuhnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ
“Tidaklah kekejian itu ada pada sesuatu melainkan dia akan memperburuknya, dan tidaklah rasa malu itu ada pada sesuatu melainkan dia akan memperindahnya.” (HR. Tirmidzi)
Setiap urusan yang dihadapi dengan modal rasa malu akan berakhir elok dan memuaskan. Namun, jika rasa malu telah hilang, tindakan seseorang cenderung berakhir memalukan dan membuahkan penyesalan. Dalam kehidupan sehari-hari, nampak jelas bahwa orang yang kehilangan rasa malu dalam menghadapi berbagai urusan akan mendapati ujung cerita yang buruk dan menodai martabatnya sendiri.
Begitu pentingnya sifat malu sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghubungkannya langsung dengan keimanan dan balasan surga. Sebaliknya, lisan yang tidak terjaga merupakan indikasi kekasaran tabiat yang berujung pada ancaman neraka. Beliau bersabda:
الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ وَالإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
“Malu itu bagian dari iman dan iman tempatnya di surga. Sementara ucapan yang keji (tidak senonoh) adalah bagian dari kekasaran tabiat, dan kekasaran tabiat tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi)
Neraka merupakan tempat yang didesain dengan kekasaran. Di dalamnya tidak ada kelembutan, melainkan para penjaga dan penyiksa yang menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa kompromi. Sifat kasar dan ucapan yang buruk menunjukkan seseorang jauh dari kebaikan. Sebaliknya, rasa malu membuahkan kelembutan dan menjaga perilaku seseorang agar tidak mudah terpancing untuk berlaku kasar.
Ramadhan sebagai Madrasah Kesabaran dan Rasa Malu
Ibadah puasa Ramadhan merupakan sarana untuk menempa diri menjadi pribadi yang sabar dan mampu mencegah diri dari perbuatan keji, termasuk amarah. Puasa berfungsi sebagai perisai yang melindungi seorang mukmin dari keburukan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa itu adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang sedang marah sering kali kehilangan rasa malunya. Jika ia melihat dirinya saat sedang meledak dalam amarah, ia tentu akan merasa malu. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan emosi merupakan salah satu buah dari sifat sabar dan rasa malu. Dalam menjalankan puasa, seorang muslim dilarang melakukan perbuatan jahil dan berkata-kata kotor. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia katakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengendalikan Diri dari Provokasi
Seseorang yang memiliki identitas sebagai orang yang berpuasa (shaim) harus mampu menjaga martabatnya agar tidak melakukan hal-hal yang mempermalukan diri sendiri, seperti mudah terpancing emosi. Jika seseorang tetap menjadi pribadi yang “sumbu pendek” atau mudah diprovokasi saat Ramadhan, maka esensi puasanya tidak memberikan pengaruh pada karakternya.
Saat amarah meledak, rasa malu, empati, dan prasangka baik (husnuzon) biasanya akan lenyap, berganti dengan dendam serta kekasaran. Inilah alasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan wasiat yang sangat mendalam kepada seorang sahabat:
لَا تَغْضَبْ
“Jangan marah.” (HR. Bukhari)
Pesan tersebut beliau ulangi sebanyak tiga kali sebagai penekanan. Kemampuan mengendalikan emosi adalah salah satu pencapaian yang dapat diraih melalui kekuatan rasa malu. Memiliki rasa malu, kesabaran, dan empati sangat membantu seseorang agar tidak mudah terprovokasi atau terpancing emosinya. Hal ini memang tidak mudah dilakukan, namun melalui ibadah puasa, setiap muslim diharapkan memiliki kemampuan untuk menahan emosi. Tanpa rasa malu, seseorang akan terjerumus dalam perkara yang memalukan, baik bagi dirinya sendiri maupun di mata orang lain.
Sifat mulia ini merupakan target utama dalam menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Keberhasilan ibadah Ramadhan tidak hanya diukur dari kemampuan menahan lapar dan dahaga, melainkan dari sejauh mana sifat-sifat luhur tersebut tertanam dalam diri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan hakikat puasa dalam sebuah hadits:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
“Puasa itu bukanlah sekadar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi puasa itu adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji.” (HR. Al-Hakim)
Bahaya Amarah dan Hilangnya Kebijaksanaan
Perkataan keji sering kali muncul saat seseorang terjebak dalam amarah. Saat emosi meluap, segala sisi buruk yang biasanya tersembunyi akan nampak dengan konyolnya. Ungkapan bahwa kesabaran memiliki batas sering kali menjadi pembenaran bagi seseorang untuk melampiaskan amarahnya. Padahal, saat amarah menguasai diri, seketika itu pula rasa malu, empati, husnudzon, kesabaran, dan sifat pemaaf akan lenyap.
Kebijaksanaan dan hikmah pun turut hilang bersamaan dengan munculnya amarah. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penegasan tanpa pengecualian:
لاَ تَغْضَبْ
“Jangan marah.” (HR. Bukhari)
Ibadah puasa adalah sarana latihan untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan utama puasa melampaui sekadar menahan lapar hingga azan Magrib, yakni membentuk pribadi yang memiliki kontrol diri dan rasa malu yang kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ultimatum bagi yang Kehilangan Rasa Malu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak lagi memiliki rasa malu. Pesan ini merupakan warisan para nabi terdahulu yang senantiasa disampaikan kepada umat mereka. Beliau bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya di antara ungkapan yang dikenal manusia dari ucapan para nabi terdahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah semaumu’.” (HR. Bukhari)
Jika rasa malu telah hilang, tindakan seseorang akan sepenuhnya dikendalikan oleh keinginan yang buruk dan pengaruh setan. Kondisi ini sangat berbahaya karena memicu munculnya kekejian dan hal-hal yang tidak patut. Orang yang telah menanggalkan rasa malunya cenderung berbuat sesuka hati dan tidak lagi mempan diberikan nasihat. Meskipun diperingatkan bahwa tindakannya tidak layak atau buruk, ia akan tetap menerabas aturan karena hilangnya kendali moral yang bernama rasa malu.
Urgensi Rasa Malu dalam Menerima Nasihat
Rasa malu merupakan modal utama bagi seseorang agar mampu menyimak dan mengikuti nasihat yang baik. Tanpa sifat ini, seseorang cenderung menjadi bebal dan sulit di arahkan karena selalu ingin berbuat sesuka hati. Ketidakberadaan rasa malu menyebabkan penolakan terhadap kebenaran dan hidayah yang datang kepadanya.
Ultimatum yang diberikan bagi mereka yang kehilangan rasa malu sangatlah berat. Kebenaran tidak hanya terhalang masuk ke dalam hati, bahkan mungkin tidak lagi mampu melewati telinga mereka karena langsung ditepis. Indikasi nyata di lapangan menunjukkan bahwa orang yang kehilangan rasa malu sering kali bereaksi dengan kemarahan saat dinasihati. Hal ini menyebabkan hilangnya prasangka baik (husnuzon) dan digantikan oleh pikiran negatif (suuzon). Orang yang berniat tulus memberikan masukan justru dianggap sebagai lawan atau musuh yang memiliki maksud buruk. Bukannya berterima kasih, mereka justru membalasnya dengan tuduhan serta vonis sepihak.
Peringatan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai hilangnya rasa malu mengandung konsekuensi yang sangat serius bagi kehidupan beragama seseorang. Beliau bersabda:
إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR. Bukhari)
Ungkapan tersebut merupakan sebuah peringatan keras, bukan sebuah anjuran. Risiko terbesar bagi orang yang sudah tidak memiliki rasa malu adalah terhalang dari hidayah dan kebaikan yang disuguhkan kepadanya.
Peran Rasa Malu dalam Pendidikan Anak (Tarbiyah Jinsiyyah)
Menanamkan sifat malu kepada anak sejak dini adalah modal penting agar mereka mampu menjaga diri dari pengaruh buruk lingkungan, baik dari gangguan jin maupun manusia. Sifat ini menjadi benteng pertahanan yang kuat bagi kesucian diri mereka. Dengan rasa malu, anak akan memiliki kesadaran untuk menutup aurat dengan benar serta menjaga perilaku dan penampilannya agar tetap sopan.Rasa malu merupakan fondasi utama dalam pembahasan tarbiyah jinsiyyah atau pendidikan seksual dalam Islam. Tanpa sifat malu, pendidikan mengenai adab berpakaian dan adab pergaulan dengan orang di sekitar tidak akan mencapai tujuannya. Oleh karena itu, menanamkan pemahaman yang benar mengenai rasa malu adalah langkah awal yang sangat krusial dalam mendidik karakter anak.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Menanamkan Sifat Malu pada Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




