Telegram Rodja Official

Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat

By  |  pukul 1:31 pm

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 01 Sya'ban 1440 / 06 April 2019 pukul 12:38 pm

Tautan: https://rodja.id/255

Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 15 Muharram 1440 H / 25 September 2018 M.

Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi

Status program kajian Hadits Arbain Nawawi: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 16:30 - 18:00 WIB.

Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat

Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala mengatakan, dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini termasuk dalam jajaran hadits paling shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini diriwayatkan dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. 

Amalan Tergantung Pada Niatnya

Suatu amalan menjadi sah  secara syar’i dan juga akan mendapatkan pahala jika diniatkan dengan niat yang benar. Niat adalah sebuah amalan hati yang fungsinya membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lain. Juga membedakan antara ibadah dengan adat kebiasaan biasa.

Kita mengetahui ada mandi yang terkadang dilakukan hanya sekedar untuk membersihkan diri atau mendinginkan badan. Tapi ada juga mandi yang fungsinya sebagai ibadah. Yaitu untuk mengangkat hadas besar atau juga untuk mengagungkan syiar Allah subhanahu wa ta’ala seperti mandi untuk shalat jum’at.

Kita mengetahui juga bahwa terkadang satu ibadah dengan ibadah yang lain memiliki bentuk yang sama. Misalnya sama-sama shalat empat rakaat. Tentu ini perlu dibedakan apakah kita ingin melakukan shalat dzuhur atau shalat ashar. Contoh yang lain ketika kita ingin melaksanakan shalat dua rakaat di pagi hari. Kita harus membedakan apakah kita niatkan untuk shalat qabliyah subuh atau untuk shalat subuh yang wajib?

Inilah fungsi niat. Yaitu yang pertama untuk membedakan, sedangkan fungsi yang kedua adalah menuntukan untuk siapa ibadah yang kita lakukan. Apakah kita menjalankan shalat karena Allah atau untuk selain Allah? Misalnya agar dipuji oleh orang-orang disekitar kita atau untuk keduanya sekaligus. Disinilah pentingnya niat. Kita harus mengatur siapa yang kita harapkan? Untuk siapa kita beramal? Imam Ahmad pernah ditanya tentang bagaimana kita berniat sebelum beribadah, beliau mengatakan, “Tata hatimu sebelum engkau beramal bahwa engkau tidak melakukan ibadah atau amalan ini kecuali karena Allah azza wa jalla.”

Setiap Orang Hanya Mendapatkan Yang Dia Niatkan

Kalau dalam shalatnya seseorang meniatkan untuk shalat qabliyah subuh, maka shalat dua rakaat yang dilakukan adalah shalat qabliyah subuh. Artinya kewajiban shalat subuh hari itu belum dia lakukan. Berarti dia wajib untuk bangun dan shalat dua rakaat lagi dengan niat shalat subuh. Begitu juga kalau seseorang shalat empat rakaat dengan niat shalat ashar, maka yang dia dapatkan adalah pahala shalat ashar.

Baca Juga:  Penjelasan Iman dan Hakikat Keimanan Bagian 2 - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Demikian juga kalau seseorang mandi dengan niat bersih-bersih saja, maka hanya itu yang dia dapatkan. Apabila ada orang yang memiliki kewajiban mandi wajib, kemudian dia mandi tapi dia lupa bahwa dia memiliki kewajiban untuk mandi wajib. Kemudian dia mandi seperti biasa tanpa ada niat dalam hatinya untuk mengangkat hadats, maka mandinya itu tidak terhitung sebagai mandi yang menghilangkan ibadah.

Jika dalam ibadah kita kita niatkan untuk Allah, maka insyaAllah itu yang akan kita dapatkan. Yaitu pahala disisi Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya, kalau kita sudah lelah dalam menjalankan ibadah, tapi kita salah niat. Maka jangan salahkan siapa-siapa saat kita berjumpa dengan Allah, ternyata kita tidak mendapatkan pahala ibadah yang sudah kita lakukan di dunia.

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam potongan hadits yang terakhir. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah contoh. Dimana ada dua orang yang beribadah dengan ibadah yang sama namun yang mereka dapatkan ternyata berbeda. Disini kita melihat ada dua orang yang sama-sama hijrah. Yang pertama mendapatkan pahala besar disisi Allah subhanahu wa ta’ala, sementara yang lain tidak mendapatkan pahala besar itu bahkan bisa jadi dalam beberapa kasus karena salah niat seseorang bisa disiksa oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadah Membutuhkan Takwa

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّـهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ﴿٢٧﴾

“…Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Maidah[5]: 27)

Maka agar bisa diteriman, kita harus mewujudkan takwa dalam ibadah itu. Jangan berfikir saat kita beribadah maka otomatis diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak seperti demikian, Allah memiliki aturan main. Dan salah satu bentuk takwa yang harus diwujudkan dalam ibadah kita adalah niat yang benar. Hendaknya kita tidak mengharap dari ibadah kita kecuali hanya pahala dari Allah azza wa jalla saja.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ …

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya …” (QS. Al-Bayyinah[98]: 5)

Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah pernah mengatakan,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Al Ikhlas wan Niyyah).

Amalan yang besar jika niatnya salah, maka amalan yang agung itu bisa menjadi ibadah yang kecil bahkan bisa membuat pelakunya disiksa oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Contohnya adalah yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

Baca Juga:  Hukum Azl (Menumpahkan Sperma diluar Kemaluan Istri)

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. Muslim no. 1905)

Hadits di atas menunjukkan bahwa gelar-gelar duniawi yang sudah kita raih tidak ada gunanya kalau kita tidak ikhlas dalam ibadah dan amalan kita. Tiga amalan yang sangat agung. Berjihad, mempelajari ilmu agama dan membaca al-Qur’an, juga bersedekah. Namun karena niat yang salah, ibadah-ibadah itu tidak memberikan pahala untuk pelakunya tapi justu malah membuat mereka disiksa dineraka. Inilah yang dimaksudkan oleh Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah di atas.

Sebagian ulama salaf diriwayatkan pernah mengatakan bahwa siapa yang ingin sempurna amalannya, hendaknya ia memperbaiki niatnya. Karena Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pahala kepada seseorang jika baik niatnya sampai pada sesuap nasi yang dia makan. Makan adalah kebutuhan biologis kita. Setiap kita butuh makan. Dan banyak diantara umat Islam ketika makan tidak berfikir bahwa itu berpahala. Adapun orang-orang shalih, para ulama dan kaum muslimin yang cerdas, mereka mengharapkan pahala dari Allah dalam hal-hal yang tidak disangka-sangka. Makan pun mereka niatkan untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Yaitu dengan meniatkan agar makan yang dia lakukan adalah sebagai bentuk bersiap untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla, menguatkan diri agar bisa beribadah dengan baik kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Misalnya ketika hendak sarapan dia niatkan dalam hatinya, “Ya Allah, aku sarapan pagi ini sebelum berangkat ke kantor agar tidak ngantuk di kantor, agar saya bisa menjalankan tugas dengan baik, agar saya bisa menjalankan amanah yang diberikan oleh atasan saya dengan baik.” Karena menjalankan ibadah dalam Islam, maka sarapannya pun bernilai ibadah.

Baca Juga:  Hikmah Dalam Berdakwah - Ringkasan Daurah Syar’iyyah Bersama Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaly

Seorang siswa yang hendak berangkat sekolah dan sarapan terlebih dahulu. Kemudian dia katakan dalam hatinya, “Ya Allah, aku sarapan pagi ini agar bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Karena saya harus menjaga adab penuntut ilmu. Saya tidak ngantuk di depan guru saya. Saya tidak boleh kelihatan lemas didepan dosen saya, maka saya sarapan pada pagi hari ini agar bisa mengikuti pelajaran dengan baik.” Maka mahasiswa atau siswa itu mendapatkan pahala disisi Allah subhanahu wa ta’ala dari makan dan minumnya.

Sebagian ulama lagi pernah mengatakan bahwa mereka mengharapkan pahala dari tidur mereka sebagaimana mereka mengharapkan pahala dari shalat malam mereka. Orang yang mengharapkan pahala dari shalat malam, itu sudah umum. Yang tidak biasa adalah jika seseorang mengharapkan pahala dari tidurnya. Karena tidur pada dasarnya bukan ibadah. Tidur adalah kebutuhan badan kita. Namun sebagian mereka mengakan bahwa ini mereka harapkan pahala darinya. Contohnya adalah ketika seseorang ingin tidur malam lalu dia mengatakan dalam hatinya, “Aku akan segera tidur malam ini karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan demikian. Tidak ada alasan untuk begadang, maka saya segera tidur. Dengan harapan agar nanti dimalam hari saya bisa bangun untuk shalat malam.”

Lihatlah, bisa jadi semua orang sama-sama tidur. Tapi sebagian lagi tidur begitu saja tanpa mengolah hati mereka terlebih dahulu, tanpa berusaha untuk mencari pahala dari tidurnya. Sementara sebagian umat Islam yang cerdas menjadikan tidur mereka sebagai jalan untuk meraih pahala disisi Allah subhanahu wa ta’ala. Yang membedakan dari keduanya adalah amalan yang sangat sederhana. Bahkan amalan yang tidak membutuhkan gerakan tangan atau hentakan kaki. Tapi cukup dengan mengolah hati sebelum tidur.

Kalau akhirnya dimalam hari bisa bangun untuk shalat malam, maka dia akan mendapatkan pahala yang sempurna. Adapun jika ternyata dia tidak bisa shalat malam, maka paling tidak dia sudah mendapatkan pahala niat.

Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download mp3 Ceramah Agama Islam Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Pencarian: hadits arbain pdf, hadits arbain ke 1, hadits arbain nawawi ke 2, hadits arbain adalah, hadits arbain ke 5, syarah hadits arbain, hadits arbain ke 4, hadits arbain no 1, hadits arbain pdf, hadits arbain ke 1, hadits arbain nawawi ke 2, hadits arbain adalah, hadits arbain ke 5, syarah hadits arbain, hadits arbain ke 4, hadits arbain no 1, syarah hadits arbain, hadits arbain ke 4, hadits arbain no 1, hadits arbain pdf, hadits arbain ke 1, hadits arbain nawawi ke 2, hadits arbain adalah, hadits arbain ke 5, syarah hadits arbain, hadits arbain ke 4, hadits arbain no 1, syarah hadits arbain, hadits arbain ke 4, hadits arbain no 1, hadits arbain, hadits arbain, hadits arbain, hadits arbain, hadits arbain, hadits arbain, hadits arbain, hadits arbain, hadits arbain, hadits arbain

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.