Al-Bayan Min Qashashil Qur'an
Kisah Nabi Yunus ‘Alaihis Salam
Kisah Nabi Yunus ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 7 Dzulqa’dah 1446 H / 5 Mei 2025 M.
Kajian sebelumnya: Ubudiyah adalah Maqam Tertinggi
Kajian Tentang Kisah Nabi Yunus ‘Alaihis Salam
Nabi Yunus ‘Alaihis Salam adalah salah satu nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda tentang beliau:
لَا يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُوْلَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُوْنُسَ بْنِ مَتَّى
“Tidak sepatutnya bagi seorang hamba berkata bahwa aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.” (HR. Bukhari)
Nabi Yunus dikenal sebagai صَاحِبُ الْحُوتِ (sahibul-hūt), yaitu nabi yang pernah ditelan oleh ikan besar. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Qalam:
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah engkau seperti (Yunus) sahibul-hut, ketika dia berdoa dalam keadaan marah.” (QS. Al-Qalam [68]: 48)
Yunus juga disebut dalam Al-Qur’an sebagai ذَا النُّوْنِ (dzan-nūn). Allah Ta’ala berfirman:
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah.” (QS. Al-Anbiya [21]: 87)
Nama Yunus disebut dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali, dan dengan sifatnya sebanyak dua kali. Beliau adalah salah satu nabi dan rasul yang diutus oleh Allah. Allah berfirman:
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul.” (QS. As-Saffat [37]: 139)
Juga disebutkan dalam Surah An-Nisa dan Al-An’am, ketika Allah menyebutkan para nabi dan rasul. Di akhir ayat, Allah berfirman:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am [6]: 90)
Nabi Yunus diutus kepada penduduk Ninawa, sebuah wilayah di sekitar Mosul, Irak. Beliau menyeru kaumnya kepada tauhid, ketika syirik dan penyembahan berhala telah menyebar luas di tengah mereka. Meskipun beliau telah berdakwah dengan berbagai cara, kaumnya tetap dalam kekafiran dan pembangkangan. Mereka bahkan mengolok-olok beliau, sebagaimana kebiasaan orang-orang yang diberi kemewahan terhadap para nabi.
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ
“Dan Kami tidak mengutus seorang pemberi peringatan ke suatu negeri pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.'” (QS. Saba [34]: 34)
Hal yang sama disebutkan pula dalam Surah Az-Zukhruf:
وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad) seorang pemberi peringatan pun ke suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami tetap mengikuti jejak mereka.'” (QS. Az-Zukhruf [43]: 23)
قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ ۖ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ
“Dia (Rasul) berkata, ‘Apakah (kalian akan tetap mengikuti nenek moyang kalian) meskipun aku membawa kepada kalian petunjuk yang lebih baik daripada apa yang kalian dapati dari nenek moyang kalian?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari ajaran yang kalian bawa.'” (QS. Az-Zukhruf [43]: 24)
Nabi Yunus tetap menyeru mereka kepada tauhid, tetapi mereka terus-menerus ingkar. Akhirnya, beliau meninggalkan kaumnya sebelum mendapat izin dari Allah untuk pergi. Beliau juga memperingatkan mereka akan datangnya azab dalam waktu tiga hari.
Nabi Yunus ‘Alaihis Salam keluar dari kaumnya dalam keadaan murka. Kemurkaan ini sebenarnya wajar. Mengapa? Karena beliau ingin kaumnya menjadi orang-orang yang mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya, namun mereka menolak dan tidak mau mengikuti dakwah beliau.
Maka wajar jika Nabi Yunus murka. Namun, kesalahan beliau bukan pada kemarahannya, melainkan karena keluar dari kaumnya sebelum mendapat izin dari Allah. Itu saja persoalannya. Nabi Yunus meninggalkan kaumnya, dan dalam hal ini beliau mengira Allah tidak akan menyempitkan kehidupannya dengan sebab kepergiannya itu.
Allah berfirman:
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan murka, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyempitkannya. Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 87)
Frasa نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ dalam ayat ini dimaknai yudhayyiq (menyempitkan atau menyulitkan). Artinya, Nabi Yunus menyangka Allah tidak akan menyempitkan kehidupannya akibat tindakan tersebut.
Namun, apa yang terjadi setelah itu? Kaumnya Nabi Yunus bertaubat. Ketika Nabi Yunus keluar dari tengah-tengah mereka, kaumnya meyakini bahwa azab pasti akan menimpa mereka, karena mereka tahu bahwa seorang nabi tidak pernah berdusta.
Ini menunjukkan adanya kelebihan pada diri mereka: mereka tahu bahwa para nabi tidak mungkin berdusta. Mereka berkata, “Tiga hari lagi azab akan turun,” sehingga mereka menjadi takut. Lalu Allah memasukkan ke dalam hati mereka perasaan taubat.
Mereka pun menyesali perbuatan mereka terhadap Nabi mereka. Mereka mengganti pakaian mereka dengan yang kasar, meninggalkan pakaian mewah. Lalu mereka memisahkan antara induk hewan dengan anak-anaknya. Ketika anak-anak hewan dipisahkan dari induknya, mereka menjerit, seperti anak ayam atau anak kucing yang dipisahkan dari induknya.
Semua orang menangis—laki-laki, wanita, anak-anak, bahkan hewan ternak pun ikut menjerit. Binatang-binatang meringkik, menjerit seperti sedang ketakutan. Suasana saat itu sangat mengerikan.
Apa yang kemudian terjadi ketika mereka benar-benar bertaubat? Maka Allah, dengan daya, kekuatan, kelembutan, dan kasih sayang-Nya, mencabut azab dari mereka. Padahal azab itu sebenarnya sudah mendekat, sudah meliputi mereka, bagaikan potongan malam yang gelap pekat di atas kepala mereka. Seandainya mereka tidak bertaubat, pastilah mereka akan binasa.
Allah berfirman:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
“Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami singkapkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan hingga waktu tertentu.” (QS. Yunus [10]: 98)
Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa Allah mencabut azab dari kaum Nabi Yunus karena mereka bertaubat dan beriman. Namun, taubat dan iman hanya bermanfaat selama belum datangnya kematian atau azab. Ketika nyawa sudah sampai di tenggorokan, taubat sudah tidak berguna lagi. Maka, marilah kita segera bertaubat sebelum ajal menjemput.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Kisah Nabi Yunus ‘Alaihis Salam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




