Renovasi Masjid

Al-Bayan Min Qashashil Qur'an

Ubudiyah adalah Maqam Tertinggi

By  |  | https://rodja.id/5m6

Ubudiyah adalah Maqam Tertinggi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 28 April 2025 M / 29 Syawwal 1446 H.

Kajian sebelumnya: Wanita Shalihah Perhiasan Terbaik Dunia

Kajian Tentang Ubudiyah adalah Maqam Tertinggi

Faedah keempat yang akan kita bahas adalah: Penghambaan (ubudiyah) adalah kedudukan yang paling mulia yang dicapai oleh seorang hamba.

Ubudiyah adalah penghambaan, dan penghambaan ini merupakan maqam tertinggi. Dengan penghambaan inilah seseorang menjadi mulia. Untuk mencapai derajat ini tidaklah mudah, tetapi sangat berharga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditawari menjadi raja, namun beliau menolaknya. Beliau hanya ingin menjadi hamba Allah.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika menginginkan kekuasaan atau harta, bisa saja mendapatkannya. Namun beliau lebih memilih hidup sebagai hamba Allah, hidup apa adanya. Inilah kenikmatan yang sesungguhnya—menjadi hamba Allah membuat hati lebih tenang dan membawa harapan besar untuk kebahagiaan di akhirat.

Hidup sebagai hamba Allah membuat seseorang tidak stres. Duduk dan mengajar ilmu semampunya, tanpa perlu memaksakan diri. Jika tidak tahu, katakan tidak tahu. Jika mampu, ajarkan sebagai amanah. Tidak perlu memikirkan retorika atau bagaimana cara menyampaikan secara berlebihan. Yang penting adalah keikhlasan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitu juga dalam profesi apa pun—pegawai, petani, atau yang lainnya—selama seseorang menjadi hamba Allah, maka itulah kedudukan tertinggi. Maka dari itu, mari kita berusaha menjadi hamba Allah yang sejati.

Disebutkan dalam kisah Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam, beliau adalah sosok yang sangat mengenal Rabb-nya dalam keadaan lapang maupun sempit. Dalam kondisi lapang, beliau bersyukur atas nikmat Allah. Dalam kesulitan, beliau bersabar atas takdir Allah.

Karena itulah Allah memuji Nabi Ayyub dalam firman-Nya:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia suka kembali (kepada Allah).” (QS. Shad [38]: 44)

Allah juga berfirman:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ

“Dan ingatlah hamba Kami, Ayyub.” (QS. Shad [38]: 41)

Perhatikan bagaimana Allah menyifati Nabi Ayyub sebagai “hamba” (ʿabd). Ini adalah pujian yang sangat tinggi.

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disifati oleh Allah dengan sifat ubudiyah pada momen-momen termulia dalam hidup beliau—di saat Isra Mikraj, saat diturunkan Al-Qur’an, dan ketika beliau berdakwah kepada umat manusia. Allah memuji beliau dengan sebutan “hamba”.

Di sini disebutkan yang pertama adalah maqam ketika peristiwa Isra Mikraj. Allah menyebutkan hal ini dalam Surah Al-Isra ayat pertama. Allah berfirman:

سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَى ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra [17]: 1)

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari. Disebut bi’abdihi (hamba-Nya). Maka Allah menyifati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sifat ubudiyah, yaitu sebagai hamba, dalam peristiwa yang luar biasa ini: Isra.

Kemudian setelah itu Mikraj, diangkat ke langit yang ketujuh, di tempat tertinggi. Tidak ada tempat yang lebih tinggi setelah itu. Di sana beliau menerima perintah ibadah yang tertinggi, yaitu shalat. Maka maqam ini adalah maqam yang sangat luar biasa, peristiwa Isra Mikraj. Dan Allah menyifati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sebutan ‘abd (hamba).

Kemudian yang kedua, maqam dakwah. Ketika berdakwah, Allah berfirman dalam Surah Al-Jin ayat 19:

وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبْدُ ٱللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا۟ يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًۭا

“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri menyembah-Nya, mereka hampir-hampir mengerumuninya.” (QS. Al-Jin [72]: 19)

Di sini disebutkan juga ‘abdullāh (hamba Allah). Ini adalah sifat bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kemudian yang ketiga adalah maqam tahaddi (tantangan). Ini adalah tantangan dari Allah. Terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 23. Maksudnya, Allah menantang orang-orang kafir, yang tidak beriman kepada Al-Qur’an, untuk mendatangkan yang semisal dengannya.

Dalam Al-Qur’an terdapat tiga bentuk tantangan. Yang pertama, Allah menantang mereka untuk mendatangkan yang semisal dengan seluruh isi Al-Qur’an. Al-Qur’an terdiri dari 114 surah, dari awal sampai akhir. Adakah yang bisa mendatangkan yang serupa? Tidak ada yang sanggup.

Di Surah Al-Isra juga Allah menyebutkan:

قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍۢ ظَهِيرًۭا

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang semisal dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.'” (QS. Al-Isra [17]: 88)

Manusia dan jin berkumpul. Apakah mereka sanggup membuat yang serupa dengan Al-Qur’an? Tidak. Meskipun mereka saling membantu satu sama lain. Padahal kekuatan jin luar biasa. Namun tetap, Allah menegaskan bahwa jika mereka semua berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an, mereka tidak akan sanggup.

Kemudian Allah menurunkan tantangan itu menjadi sepuluh surah dalam Surah Hud, dan tetap saja mereka tidak mampu menjawabnya. Lalu Allah turunkan tantangan itu menjadi satu surat dalam Surah Al-Baqarah ayat 23:

﴿وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍۢ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍۢ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ﴾

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat yang semisal dengan (Al-Qur’an) itu, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 23)

Perhatikan kata عَبْدِنَا (hamba Kami). Yang dimaksud di sini adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah menyifatinya dengan sifat kehambaan. Maka sudah semestinya kita pun rida menjadi hamba Allah.

Tantangan itu masih terbuka hingga hari ini. Dan sampai sekarang, tidak ada satu pun yang mampu menjawab tantangan tersebut.

Lihat ayat setelahnya:

﴿فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ وَلَن تَفْعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَـٰفِرِينَ﴾

“Jika kamu tidak mampu membuatnya — dan pasti kamu tidak akan mampu — maka takutlah kamu akan neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 24)

Kalimat “walan taf‘alū” (وَلَن تَفْعَلُوا۟) — dan kamu tidak akan pernah sanggup — merupakan pernyataan yang sangat kuat dari sisi balaghah (keindahan bahasa Arab). Kalimat ini tidak mungkin diucapkan oleh manusia biasa, karena merupakan bentuk kepastian yang hanya pantas diucapkan oleh Rabbul Alamin.

Ada orang yang ketika membaca ayat ini, langsung masuk Islam karena memahami kekuatan maknanya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Ubudiyah adalah Maqam Tertinggi” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses