Fiqih Pendidikan Anak
Mendidik Anak Agar Selektif Memilih Teman
Mendidik Anak Agar Selektif Memilih Teman ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Dzulqa’dah 1446 H / 12 Mei 2025 M.
Kajian Tentang Mendidik Anak Selektif Memilih Teman
Alhamdulillah, kita kembali mengkaji fiqih pendidikan anak. Kali ini memasuki serial nomor 209 dengan tema Mendidik Anak Selektif Memilih Teman.
Mengapa tema ini perlu diangkat? Karena secara fitrah, manusia tidak bisa hidup sendirian. Ia selalu membutuhkan orang lain, membutuhkan lingkungan untuk berkomunikasi, curhat, dan saling mendukung satu sama lain.
Hubungan antarmanusia sangat beragam: ada hubungan persaudaraan, pekerjaan, bisnis, dan pertemanan. Di antara hubungan yang sangat berharga adalah hubungan pertemanan atau persahabatan.
Apa itu pertemanan?
Pertemanan adalah ikatan antara dua orang yang biasanya dilandasi kebaikan hati, kesetiaan, dan kejujuran. Hal ini sering kali terjadi karena adanya persamaan, misalnya persamaan daerah—sama-sama dari Purbalingga, atau persamaan almamater—lulusan SMA yang sama, atau persamaan tempat pengajian—sama-sama mengikuti kajian di Manarul, atau memiliki hobi yang serupa seperti dolan (jalan-jalan) atau gowes (bersepeda).
Pertemanan biasanya tumbuh dari persamaan. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika persamaan itu berada dalam perkara yang tidak baik. Misalnya, berteman karena sama-sama menyukai minuman keras atau judi. Ini sangat berbahaya.
Idealnya, pertemanan terbentuk atas dasar kesamaan dalam kebaikan. Contohnya, berteman karena sama-sama suka mengikuti kajian di Radio Insani. Pertemanan yang dibangun di atas kebaikan seperti inilah yang akan kekal dan abadi.
Sebagaimana disampaikan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dalam Al-Qur’an:
ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu (kiamat) sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)
Kalimat ٱلْأَخِلَّآءُ berarti teman-teman akrab, يَوْمَئِذٍۢ artinya pada hari kiamat, dan بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ berarti mereka akan berubah menjadi musuh. Padahal di dunia, mereka adalah teman dekat. Mengapa bisa demikian? Karena pertemanan itu tidak dibangun di atas kebaikan.
Ayat tersebut ditutup dengan إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ, artinya: kecuali orang-orang yang bertakwa. Jika pertemanan dibangun atas dasar ketakwaan—sama-sama senang salat, puasa, mengaji, dan bersedekah—maka itulah pertemanan yang akan kekal hingga akhirat.
Sebaliknya, pertemanan yang tidak dilandasi ketakwaan akan sirna, bahkan sering kali belum sampai akhirat sudah berakhir lebih dahulu. Banyak pertemanan yang hancur karena pengkhianatan. Padahal di dunia mereka sangat akrab, tetapi kemudian salah satu mengkhianati yang lain—entah dengan menipu, mencuri barang, atau menyakiti keluarganya. Na‘ūdzubillāhi min dzālik.
Kita sering mendengar kejadian-kejadian semacam itu. Tak sedikit orang tua mengeluh, “Mengapa anak saya berubah seperti ini? Padahal dulu rajin mengaji, rutin ikut TPQ, dan shalat lima waktu tidak pernah terlambat.” Sekarang? Na‘udzubillahi min dzalik, disuruh shalat pun sangat sulit.
Dulu ketika dinasihati, anak itu menjawab dengan lembut. Namun sekarang, saat dinasihati orang tuanya, malah membalas dengan kata-kata yang kasar. Bahkan ada yang menjawab, “Berisik!” Padahal orang tua menasihatinya dengan baik.
Setelah ditelusuri, salah satu penyebab utama perubahan itu adalah kesalahan dalam memilih teman.
Maka mendidik anak sangat penting untuk selektif dalam memilih teman adalah hal yang sangat penting. Karena itulah tema ini diangkat. Teladan utama dalam hal ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bagaimana cara beliau mendidik anak-anak agar selektif dalam memilih teman?
Terdapat dua langkah utama yang bisa diikuti dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mendidik anak untuk selektif dalam pertemanan.
Langkah Pertama: Menjelaskan Efek Pertemanan
Langkah pertama adalah menjelaskan efek dari pertemanan—baik itu dampak positif maupun negatif, buah manis maupun pahit. Semua itu tergantung dengan siapa seseorang menjalin pertemanan.
Jika berteman dengan orang yang baik, maka efeknya akan positif, buahnya manis, dan dampaknya baik. Sebaliknya, jika berteman dengan orang yang tidak baik, maka efeknya negatif dan buahnya pahit.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan efek pertemanan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Dalam hadits tersebut, beliau membuat perumpamaan:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjual minyak wangi adalah perumpamaan bagi teman yang baik, sedangkan pandai besi mewakili teman yang buruk. Perlu dipahami, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak sedang menjelaskan hukum bekerja sebagai penjual minyak wangi atau pandai besi. Kedua pekerjaan itu diperbolehkan dalam Islam. Yang beliau sampaikan adalah perumpamaan tentang karakter teman dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita mulai dengan menelaah perumpamaan penjual minyak wangi. Dalam kelanjutan hadits disebutkan:
فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً
“Penjual minyak wangi, bisa jadi dia memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mencium aroma harum darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitulah perumpamaan teman yang baik. Ia akan memberi manfaat, meskipun tidak selalu dalam bentuk materi. Bisa jadi manfaat itu berupa ilmu, nasihat, semangat, atau kebaikan akhlak yang menular.
Contohnya, ketika seseorang sedang mengalami kesulitan ekonomi dan teman yang baik menyadarinya, maka tanpa diminta, ia mungkin langsung membantu. Bantuan itu tidak selalu berupa uang. Bisa jadi berupa motivasi, solusi, atau sekadar kehadiran yang menenangkan.
Teman seperti inilah yang layak dijadikan sahabat sejati—teman yang membawa kebaikan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kemungkinan pertama: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ“Bisa jadi ia akan memberimu (minyak wangi).” Artinya, kita langsung mendapat manfaat berupa pemberian. Seperti halnya jika seseorang berteman dengan penjual minyak wangi, ia bisa saja mendapatkan minyak wangi secara cuma-cuma. Ini menggambarkan teman yang baik yang langsung memberi kebaikan kepada temannya, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga ilmu dan perhatian.
Misalnya seseorang berteman dengan teman yang baik, maka hari itu juga ia bisa langsung mendapat ilmu. Contohnya, ketika seseorang minum dengan tangan kiri, lalu temannya segera menegurnya, “Lho, kok pakai tangan kiri? Ayo dong, minum dengan tangan kanan.” Itu merupakan manfaat yang langsung dirasakan.
Kemungkinan kedua: أَوْ تَبْتَاعَ مِنْهُ“Atau engkau membelinya darinya.” Kalaupun tidak diberi secara gratis, ia bisa membeli dengan harga lebih murah karena kedekatan. Misalnya, harga Rp100.000 bisa menjadi Rp100.000 untuk dua botol karena diskon. Maka, berteman dengan orang baik akan memberi akses terhadap hal-hal yang bermanfaat dan terjangkau, termasuk informasi yang jujur dan produk yang berkualitas.
Kemungkinan ketiga: أَوْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً“Atau engkau mendapatkan bau harum darinya.” Jika tidak mendapatkan pemberian atau membeli, maka minimal akan tertular aroma harum dari toko minyak wangi tersebut. Begitu juga dengan teman yang baik. Saat bergaul dengannya, kesan positif dapat menular. Misalnya, seseorang hanya terlihat berjalan bersama ustadz, langsung muncul kesan bahwa ia adalah orang baik, padahal hanya kebetulan bertemu. Inilah efek dari berteman dengan orang shalih.
Perumpamaan ini menunjukkan betapa besarnya dampak pertemanan. Teman yang baik seperti penjual minyak wangi: meskipun tidak memberi secara langsung, tetap ada manfaat yang bisa dirasakan.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Mendidik Anak Selektif Memilih Teman” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




