Fiqih Pendidikan Anak
Mendidik Anak Menghormati Orang Tua
Mendidik Anak Menghormati Orang Tua ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 28 Dzulqa’dah 1446 H / 26 Mei 2025 M.
Kajian Tentang Mendidik Anak Menghormati Orang Tua
Salah satu adab yang mulai luntur di tengah masyarakat kita adalah menghargai, memuliakan, dan menghormati orang yang lebih tua. Padahal, ini adalah ajaran yang sangat ditekankan dalam agama Islam. Muncul pertanyaan: mengapa Islam mengajarkan kita untuk menghormati orang yang lebih tua? Jawabannya, karena orang yang lebih tua terutama guru atau orang tua umumnya adalah sosok yang memiliki pengalaman, pengorbanan, dan jasa yang besar. Jasa tersebut diberikan kepada yang lebih muda. Jika ia seorang guru, berarti jasanya diberikan kepada muridnya. Jika ia orang tua, maka jasanya besar terhadap anaknya. Jika ia seorang kakak, maka ia berjasa kepada adiknya. Orang yang lebih tua umumnya memiliki pengalaman yang lebih luas dan jasa yang lebih besar. Dalam Islam, kita diajarkan untuk tidak melupakan kebaikan orang lain.
Oleh karena itu, seseorang yang tidak tahu balas budi dan tidak menghargai jasa, adalah orang yang rendah akhlaknya. Jadi, alasan mengapa Islam mengajarkan kita untuk menghormati orang yang lebih tua adalah sebagai bentuk upaya agar kita tidak melupakan kebaikan dan jasa mereka. Maka, adab menghormati orang yang lebih tua seharusnya diajarkan kepada anak-anak kita, kepada putra-putri kita, sejak dini.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sekurang-kurangnya menempuh dua langkah ketika menanamkan adab ini kepada para sahabatnya. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
Langkah pertama adalah mengajarkan pentingnya menghormati orang yang lebih tua. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak menanamkan sebuah adab, beliau terlebih dahulu mengajarkan landasan teorinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami dan tidak menghormati yang lebih tua.” (HR At Tirmidzi)
Dalam kehidupan, ada dua jenis manusia jika dilihat dari umur, yaitu orang yang lebih tua dan orang yang lebih muda. Islam mengajarkan kita untuk memiliki sikap yang benar terhadap keduanya. Kepada yang lebih muda, kita diajarkan untuk menyayangi. Sementara kepada yang lebih tua, kita diajarkan untuk menghormati dan memuliakan.
Sikap ini adalah bagian dari adab yang ditanamkan dalam Islam. Bahkan, adab ini menjadi salah satu tolok ukur kelayakan seseorang untuk termasuk ke dalam umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Artinya, jika seseorang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua, maka ia tidak layak untuk digolongkan sebagai umat beliau.
Oleh karena itu, adab ini benar-benar harus kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak bisa hanya menyuruh anak-anak kita untuk menghormati yang lebih tua atau menyayangi yang lebih muda, sementara kita sendiri tidak memberi teladan. Kita harus menjadi contoh terlebih dahulu bagi anak-anak kita, sebelum meminta mereka untuk mempraktikkan adab tersebut. Maka kita harus tanamkan adab ini kepada anak kita sejak dini.
Langkah kedua adalah mendidik langsung melalui situasi nyata. Jika langkah pertama lebih dekat pada aspek teori, maka langkah kedua ini adalah penerapannya dalam praktik. Jadi, tidak cukup hanya memahami teori semata. Setelah memahami teori, hal itu harus dipraktikkan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggunakan dua pendekatan ini: pertama, dengan menjelaskan teorinya; dan kedua, dengan memperagakannya secara langsung di hadapan para sahabat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, ia berkata: Abdurrahman bin Sahl, Harits bin Sahl, dan Huwaiyishah bin Mas’ud datang menghadap kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ketika mereka telah masuk, Abdurrahman yang lebih muda mulai berbicara. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كَبِّرْ، كَبِّرْ.
“Yang lebih tua, yang lebih tua (dahulukan berbicara).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur langsung Abdurrahman bin Sahl Radhiyallahu ‘Anhu. Mengapa? Karena ia yang lebih muda berbicara terlebih dahulu. Padahal ada yang lebih tua, yaitu Muhaiyisah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu. Secara etika, seharusnya yang berbicara lebih dahulu adalah yang lebih tua. Inilah bentuk penghormatan terhadap yang lebih tua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya mengajarkan adab ini dalam bentuk teori, tetapi juga melalui praktik nyata. Teori memang penting. Akan tetapi, yang lebih penting dari teori adalah praktik nyata.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Mendidik Anak Menghormati Orang Tua” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv






