Fiqih Pendidikan Anak
Mendidik Anak Memuliakan Tetangga
Mendidik Anak Memuliakan Tetangga ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 13 Dzulhijjah 1446 H / 9 Juni 2025 M.
Kajian Tentang Mendidik Anak Memuliakan Tetangga
Manusia diciptakan oleh Allah Subḥanahu wa Ta‘ala sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial yaitu makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Mau tidak mau, manusia harus berinteraksi dengan orang lain. Bahkan orang kaya sekalipun walaupun hartanya melimpah tidak bisa hidup sendiri. Jadi, tidak ada manusia yang bisa hidup sendirian karena Allah telah menakdirkan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia harus berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang yang diajak berinteraksi pun beragam, salah satunya adalah tetangga.
Karena tetangga adalah orang yang senantiasa kita jumpai dan berinteraksi dengannya setiap hari, maka Islam memberikan perhatian yang besar terhadap hak, adab, dan etika dalam bertetangga. Apabila seseorang menghadapi suatu masalah, maka yang pertama kali direpotkan biasanya adalah tetangga. Meskipun tetangga itu bukan seorang pejabat, bukan pemilik perusahaan, dan bukan pula orang yang memiliki kedudukan tinggi, tetap saja merekalah yang paling dekat dan pertama kali dimintai bantuan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menanamkan kepada anak-anak sejak dini nilai-nilai bertetangga. Tujuannya agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan mampu hidup bermasyarakat dengan baik. Anak-anak kita hari ini, hidup di tengah perkembangan media sosial yang sangat masif. Hampir setiap anak kini memiliki gadget. Namun, dampak dari hal ini, sering kali mereka justru kesulitan berkomunikasi dengan orang lain. Apa buktinya? Ketika mereka bertemu dengan teman-temannya, mereka tidak saling berbincang. Justru masing-masing sibuk dengan telepon genggamnya sendiri.
Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, anak-anak kita perlu diajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain secara baik, terutama dalam hal berinteraksi dengan tetangga. Lalu, bagaimana caranya? Mari kita ikuti langkah-langkah yang diajarkan oleh Nabi kita Muḥammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam hal ini, terdapat tiga poin penting yang menjadi arahan beliau terkait adab dan aturan hidup bertetangga.
Poin pertama: Memuliakan tetangga.
Sebelum membahas makna memuliakan tetangga, mari kita sampaikan terlebih dahulu dalilnya. Dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَه
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Muslim)
Salah satu tanda seseorang beriman kepada Allah dan hari akhir adalah memuliakan tetangganya. Dengan demikian, apabila seseorang tidak memuliakan tetangganya, berarti belum beriman kepada Allah dan hari akhir. Salah satu bentuk pembuktian iman kepada Allah dan hari akhir adalah dengan memuliakan tetangga. Selama seseorang belum memuliakan tetangganya, maka ia belum dianggap beriman kepada Allah dan hari akhir. Lalu, bagaimana cara memuliakan tetangga? Kalimat memuliakan tetangga memiliki cakupan makna yang luas. Segala bentuk tindakan dalam rangka memuliakan tetangga, selama tidak bertentangan dengan syariat, termasuk dalam apa yang diperintahkan oleh Nabi Muḥammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Contoh memuliakan tetangga adalah dengan berbuat baik kepada mereka. Berbuat baik kepada tetangga tidak harus selalu dengan materi. Bentuk paling sederhana dari kebaikan kepada tetangga yang tidak memerlukan biaya adalah senyum, selain itu kita juga bisa menjenguk tetangga yang sedang terkena musibah, membantu tetangga, menjaga kehormatan tetangga, dan menasehati tetangga dengan cara yang baik.
Poin kedua: Berbagi makanan dengan tetangga.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
“Jika engkau memasak daging, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian berbagilah kepada para tetanggamu.” (HR. Muslim)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita sesuatu yang minimal dapat kita kerjakan. Jika daging yang dimasak hanya sedikit dan hanya cukup untuk anggota keluarga di rumah, maka paling tidak kita tetap bisa berbagi dengan hal yang tidak membutuhkan pengeluaran besar contohnya memperbanyak kuah sehingga kita bisa berbagi dengan tetangga.
Bagaimana cara melibatkan anak-anak kita dalam poin yang kedua ini? Salah satu caranya adalah dengan meminta mereka untuk mengantarkan makanan kepada tetangga. Lebih baik lagi jika anak-anak juga dilibatkan dalam proses memasaknya. Ini adalah salah satu cara membiasakan anak untuk berbagi. Ketika anak sejak kecil dilatih, walaupun hanya sekadar mengantarkan makanan, hal itu bisa menjadi pengalaman yang akan dikenangnya seumur hidup. Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak dini. Makanan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyampaikan sebuah pernyataan bahwa “orang yang kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, maka dia bukan orang yang beriman.”
Jadi, apabila seseorang kenyang sementara ia mengetahui bahwa tetangganya sedang kelaparan, namun tetap bersikap cuek dan abai, maka orang tersebut dianggap oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai orang yang tidak beriman. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ
“Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, dan ia mengetahuinya.” (HR. At Ṭabarani dalam al-Mu‘jam al-Kabīr)
Bagaimana cara kita mengetahui bahwa tetangga sedang kelaparan? Caranya adalah dengan melatih diri untuk memiliki kepekaan. Kita bisa memperhatikan apakah di dapurnya ada aktivitas memasak atau tidak. Atau kita bisa memperhatikan tetangga kita apakah ia lesu atau lemas karena kelaparan. Maka, kita harus peduli. Kepekaan sosial perlu diasah, terutama ketika melihat adanya perubahan mencolok pada fisik tetangga. Misalnya, biasanya ia tampak segar dan berisi, tetapi kini tampak kurus dan lemah. Mungkin saja ia sedang tidak ada makanan di rumahnya. Dalam kondisi seperti itu, kita dianjurkan untuk berbagi.
Poin ketiga: Dilarang menyakiti tetangga.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.” (HR. Bukharī dan Muslim)
Jadi tandanya kita beriman kepada Allah dan hari akhir adalah ketika kita tidak menyakiti tetangga. Dan menykiti tetangga itu berbagai macam bentuknya. Contohnya: memutar musik dengan keras, merokok, bau septic tank, menutup akses jalan, parkir sembarangan, hewan peliharaan yang berkeliaran, dan masih banyak macam bentuk menyakiti tetangga. Di mana letak keimanan kita kepada Allah Subḥanahu wa Ta‘ala jika kita masih mengganggu tetangga kita? Tidak sepantasnya seorang mukmin menyakiti tetangganya. Ini adalah adab seorang muslim yang harus kita jaga.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Mendidik Anak Memuliakan Tetangga” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




