Renovasi Masjid

Al-Adabul Mufrad

Bab Menggerakkan Kepala dan Menggigit Kedua Bibir karena Keheranan

By  |  | https://rodja.id/5mk

Bab Menggerakkan Kepala dan Menggigit Kedua Bibir karena Keheranan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 14 Dzulqa’dah 1446 H / 12 Mei 2025 M.

Kajian Islam Tentang Bab Menggerakkan Kepala dan Menggigit Kedua Bibir karena Keheranan

Kita masuk ke Bab 432 dari kitab Al-Adab Al-Mufrad. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan: Bab Menggerakkan Kepala dan Menggigit Kedua Bibir karena Keheranan.

Maksudnya adalah menggerakkan kepala ke depan atau ke samping, serta menggigit kedua bibir saat merasa heran atau takjub terhadap sesuatu. Bab ini mirip dengan bab sebelumnya dan beberapa bab sesudahnya yang berkaitan dengan perkara-perkara mubah yang diperbolehkan. Tidak ada larangan dalam hal ini, bahkan sunnah Nabi menunjukkan kebolehan perbuatan tersebut. Dalam hal adab, ternyata perbuatan seperti ini dibolehkan, dan ada dalilnya.

Di bab ini, Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari seorang tabi’in, Abul ‘Aliyah. Ia berkata, “Aku bertanya kepada Abdullah bin Shamit, dan Abdullah bin Shamit berkata: Aku bertanya kepada kekasihku, Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu.”

Abu Dzar berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan membawa air untuk berwudhu.” Saat itu, ketika Abu Dzar membawa air, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggerakkan kepalanya dan menggigit kedua bibirnya.

Wallahu a‘lam, ada yang menggigit satu bibir, ada juga yang menggigit kedua bibir. Kita tahu dari bab ini bahwa hal itu dilakukan ketika seseorang sedang takjub atau heran terhadap sesuatu.

Melihat perubahan ekspresi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Dzar pun bertanya, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan untukmu, wahai Rasulullah. Apakah aku telah menyakitimu, wahai Rasulullah?”

Ini adalah adab Abu Dzar ketika melihat perubahan pada wajah dan sikap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia langsung bertanya, “Apakah aku menyakitimu? Mohon beri tahu aku.”

Terkadang, seseorang menyakiti saudaranya tanpa sadar. Namun, orang yang cerdas, ketika melihat perubahan sikap saudaranya, sepantasnya bertanya, “Ada apa? Sepertinya aku berbuat salah.”

Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Tidak, engkau tidak menyakitiku. Akan tetapi, engkau akan hidup dan menjumpai pemimpin-pemimpin yang mengakhirkan shalat sampai keluar dari waktunya.”

Padahal shalat adalah ibadah yang sudah ditetapkan waktunya. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا

Sesungguhnya shalat itu adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa’ [4]: 103)

Shalat Subuh berakhir saat matahari terbit. Zuhur berakhir saat masuk waktu Asar. Asar berakhir ketika matahari terbenam. Maghrib berakhir ketika mega merah menghilang. Isya sampai tengah malam. Meskipun ada waktu darurat setelah tengah malam hingga masuk waktu fajar.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan kepada Abu Dzar bahwa beliau mendapatkan wahyu dari Allah bahwa nanti akan ada pemimpin-pemimpin yang mengakhirkan shalat. Lalu Abu Dzar bertanya: “Apa perintahmu kepadaku, wahai Rasulullah?”

Ini menunjukkan semangat dan kesungguhan para sahabat dalam menegakkan agama Allah. Mereka ingin tahu apa yang harus dilakukan ketika melihat kemungkaran dari pemimpin, seperti mengakhirkan waktu shalat.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

صلِّ الصَّلاةَ لوقتِها ، فإن أدرَكتَ معَهُم ، فَصلِّ ، ولا تقُلْ إنِّي صَلَّيتُ ، فلا أصلِّي

“Shalatlah kamu sendiri pada waktunya. Jika engkau mendapati mereka shalat, maka shalatlah bersama mereka. Jangan engkau berkata, ‘Aku sudah shalat, maka aku tidak perlu shalat lagi.’” (HR. Al-Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa dahulu para pemimpin terkadang menjadi imam dalam shalat, atau mereka mengatur rakyat untuk shalat bersama mereka. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi arahan: shalatlah di waktunya sendiri, kemudian jika mendapati mereka shalat, shalatlah bersama mereka. Shalat pertama adalah shalat wajib, sedangkan yang kedua menjadi shalat sunnah. Jangan berkata, “Aku sudah shalat.”

Arahan ini demi menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Jangan sampai timbul upaya mengkudeta pemimpin karena perbuatan seperti ini. Karena stabilitas negara harus dijaga, selama masih bisa ditoleransi. Maka jika bertemu dengan mereka saat mereka shalat, shalatlah bersama mereka. Salatmu yang kedua adalah sunnah.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, namun dengan tambahan kisah.

Disebutkan bahwa Ibnu Ziyad mengakhirkan waktu shalat. Ibnu Ziyad pernah menjadi gubernur di Irak. Saat itu, Abul ‘Aliyah menyebutkan bahwa Abdullah bin Shamit datang kepadanya. Ia memberikan kursi untuk diduduki Abdullah, lalu menyampaikan tentang perbuatan Ibnu Ziyad yang mengakhirkan shalat.

Mendengar itu, Abdullah bin Shamit menggigit bibirnya dan memukul paha Abul ‘Aliyah. Lalu ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Dzar sebagaimana engkau bertanya kepadaku.”

Abu Dzar juga memukul paha Abdullah bin Shamit sebagaimana dia memukul paha Abul ‘Aliyah. Lalu Abu Dzar berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana engkau bertanya kepadaku.” (HR. Muslim)

Subhanallah, ini adalah bentuk periwayatan hadits yang menyertakan sikap saat hadits itu disampaikan—dengan memukul paha orang yang bertanya, sebagaimana yang dilakukan sebelumnya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

https://soundcloud.com/radiorodja/20250512-ustadz-syafiq-riza

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Menggerakkan Kepala dan Menggigit Bibir karena Keheranan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses