Al-Adabul Mufrad
Bab Seseorang Memukul Paha Saudaranya Tanpa Berniat Buruk
Bab Seseorang Memukul Paha Saudaranya Tanpa Berniat Buruk adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 21 Dzulqa’dah 1446 H / 19 Mei 2025 M.
Kajian Islam Tentang Memukul Paha Saudaranya Tanpa Berniat Buruk
Al-Imam Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad, bab ke-434, menuliskan: “Bab seseorang memukul paha saudaranya dan tidak menginginkan keburukan.”
Artinya, boleh jadi seseorang memukul paha—bahkan mungkin punggung—saudaranya, namun tanpa maksud menyakiti. Ini bisa terjadi karena ekspresi keterkejutan atau heran terhadap sesuatu, atau dalam konteks mengajukan pertanyaan atau memberi peringatan. Yang penting diperhatikan adalah niatnya: tidak bertujuan menyakiti.
Dari Abul ‘Aliyah rahimahullah, seorang tabi’in, ia berkata: “Suatu hari, ‘Abdullah bin Shamit lewat di hadapanku. Aku melemparkan kursi untuknya agar ia duduk. Kemudian aku berkata kepadanya bahwa Ibnu Ziyad (gubernur saat itu), telah mengakhirkan waktu shalat. Mendengar hal itu, ‘Abdullah bin Shamit memukul pahaku. Perawi berkata, ‘Aku kira pukulannya cukup keras sampai terasa membekas.'”
Namun, ia tidak bermaksud menyakiti, hanya ingin menarik perhatian agar fokus terhadap apa yang disampaikan.
Lalu ‘Abdullah bin Shamit berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Dzar sebagaimana engkau bertanya kepadaku. Lalu Abu Dzar memukul pahaku sebagaimana aku memukul pahamu. Kemudian Abu Dzar berkata:
صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَ مَعَهُمْ فَصَلِّ وَلَا تَقُلْ إِنِّي صَلَّيْتُ فَلَا أُصَلِّي
“Shalatlah tepat pada waktunya. Jika engkau mendapati shalat berjamaah bersama mereka, maka shalatlah juga bersama mereka. Jangan berkata, ‘Aku sudah shalat, maka aku tidak perlu shalat lagi.'” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)
Dalam riwayat Shahih Muslim, redaksi hadits ini juga disebutkan dengan penegasan yang sama. Abu Dzar berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana engkau bertanya kepadaku, lalu beliau menepuk pahaku sebagaimana aku menepuk pahamu, dan beliau berpesan:
صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَ مَعَهُمْ فَصَلِّ وَلَا تَقُلْ إِنِّي صَلَّيْتُ فَلَا أُصَلِّي
“Tunaikanlah shalat tepat pada waktunya, jika kamu mendapati shalat bersama mereka, maka shalatlah (bersama mereka), jangan kamu katakan ‘Maaf, aku telah melakukan shalat, maka aku tak akan shalat lagi.'” (HR. Muslim)
Disebutkan dalam haditts yang dibawakan oleh Imam Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pergi bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beberapa sahabat menuju tempat Ibnu Sayyad. Ibnu Sayyad adalah seorang Yahudi, dan sebagian sahabat mengira bahwa ia adalah Dajjal yang akan keluar pada akhir zaman.
Ibnu Sayyad dikenal mengaku mengetahui hal-hal gaib sejak kecil, sebelum ia baligh. Ia seperti dukun yang bisa memberitahu barang-barang yang hilang atau meramal nasib. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berangkat menemuinya untuk menyingkap hakikat sebenarnya, agar umat tidak tertipu oleh Ibnu Sayyad.
Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai di dekat Ibnu Sayyad, ia sedang bermain bersama anak-anak lainnya di sebuah bangunan tinggi milik Bani Maghalah, salah satu benteng dari kabilah Anshar. Saat itu, Ibnu Sayyad hampir mencapai usia baligh, tetapi masih tergolong anak-anak.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatanginya tanpa sepengetahuannya. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di belakangnya, beliau memukul punggung Ibnu Sayyad. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Sayyad tidak mengetahui hal-hal ghaib. Seandainya ia tahu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada di belakangnya, tentu ia akan menyambut atau menemuinya. Namun ia tidak mengetahuinya, yang membuktikan bahwa klaimnya sebagai orang yang mengetahui perkara gaib adalah dusta.
Perlu dipahami bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memukul bukan untuk menyakitinya, tetapi untuk menunjukkan kepada para sahabat bahwa Ibnu Sayyad tidak mengetahui yang ghaib.
Setelah sadar akan kehadiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menawarkan kepada Ibnu Sayyad agar masuk Islam: “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”
Ibnu Sayyad memandang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menjawab: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah bagi orang-orang ummi (Arab yang tidak bisa membaca dan menulis).”
Kemudian Ibnu Sayyad balik bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah engkau juga bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”
Ini menunjukkan bahwa Ibnu Sayyad mengaku sebagai nabi, sebagai utusan Allah. Kita tahu bahwa siapa pun yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ia kafir dan pantas dihukum mati. Namun karena Ibnu Sayyad masih kecil dan berasal dari kaum Yahudi—yang mungkin saat itu terikat perjanjian dengan kaum Muslimin—maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengambil tindakan terhadapnya saat itu.
Namun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak tinggal diam. Beliau meremas tubuh Ibnu Sayyad dengan keras karena klaim dustanya itu, lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ
“Aku beriman kepada Allah dan kepada para rasul-Nya.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Dalam kondisi ketika seseorang mendengar ungkapan-ungkapan yang menyimpang—seperti klaim orang yang mengaku sebagai nabi, atau meninggalkan agama Allah ‘Azza wa Jalla, atau meremehkan agama ini—maka hendaknya ia mengatakan: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ (Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya).
Atau dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا (Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi).
Allah adalah tempat berlindung dan tempat mengadu dari berbagai fitnah dan kesesatan.
Bagaimana kelanjutan interaksi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan dengan Ibnu Sayyad dalam hadits ini? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Memukul Paha Saudaranya Tanpa Berniat Buruk” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




