Renovasi Masjid

Syarhus Sunnah Al-Barbahari

Musibah dan Ujian Meninggikan Derajat

By  |  | https://rodja.id/5mp

Musibah dan Ujian Meninggikan Derajat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 16 Dzulqa’dah 1446 H / 14 Mei 2025 M.

Kajian Islam Tentang Musibah dan Ujian Meninggikan Derajat

Imam Al-Barbahari Rahimahullahu Ta’ala mengatakan: “Kita wajib beriman bahwa apabila seseorang sakit, maka Allah akan memberinya pahala atas sakitnya itu” (Syarhusunnah Imam Al Barbahari)

Kita harus meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika menguji hamba-Nya, ketika memberikan musibah, ketika hamba Nya mengalami kesulitan, bahkan tertusuk duri, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

 مَا يُصِيبُ الْمَرْءَ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا غَمٍّ وَلَا أَذًى حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, gelisah, sedih, susah atau rasa sakit meski hanya duri yang menusuknya, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla akan menghapus kesalahannya.” (HR. Ahmad)

Rasa gelisah, rasa khawatir, rasa sedih, dan rasa gundah, itu semuanya, bagi orang yang beriman, apabila dihadapi dengan kesabaran, akan mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan disebutkan bahwasanya seorang yang mengalami banyak musibah di dunia ini, ketika dia melihat besarnya pahala di akhirat nanti, ia berharap musibah itu lebih berat lagi. Dan orang yang tidak banyak musibahnya sehingga tidak mendapatkan pahala atas kesabarannya, dia bersedih kenapa dahulu di dunia tidak mendapatkan hal tersebut.

Dan tentu saja, kita tidak boleh mengharap atau meminta agar diberi musibah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengajarkan kepada pamannya, Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau meminta agar diajarkan suatu doa langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan:

 يَا عَبَّاسُ ، يَا عَمَّ رسول اللهِ ، سَلُوا الله العَافِيَةَ في الدُّنيَا والآخِرَةِ

“Wahai ‘Abbas, paman Rasulullah, mintalah kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat.” (HR. At-Tirmidzi)

Karena itu, kita tidak boleh meminta datangnya musibah. Namun, ketika musibah itu datang, ketika penyakit menimpa, maka kita tidak boleh mengucapkan apa pun selain perkataan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ketika anak, putra, atau cucunya meninggal. Apa yang beliau ucapkan? Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

“Sesungguhnya mata ini berlinang air mata, hati ini bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami.” (HR Bukhari dan Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang, apabila ditimpa musibah, mereka berkata:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan kepada-Nya lah kita akan kembali.” (QS. Al-Baqarah[2]: 156)

Seluruh fasilitas yang kita dapatkan dari kesehatan, harta benda, tempat tinggal, kendaraan, ini semua milik Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila Allah ingin mengambilnya, maka sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepadaNya.

Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah doa yang, apabila dibaca saat tertimpa musibah, maka Allah akan memberikan ganti yang lebih baik. Doa tersebut adalah:

اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah, berilah aku ganjaran atas musibah ini, dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya.” (HR Muslim)

Ketika Abu Salamah meninggal dunia, maka Ummu Salamah berucap, “Laki-laki mana yang lebih baik dari Abu Salamah?” Tapi beliau tetap membaca doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan suaminya dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia terbaik.

Maka kita harus mengimani dan ini salah satu bentuk keyakinan yang harus diyakini bahwasanya seorang muslim apabila dia ditimpa musibah harus bersabar. Dan bersabar adalah tingkatan wajib. Kemudian tingkatan di atas sabar adalah ridha. Ini merupakan tingkatan yang lebih berat. Ridha terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan, tuliskan, dan takdirkan. Terkadang seseorang bisa bersabar, tetapi hatinya belum tentu ridha. Meski demikian, ia tetap wajib bersabar. Ia tidak boleh mengucapkan kata-kata yang tidak pantas atau menunjukkan sikap yang tidak diridhai oleh Allah.

Kemudian, tingkatan yang lebih tinggi dari sabar dan ridha adalah bersyukur atas musibah. Ini adalah tingkatan yang paling berat. Seseorang yang berada pada tingkatan ini, ketika ditimpa musibah, tetap mengucapkan: “Alḥamdulillāh ‘alā kulli ḥāl” Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan. Mengapa demikian? Karena ia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah, yang menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat di sisiNya. Kalaupun ia bukan termasuk orang yang banyak berdosa, maka musibah itu tetap menjadi sebab diangkatnya derajat oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ، لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ، ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ، أَوْ فِي مَالِهِ، أَوْ فِي وَلَدِهِ، ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبَلِّغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang telah ditetapkan baginya suatu derajat di surga, namun dia tidak mampu mencapainya dengan amalannya. Maka Allah pun menimpakan musibah padanya, baik pada tubuhnya, hartanya, atau anaknya, lalu Allah memberinya kesabaran sehingga dia pun mencapai derajat itu.” (HR. Abu Dawud)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

“Sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka.” (HR. At-Tirmidzi)

Tentunya ujian itu bermacam-macam bentuknya. Ada yang diuji dengan kesehatan, ada pula yang diuji dengan penyakit. Ada yang diuji dengan kekayaan, dan ada pula yang diuji dengan kesengsaraan. Allah berfirman:

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (fitnah).” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 35)

Fitnah adalah ujian dari Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang mukmin harus meyakini bahwa musibah, penyakit, kesulitan, atau kegundahan yang menimpanya akan mendatangkan pahala jika dia bersabar.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh istimewa perkara orang yang beriman, seluruh urusannya baik. Dan hal ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa musibah, ia bersabar, dan itu pun baik baginya” (HR. Muslim).

Seorang mukmin juga harus berikhtiar menghindari musibah, misalnya dengan memeriksa kendaraan sebelum bepergian, menaati peraturan lalu lintas, dan menjaga dzikir serta doa harian. Jika semua ikhtiar telah dilakukan namun musibah tetap terjadi, maka bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Kemudian Imam Al-Barbahari Rahimahullahu Ta’ala mengatakan: “Dan Orang yang mati syahid tentunya akan diberi pahala atas kesyahidan tersebut.” (Syarhusunnah Al Barbahari)

Bahkan, orang yang mati syahid akan dibangkitkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kondisi masih berdarah, berwarna merah, dan berbau minyak kasturi.

Seorang yang syahid adalah orang yang meninggal di medan jihad fii sabilillah, yaitu dalam rangka meninggikan kalimat Allah dengan jihad yang syar’i, bukan jihad yang sembrono, bukan jihad yang dipimpin Khawarij (sekte sesat yang menkafirkan kaum muslimin) sehingga melakukan bom bunuh diri di negeri kaum muslimin.

Yang dimaksud  jihad syar’i adalah jihad yang dipimpin oleh suatu negara Islam, dan dilaksanakan dengan memenuhi semua syarat-syarat jihad. Jihad adalah puncak amalan tertinggi dalam Islam. Tentunya, ini adalah amalan yang berat dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Orang yang syahid karena jihad fii sabilillah memiliki hukum khusus, yaitu dikuburkan dengan pakaian yang ia kenakan saat wafat. Tidak perlu dimandikan, tidak perlu dikafani, dan tidak perlu dishalatkan, melainkan langsung dimakamkan dengan pakaiannya.

Lalu bagaimana cara memilih pemimpin dalam Islam? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Musibah dan Ujian Meninggikan Derajat” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses