Renovasi Masjid

Washaya wa Taujihat

Permohonan dengan Kerendahan Hati

By  |  | https://rodja.id/5mw

Permohonan dengan Kerendahan Hati merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Washaya wa Taujihat Fi Fiqhi at-Ta’abbud Li Rabbi al-Bariyyat. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Dzulqa’dah 1446 H / 27 Mei 2025 M.

Kajian sebelumnya: Semangat Muslim untuk Terus Lebih Baik

Kajian Tentang Permohonan dengan Kerendahan Hati

Syaikh, penulis kitab, Hafizahullahu Ta‘ala, menjelaskan bahwa seorang Muslim hendaknya senantiasa bertawakal kepada Allah Subḥanahu wa Ta‘ala. Ia menunjukkan kelemahan dan kekerdilannya di hadapan Allah, serta berlepas diri dari segala daya dan kekuatan, kecuali daya dan kekuatan yang berasal dari-Nya. Sikap ini harus tertanam dalam setiap amal shalih yang dilakukan, dan terus melekat sepanjang hidup, dalam rangka menempuh perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Yusuf, begitu pula Nabi Syuaib dan Nabi Musa ‘Alaihimus-Salam meskipun mereka adalah para nabi dan rasul tetap senantiasa bertawakal kepada Allah Subḥanahu wa Ta‘ala. Mereka selalu merasa membutuhkan pertolongan-Nya dan tidak pernah merasa aman dari kesesatan. Bahkan, mereka tidak merasa aman dari kemungkinan terjerumus dalam kesyirikan. Karena itu, mereka terus-menerus berdoa dan memohon kepada Allah agar dikokohkan dalam keistiqamahan, tetap berada di atas agama Allah, dan teguh dalam tauhid serta mentauhidkan-Nya.

Dalam halaqah yang ke-10 ini, kita akan melanjutkan pembahasan dengan menyebutkan beberapa contoh doa, tadarru’ (permohonan dengan kerendahan hati) dan tawakal dari orang-orang shalih terdahulu. Di antara contoh tersebut adalah doa yang diucapkan oleh para rasikhūna fil-‘ilm (orang-orang yang mendalam ilmunya) yang disebutkan oleh Allah Subḥanahu wa Ta‘ala dalam Surah Ali ‘Imran ayat 7–8:

…وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ ‎﴿٧﴾‏ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ ‎﴿٨﴾‏

“Dan orang-orang yang kokoh ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat itu; semuanya dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 7-8)

Dalam ayat ini, Allah Subḥanahu wa Ta‘ala memuji ar-rasikhūna fil-‘ilm, yaitu para ulama dan orang-orang yang tidak hanya berilmu, tetapi memiliki ilmu yang kokoh. Mereka adalah orang-orang yang teguh dalam keilmuan agama. Orang-orang yang kokoh dalam ilmu ini berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat; semuanya dari sisi Tuhan kami.”

Yang dimaksud di sini adalah keimanan mereka terhadap ayat-ayat mutasyabihat, yaitu ayat-ayat yang maknanya tidak dapat dipahami secara rinci oleh manusia, termasuk kaifiyah (hakikat dan cara) yang hanya diketahui oleh Allah.

Misalnya, dalam hal bentuk-bentuk sifat Allah Subḥanahu wa Ta‘ala secara rinci, mereka para rasikhūna fil-‘ilm—tidak mengetahuinya. Mereka menyerahkan detailnya kepada Allah Subḥanahu wa Ta‘ala. Karena memang Allah Subḥanahu wa Ta‘ala tidak merinci bagaimana bentuk sifat-sifat-Nya. Maka dari itu, mereka mengimani ayat-ayat tersebut, meyakini bahwa semuanya berasal dari Allah Subḥanahu wa Ta‘ala.

Kemudian, di antara kebaikan para rasikhūna fil-‘ilm adalah bahwa mereka juga berdoa kepada Allah Subḥanahu wa Ta‘ala dengan mengatakan:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 8)

Hati kita adalah pusat dari seluruh amalan hati. Amalan-amalan hati itu bersemayam dalam hati. Hati akan menjadi sehat apabila kita senantiasa mengolahnya melalui berbagai bentuk amalan hati, seperti iman, rasa takut (khauf), harapan (raja’) kepada Allah Subḥanahu wa Ta‘ala, syukur, kegembiraan, kesedihan, dan rasa cinta karena Allah. Semua itu merupakan bentuk ibadah hati yang membersihkan dan menyehatkan hati. Sebagaimana tubuh menjadi sehat dengan olahraga, maka hati pun menjadi sehat dan bersih melalui olah hati.

Dalam doa ini, kita memohon rahmat dari sisi Allah Subḥanahu wa Ta‘ala. Kita juga bertawassul kepada-Nya dengan salah satu nama-Nya yang indah, yaitu Al-Wahhab, karena kita sedang meminta karunia dan anugerah. Al-Wahhab (ٱلْوَهَّابُ) berarti Dzat yang Maha Memberi, Maha Mengaruniai, dan Maha Menganugerahkan. Semua makna tersebut mengandung pengertian yang sama: pemberian yang luas, penuh rahmat, tanpa perhitungan, dari Allah yang Maha Pemurah.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian Permohonan dengan Kerendahan Hati

https://soundcloud.com/radiorodja/20250527-ustadz-anas

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama “Permohonan dengan Kerendahan Hati” ini ke jejaring sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses