Ada Apa dengan Remaja
Menyikapi Kenakalan Remaja
Menyikapi Kenakalan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Dzulqa’dah 1446 H / 27 Mei 2025 M.
Kajian Tentang Menyikapi Kenakalan Remaja
Masalah kenakalan remaja sering kali menjadi kegelisahan para orang tua. Banyak dari mereka menilai anak-anak atau remaja mereka nakal. Namun, sebelum melabeli demikian, penting bagi kita untuk menyepakati terlebih dahulu apa definisi dari “nakal” itu sendiri. Apakah memang pantas seorang anak diberi label “nakal”?
Biasanya, label ini muncul ketika perilaku anak tidak menyenangkan orang tua. Namun, menyebut anak dengan kata-kata seperti “dasar nakal” atau “kamu memang anak nakal” bukanlah hal yang bijak. Kalimat itu bisa menjadi doa, padahal belum tentu label tersebut layak disematkan kepada anak.
Banyak orang tua mengeluhkan perilaku anak-anak mereka yang memasuki usia remaja—mulai dari sikap yang tidak taat, suka membantah, hingga perilaku yang meledak-ledak. Anak yang dahulu terlihat lucu dan menggemaskan, kini berubah menjadi sumber masalah. Lalu siapa yang patut disalahkan? Apakah kesalahan sepenuhnya ada pada anak, atau ada kontribusi dari orang tua? Ataukah kita hanya pasrah dan berkata, “Memang sudah takdirnya seperti itu”?
Manusia memang diciptakan dengan berbagai sifat. Sebagian bisa jadi berasal dari genetik, tetapi kita tidak dibenarkan menjadikan takdir sebagai alasan. Takdir adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak bisa kita jadikan alasan untuk berlepas tangan dari tanggung jawab sebagai pendidik.
Dalam persoalan ini, kita tidak perlu mencari kambing hitam. Ada yang menyalahkan gadget, menyebutnya sebagai “setan gepeng”, padahal itu hanya alat. Isinya tergantung siapa yang menggunakannya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana orang tua mengarahkan anak-anak menghadapi realitas kemajuan teknologi informasi, di mana dunia hari ini seolah berada di genggaman tangan.
Kita sebagai orang tua mungkin tidak diuji dengan godaan ini saat masih kecil. Seandainya diuji, belum tentu kita lebih baik dari anak-anak zaman sekarang. Karena itu, orang tua seharusnya mengasihani generasi hari ini yang sejak usia dini sudah menghadapi tantangan luar biasa besar, bukan malah menyalahkan mereka dan menimpakan seluruh sanksi kepada anak.
Jika memang ini kenyataannya, maka orang tua harus berpikir lebih keras dalam mengambil sikap. Sebab, jika salah langkah, bisa berakibat fatal. Sudah banyak kasus di mana kesalahan orang tua dalam menyikapi anak remajanya berakhir tragis—bahkan sampai merenggut nyawa.
Tantangan hari ini tidak ringan. Jangan merasa kita sudah aman dari fitnah gadget dan internet, padahal sebagai orang tua pun kita sering kali belum mampu menghadapinya. Maka, solusi terbaik bukan menyalahkan anak, tapi memperbaiki sikap orang tua dan lingkungan sekitar, seperti guru dan pendidik. Mereka diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi.
Akar masalah perilaku remaja sebenarnya bermula dari rumah. Pendidikan rumah yang tidak berjalan baik, lumpuh, atau bahkan menyimpang dari tujuan, akan menciptakan masalah. Rumah yang seharusnya menjadi taman pendidikan justru berubah menjadi sumber kerusakan.
Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala dalam Tuhfatul Maudūd menyatakan: “Anak akan tumbuh berdasarkan kebiasaan yang dibentuk oleh pendidiknya.”
Lingkungan pertama anak adalah rumah. Maka, jika kita meneladani ulama salaf, mereka adalah orang-orang yang dipersiapkan oleh orang tuanya sejak dini. Contohnya, Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala. Beliau dipersiapkan langsung oleh ibunya agar kelak menjadi penuntut ilmu yang sukses.
Karena itu, jika ada masalah perilaku, anak seharusnya “dikirim” kembali ke rumah, bukan ke tempat lain. Jangan sampai wacana-wacana yang beredar malah menjauh dari akar masalah. Kita harus bercermin, adakah nuansa pendidikan dalam rumah kita? Banyak rumah kaum Muslimin hari ini kosong dari ruh pendidikan. Ayah tidak punya konsep. Ibu tidak memahami anak. Solusi yang mereka tempuh hanyalah menitipkan anak ke sekolah.
Padahal, sekolah hanyalah mitra pendidikan, bukan tulang punggungnya. Sekolah membantu, tetapi pendidikan utama tetap tanggung jawab orang tua. Guru adalah tenaga bayaran, sedangkan orang tua mendidik karena cinta dan ikhlas. Ikhlas inilah yang tidak bisa dikalahkan.
Anak-anak yang dipersiapkan dari rumah, ketika diajak ke masjid, akan duduk rapi, mendengarkan, shalat dengan tertib. Sebaliknya, anak-anak yang tidak dibina sejak di rumah akan membuat gaduh, berlarian, berteriak, bahkan mengganggu majelis ilmu. Masalahnya bukan pada anak, tapi pada hilangnya sentuhan pendidikan dari rumah.
Tidak sedikit orang tua yang datang ke sekolah dan berkata, “Ustadz, anak saya ini sudah tidak bisa ditangani.” Padahal kalau ditelusuri, anak ini memang tidak pernah ditangani sejak awal. Lalu anak “dibuang” ke pondok atau sekolah, sehingga muncul stigma bahwa pondok adalah tempat pembuangan anak nakal. Ini keliru.
Pendidikan anak adalah tanggung jawab utama orang tua. Sekolah hanya mitra. Maka, jika pendidikan rumah lumpuh, hasilnya bisa ditebak. Anak yang tidak dibina di rumah, ketika masuk pondok atau sekolah, sering menjadi trouble maker—pembuat onar, bahkan memengaruhi anak-anak lain. Jika ini yang terjadi, siapa sebenarnya yang lebih layak disebut nakal?
Sering kali, orang tua enggan disalahkan. Padahal tidak semua tindakan orang tua itu benar. Kita harus berani mengoreksi kesalahan kita sebagai orang tua. Jika tidak, generasi mendatang yang akan menjadi korban.
Sekolah dengan orientasi karakter sekalipun tidak akan berhasil jika pendidikan karakter tidak dimulai dari rumah. Karakter dibentuk dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Rumah adalah tempat perlindungan dan pembinaan terakhir bagi anak.
Seperti yang dijelaskan dalam buku Mencetak Generasi Rabbani, rumah seharusnya menjadi tempat sterilisasi dari pengaruh buruk luar. Di situlah anak dibina dan diarahkan. Inilah yang dilakukan oleh para ulama salaf. Mereka menuntut ilmu mulai dari lingkungan terdekat. Setelah tuntas di rumah dan kampung halaman, barulah mereka merantau menuntut ilmu ke negeri-negeri lain.
Lihat: Rumah Adalah Sekolah Pertama
Imam Al-Bukhari Rahimahullah, sebelum berkelana mengumpulkan hadits, telah menyelesaikan pendidikan dasarnya bersama orang tuanya di rumah. Demikian juga Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dan para ulama besar lainnya. Mereka semua adalah hasil pendidikan rumah tangga.
Meskipun kita tidak mengenal ibunda Imam Asy-Syafi’i, kita tahu bahwa beliau adalah figur penting di balik kesuksesan putranya. Itulah peran penting pendidikan rumah yang harus kita sadari dan perkuat.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Menyikapi Kenakalan Remaja” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




