Ada Apa dengan Remaja
Peran Orang Tua Mengatasi Problematika Remaja
Peran Orang Tua Mengatasi Problematika Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 15 Dzulqa’dah 1446 H / 13 Mei 2025 M.
Kajian Tentang Peran Orang Tua Mengatasi Problematika Remaja
Kita sampai pada pembahasan tentang problematika remaja. Harus diakui bahwa masa remaja diwarnai dengan berbagai masalah. Terlebih di zaman ini, banyak hal yang meresahkan para orang tua. Perilaku-perilaku yang mungkin dianggap tidak wajar oleh orang tua, sebenarnya wajar-wajar saja terjadi pada remaja, terutama bagi mereka yang kurang mendapatkan pembekalan sejak masa kanak-kanak.
Kita tidak adil jika menilai remaja hanya ketika mereka telah memasuki usia remaja. Semua itu berkaitan erat dengan riwayat pendidikan dan pola asuh yang mereka terima sejak kecil. Oleh karena itu, saat kita mendapati perilaku-perilaku yang menyimpang, sebaiknya kita sebagai orang tua mencoba memahami dan menyadari bahwa kondisi tersebut bisa jadi berakar dari kekurangan kita sendiri dalam mendidik. Bisa karena kurangnya ilmu, ketidaktahuan, atau bahkan ketidakpedulian.
Lalu kita terkejut saat anak tumbuh menjadi remaja yang menyulitkan. Di antara perilaku yang kerap muncul, misalnya: ada remaja yang sulit mengungkapkan isi hati, cenderung introvert, tidak dipahami oleh orang lain, bahkan oleh orang tuanya. Ada pula yang menunjukkan emosi yang labil, mudah meledak tanpa alasan yang jelas. Sebagian cenderung malas bergerak (mager), suka menyendiri, dan merasa nyaman hidup dalam dunia sendiri.
Terutama bagi remaja yang belum memiliki kecerdasan emosional dan manajemen waktu yang baik. Kita lihat banyak yang menghabiskan waktu dengan gadget tanpa batas. Ada yang mudah ikut-ikutan, lemah pendirian, tidak tertib, hingga memiliki jiwa pemberontak—misalnya suka membantah perintah orang tua atau menolak peraturan.
Hal-hal semacam ini umumnya terjadi karena kesalahan dalam mendidik sejak kecil. Ada pepatah yang mengatakan:
“Ala bisa karena biasa.”
Kebiasaan tidak akan muncul begitu saja, ia harus dibiasakan. Sering kali orang tua terlalu memberikan kelonggaran saat anak masih kecil, tapi saat anak beranjak remaja, tiba-tiba diberi aturan yang sangat ketat. Akibatnya, mereka merasa keberatan menjalankan hal-hal baru yang sebelumnya tidak dikenal.
Dalam Islam, anak dilatih untuk shalat sejak usia tujuh tahun. Lebih awal lebih baik. Bahkan, jika usia lima tahun sudah bisa dilatih, itu lebih utama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
“Perintahkan anak-anak kalian untuk salat saat mereka berusia tujuh tahun.” (HR. Ahmad, Abu Dawud)
Shalat melatih kedisiplinan, terutama dalam hal waktu. Anak mulai mengenal waktu-waktu shalat lima kali sehari semalam. Ini membutuhkan latihan. Begitu pula hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan. Semua itu harus dilatih sejak dini.
Masalah muncul ketika orang tua menginginkan hasil instan. Setelah anak besar, langsung dibombardir dengan aturan, padahal sejak kecil ia tidak dibiasakan hidup dengan aturan. Ini tentu menyulitkan. Sementara di usia remaja, pemikiran mereka semakin tajam dan kritis. Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul, dan banyak orang tua tidak siap berdialog atau berargumentasi dengan anaknya.
Sebagian orang tua hanya ingin anaknya taat tanpa banyak tanya. Padahal, remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar. Tidak mudah bagi mereka menerima begitu saja. Ini hal yang wajar. Orang tua yang justru harus siap menghadapi fase ini. Remaja mulai berpikir kritis dan mampu berargumen. Apakah itu bentuk kurang ajar? Tidak. Semuanya tergantung bagaimana caranya. Maka, tugas kita adalah melatih mereka agar bisa bersikap kritis dengan adab.
Pemikiran kritis adalah kebutuhan. Jangan sampai kita mematikannya. Jika tidak dilatih, mereka akan tumbuh sebagai muqallid, hanya ikut-ikutan tanpa mampu berpikir sendiri. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya—tidak punya pandangan, tidak kreatif, tidak kritis, dan tidak bisa menyampaikan argumen. Ini berbahaya. Maka, di satu sisi, kita perlu menanamkan adab, dan di sisi lain, kita latih kemampuan berpikir kritis mereka. Keduanya harus seimbang.
Sayangnya, banyak orang tua tidak siap berdiskusi atau berargumentasi dengan anak. Padahal, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menyampaikan argumentasi kepada anak-anak. Ketika Nabi menegur Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang mengambil kurma dari zakat, beliau menjelaskan alasannya:
إِنَّا لَا تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَةُ
“Sesungguhnya kami (keluarga Muhammad) tidak halal menerima sedekah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan yang lainnya)
Nabi tidak hanya melarang, tapi memberikan penjelasan logis. Ini teladan bagi kita. Sebagian orang tua merasa tidak mampu menjelaskan karena bukan ustaz. Padahal, hal-hal mendasar bisa dipelajari. Kita sebagai orang tua tidak boleh kosong melompong dari ilmu.
Jika anak tidak terbiasa berpikir kritis, mereka hanya akan menurut, tanpa tahu alasannya. Ini akan menjadi masalah ketika mereka berhadapan dengan dunia luar. Mereka bisa menjadi pecundang, mudah latah, dan ikut-ikutan. Jika ikut orang baik, Alhamdulillah. Tapi kalau ikut orang buruk, itu bencana.
Akhirnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih mudah dipengaruhi daripada mempengaruhi. Tidak punya kemampuan berdakwah, tidak mampu menyampaikan kebaikan. Padahal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)
Dakwah adalah kemampuan yang harus dimiliki setiap Muslim, meskipun sekadar menyampaikan nilai-nilai dasar. Tentu ada dakwah khusus bagi yang memiliki ilmu mendalam. Tapi secara umum, semua Muslim harus bisa berdakwah, termasuk anak-anak kita. Kalau tidak, mereka akan menjadi objek dakwah orang lain, bukan pelaku dakwah. Mereka akan selalu menjadi pihak yang dipengaruhi, bukan memengaruhi. Ini semua bermula dari tidak terbiasanya mereka berpikir kritis dan tidak terlatih menyampaikan pendapat.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Peran Orang Tua Mengatasi Problematika Remaja” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




