Renovasi Masjid

Ada Apa dengan Remaja

Problematika Remaja

By  |  | https://rodja.id/5m7

Problematika Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 1 Dzulqa’dah 1446 H / 29 April 2025 M.

Kajian Tentang Problematika Remaja

Kita sampai pada pembahasan tentang problematika remaja, yaitu persoalan-persoalan yang sering muncul di kalangan anak-anak muda, khususnya remaja masa kini atau generasi Z.

Sering kali muncul perilaku yang menimbulkan reaksi negatif dari orang tua. Bahkan, tak jarang para orang tua mulai meragukan sikap atau kepribadian anak-anak mereka. Padahal, perilaku tersebut sebenarnya wajar terjadi pada remaja yang sedang menjalani masa transisi dan proses pencarian jati diri serta eksistensi.

Contohnya, keinginan untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Kadang, remaja melakukan sesuatu bukan karena tujuan perbuatan itu sendiri, tetapi semata-mata untuk menarik perhatian. Hal ini sering terjadi terutama pada remaja yang kurang mendapatkan pembekalan sejak masa kanak-kanaknya, baik karena riwayat pendidikan yang tidak baik, tidak memadai, atau bahkan terabaikan.

Ketika muncul perilaku yang dianggap tidak dapat diterima, orang tua kerap kesulitan memahami atau menerima kondisi tersebut. Oleh karena itu, seharusnya orang tua berusaha untuk memahami, karena masa transisi adalah fase yang tidak mudah dilalui. Dalam masa ini, terjadi banyak perubahan pada diri anak.

Dari sisi emosi, misalnya, remaja memiliki intensitas yang lebih tinggi dibandingkan saat masih anak-anak. Seiring bertambahnya usia, muncul pula kematangan dalam dirinya. Ia mungkin sudah baligh dan mulai merasa terbebani oleh tanggung jawab serta kewajiban yang harus ditunaikan. Shalat, misalnya, bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi telah menjadi kewajiban yang dibebankan di atas pundaknya.

Demikian pula dengan kewajiban lainnya, baik tuntutan dari sisi agama maupun dunia. Kondisi ini kadang membuat para orang tua merasa tidak nyaman. Namun, bisa jadi akar permasalahannya justru terletak pada kekurangan peran orang tua dalam mendidik anak sejak dini.

Jika sejak masa kecil anak tidak memperoleh pendidikan yang baik—bahkan mungkin pendidikannya berantakan, terbengkalai, atau sama sekali tidak diarahkan—maka diperlukan usaha yang lebih keras untuk memperbaikinya saat anak telah menginjak usia remaja.

Kadang, remaja memberikan tanggapan atau reaksi terhadap sikap orang tuanya. Misalnya, ia berkata, “Saya tidak mendapatkan pendidikan seperti ini sejak kecil,” atau merasa tidak dibimbing sejak dini. Ketika anak menyampaikan hal tersebut, sering kali orang tua tidak siap menerima argumen seperti itu.

Ujung-ujungnya, orang tua justru marah atau membalas dengan ancaman dan kata-kata intimidatif. Akibatnya, terjadi jarak antara anak dan orang tua. Maka dari itu, orang tua harus benar-benar memahami kondisi remaja agar tidak terjadi konflik yang berlarut-larut.

Sulit Mengungkapkan Isi Hati

Salah satu perilaku remaja yang sulit dipahami oleh orang tua atau orang dewasa pada umumnya adalah ketidakmampuan sebagian dari mereka dalam mengungkapkan isi hati. Ini bisa berakar dari kelemahan dalam keterampilan komunikasi, sehingga ia kesulitan mengekspresikan perasaan dan apa yang dirasakannya.

Akibatnya, orang lain, termasuk orang tuanya sendiri, tidak mampu memahami isi hati remaja tersebut. Ia merasa tidak ada yang nyambung atau relate dengannya, dan pada saat yang sama menjadi sangat sensitif ketika tidak ada orang yang mampu memahaminya.

Emosinya pun cenderung labil dan mudah meledak. Ia menjadi pribadi yang mudah tersulut perasaan, atau dalam istilah sekarang disebut “emosian.” Maka dari itu, orang tua harus belajar memahami sinyal-sinyal tersirat dari remaja yang kesulitan mengekspresikan isi hati mereka.

Ada juga remaja yang tampak datar secara emosional. Hal ini bisa disebabkan oleh buruknya keterampilan komunikasi, atau karena memang tidak pernah mendapatkan pendidikan komunikasi yang baik sejak kecil. Padahal, dalam banyak riwayat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa membiasakan komunikasi yang baik dengan anak-anak, sekaligus melatih mereka untuk berbicara dengan benar.

Beliau tidak menggunakan kata-kata yang tidak bermanfaat atau sembarangan, melainkan memilih kalimat yang bermakna, menunjukkan tingkat komunikasi yang tinggi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering mengajak anak-anak berbicara, berdialog, dan menyapa mereka dengan panggilan yang penuh kasih sayang.

Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Nak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyapa mereka dengan penuh kelembutan, menggunakan kata “yā ghulām”. Secara tidak langsung, orang tua sebenarnya sedang mengajarkan anak untuk mampu berkomunikasi dengan baik. Ini sangat penting, karena anak-anak zaman sekarang sering kali menghadapi masalah dalam komunikasi. Gaya bicara mereka kadang dianggap kasar atau tidak sopan oleh orang tua. Padahal, bisa jadi itu disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam berkomunikasi secara tepat.

Sayangnya, hal ini sering disalahpahami. Ucapan yang kurang pas dianggap sebagai sikap tidak hormat atau membangkang, padahal bisa jadi karena mereka memang belum diajari bagaimana cara berbicara yang benar.

Pertanyaannya sekarang: apakah orang tua sudah pernah mengajarkan anak-anak cara berkomunikasi yang baik?

Kalau belum, maka jangan kaget kalau suatu hari kita menuai akibat dari apa yang kita abaikan. Seperti pepatah: “Kamu tidak akan memanen kecuali apa yang kamu tanam. Kalau kamu menabur angin, bersiaplah menuai badai.”

Maka, salah satu bekal yang sangat penting untuk diberikan kepada anak-anak adalah keterampilan berkomunikasi yang baik. Ini termasuk bagian dari ilmu kehidupan yang tidak bisa dipelajari secara otodidak. Komunikasi itu adalah sebuah seni yang harus diajarkan, dilatih, dibimbing, dan dituntun.

Mulai dari hal sederhana, seperti pemilihan kata, intonasi suara saat berbicara, hingga memahami konteks saat menyampaikan sesuatu. Wajar jika anak-anak kecil belum bisa memilih kata yang tepat. Mereka masih dalam proses belajar berbicara, masih dalam tahap eksplorasi bahasa.

Namun, seiring bertambahnya usia, mereka harus dilatih agar keterampilan berkomunikasinya juga berkembang. Ketika anak sudah mampu berkomunikasi dengan baik, ia akan mampu menyampaikan isi hati melalui kata-kata. Ini menjadi modal penting untuk menajamkan cara berpikirnya.

Kemampuan berbicara yang baik akan berkembang menjadi kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan lebih jelas dan terstruktur. Ketika lisan dan akal sudah “nyambung”, maka akan lahir komunikasi yang efektif dan bermakna.

Lebih jauh lagi, semoga anak juga mampu mengekspresikan isi hati melalui tulisan. Ini adalah tingkat keterampilan yang lebih tinggi. Namun tentu, kemampuan seperti ini tidak bisa didapat dalam semalam. Perlu latihan dan proses yang bertahap sejak kecil, lalu meningkat ketika remaja, dan menjadi lebih tajam ketika dewasa.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika di berbagai universitas ternama di dunia, kelas menulis menjadi salah satu mata kuliah wajib. Di situ, mahasiswa dilatih untuk mengasah pikiran mereka dan menyalurkannya lewat tulisan.

Karena dari tulisan seseorang, kita bisa mengetahui seberapa jauh daya pikirnya.

Ada satu ungkapan menarik dari seorang ahli ilmu: “Kalau kamu ingin tahu seberapa berantakan isi kepalamu, bacalah tulisanmu sendiri.”

Dari situ, seseorang bisa mengukur tingkat kejernihan pikirannya sendiri.

Sayangnya, masih banyak orang yang tidak mampu menulis. Mereka kesulitan menuangkan ide atau mengungkapkan isi hati, bahkan secara verbal pun belum lancar, apalagi lewat tulisan.

Padahal kemampuan ini sangat penting—dan harus dibangun sejak kecil. Ketika keterampilan berbicara sudah baik, ia bisa meningkat menjadi kemampuan menulis. Itulah yang kelak akan semakin matang ketika seseorang dewasa.

Maka, tidak heran jika banyak universitas ternama di dunia mewajibkan kelas menulis. Karena dari situlah bisa dilihat bagaimana isi kepala seseorang, bagaimana cara berpikirnya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

https://soundcloud.com/radiorodja/20250429-ustadz-abu-ihsan-ada

Mari turut membagikan link download kajian “Berilah Kabar Gembira, Jangan Membuat Remaja Menjauh” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses