Ada Apa dengan Remaja
Berilah Kabar Gembira, Jangan Membuat Remaja Menjauh
Berilah Kabar Gembira, Jangan Membuat Remaja Menjauh merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 23 Syawwal 1446 H / 22 April 2025 M.
Kajian Tentang Berilah Kabar Gembira, Jangan Membuat Remaja Menjauh
Teladan terbaik dalam mendidik adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Beliau juga menghadapi para remaja pada masanya. Beberapa di antaranya dikenal dalam sejarah sebagai al-Abadilah al-Arba‘ah — empat sahabat bernama Abdullah:
- ‘Abdullah bin ‘Umar,
- ‘Abdullah bin ‘Abbas,
- ‘Abdullah bin ‘Amr,
- ‘Abdullah bin az-Zubair.
Mereka tumbuh bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan hasil pendidikan beliau terbukti saat mereka dewasa, dengan prestasi luar biasa yang menjadi kebanggaan umat ini.
Selain mereka, ada pula sahabat lain yang melalui masa remaja bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seperti Zaid bin Tsabit dan Usamah bin Zaid. Mereka menjadi sosok yang bermanfaat besar bagi umat, meskipun masih muda. Usamah bin Zaid, misalnya, diangkat sebagai panglima perang saat usianya masih belia. ‘Abdullah bin ‘Abbas menjadi penasihat khalifah ‘Umar bin Khattab dan mufti di usia muda.
‘Abdullah bin ‘Amr dikenal sebagai penulis wahyu dan banyak menulis Kitabullah dan hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antara hadits-hadits tersebut, sebagian berasal dari catatannya.
‘Abdullah bin ‘Umar adalah sahabat yang sangat memahami sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara detail.
Di kalangan muslimah, sosok ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menjadi teladan. Ia tumbuh sebagai remaja bersama Nabi dan setelah wafatnya beliau, ‘Aisyah berperan besar dalam menyebarkan ilmu dan meriwayatkan hadits. Para sahabat yang lebih tua pun merujuk kepadanya dalam banyak persoalan agama.
Adapun Zaid bin Tsabit, adalah remaja cerdas yang bakatnya ditemukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia seorang poliglot—menguasai banyak bahasa. Selain sebagai penulis wahyu, ia juga dikenal sebagai qarī yang menguasai berbagai qira’ah Al-Qur’an.
Ini adalah contoh bagaimana anak-anak muda dan remaja tumbuh besar di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta bagaimana beliau mengarahkan mereka sesuai dengan karakter dan bakat masing-masing. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangun jati diri mereka hingga mereka menjadi diri mereka sendiri. Maka, teladan terbaik dalam mendidik, membimbing, dan menuntun para remaja adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ada beberapa hadits yang dapat dijadikan pegangan dalam menghadapi remaja. Di antaranya sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah dan jangan dipersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini sangat relevan saat berhadapan dengan remaja yang logikanya masih simple dan sederhana. Jangan buat segala urusan menjadi rumit. Harus disadari bahwa kemampuan akal setiap manusia berbeda-beda. Orang tua yang telah melewati banyak pengalaman hidup mungkin terbiasa berpikir kompleks.
Hadits tersebut mengingatkan agar orang tua tidak mempersulit persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih ringan. Hal-hal sederhana dapat berubah menjadi rumit jika diperlakukan demikian. Maka, “yassirū”—mudahkanlah.
Selanjutnya, “basyyirū wala tunaffirū”—berilah kabar gembira, jangan membuat orang menjauh. Tanamkan dalam benak remaja hal-hal yang positif. Ajari mereka menghapus kalimat negatif dari pikiran, seperti: “Aku tidak bisa,” “Aku tidak akan berhasil.” Kalimat seperti itu dapat membuat seseorang mudah berputus asa.
Gantilah dengan kalimat penuh harapan dan mengandung optimisme, seperti:
“Aku bisa menjadi lebih baik,”
“Aku anak yang kreatif,”
“Aku luar biasa,”
“Aku mampu,”
“Aku bisa lebih hebat daripada yang aku bayangkan,”
“Aku lebih kuat daripada yang aku pikirkan.”
Kata-kata semacam ini adalah bentuk kabar gembira, motivasi yang menumbuhkan optimisme dan semangat untuk terus mencoba. Inilah makna “basyyirū”—beri kabar gembira, jangan membuat seseorang putus asa, termasuk anak-anak yang masih dalam tahap membangun jati diri. Jangan membuat mereka berkecil hati.
Mungkin ada orang tua yang merasa kecewa terhadap anaknya, tetapi bukan berarti kekecewaan itu harus selalu ditampakkan. Banyak orang tua berkata kepada anaknya, “Nak, Ayah kecewa padamu,” atau “Ibu kecewa padamu.” Kalimat seperti ini, meskipun bertujuan menyadarkan, bisa menjatuhkan mental anak, terutama jika ia masih remaja.
Perlu dipahami bahwa remaja belum sepenuhnya mampu menangkap maksud dari ucapan-ucapan seperti itu. Meskipun niatnya baik, yakni agar anak sadar, alangkah lebih baik jika disampaikan dengan kata-kata yang positif dan membangun.
Jangan membuat seseorang putus asa. Buka selebar-lebarnya pintu harapan. Jangan menutup jalan kembali bagi mereka yang ingin berubah.
Salah satu contoh yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kisah seorang tukang jagal yang telah membunuh 99 jiwa. Ia kemudian bertemu dengan seorang rahib (ahli ibadah) dan bertanya, “Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertaubat?”
Namun, rahib itu menjawab dengan kata-kata yang tidak membawa harapan. Jawabannya penuh penolakan dan cenderung memvonis: tak ada lagi kesempatan baginya untuk bertaubat. Ini adalah contoh tanfir, yakni ucapan yang membuat seseorang lari dari kebaikan. Akibatnya, si pembunuh gelap mata dan membunuh si rahib, menjadikan jumlah korbannya genap 100 jiwa.
Setelah itu, ia bertemu dengan seorang ahli ilmu. Kali ini, respons yang diterima berbeda. Dengan ilmu dan hikmahnya, sang alim berkata: “Apa yang menghalangimu dari bertaubat?” Kalimat ini mengandung harapan. Ia tidak menghakimi, tetapi justru mendorong dan membuka jalan untuk kembali. Inilah basyīrah, kabar gembira yang memotivasi. Akhirnya, si pembunuh tidak berkecil hati dan merasa masih memiliki peluang untuk memperbaiki diri.
Demikian pula saat berhadapan dengan remaja, penting bagi orang tua untuk mengingat sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
Artinya, sampaikanlah kalimat-kalimat yang positif, penuh harapan, dan membangkitkan semangat. Hindari mengungkapkan kekecewaan secara langsung, terlebih jika itu justru dapat meruntuhkan semangat anak. Orang tua mungkin kecewa ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, namun tidak semua kekecewaan harus diucapkan kepada anak.
Sederhanakan persoalan yang rumit, bukan sebaliknya. Jangan sampai masalah yang sudah sederhana justru dibuat menjadi rumit. Ini adalah prinsip penting dalam mendampingi remaja.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Berilah Kabar Gembira, Jangan Membuat Remaja Menjauh” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




