Renovasi Masjid

Khutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha: Kurban Hanya untuk Allah

By  |  | https://rodja.id/5n9

Khutbah Idul Adha: Kurban Hanya untuk Allah ini merupakan rekaman khutbah idul adha yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Nasrullah, M.A. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Senin, 10 Dzulhijjah 1446 H / 6 Juni 2025 M.

Khutbah Idul Adha: Kurban Hanya untuk Allah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Jalla wa ‘Ala yang telah mensyariatkan Idul Adha dan menjadikannya sebagai salah satu dari dua hari raya bagi umat Islam. Dalam sebuah riwayat, sahabat yang mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiba di Kota Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan suka cita. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bertanya:

مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟

“Dua hari apa ini?”

Maka mereka pun menjawab, “Ini adalah hari raya kami bergembira sejak masa jahiliah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda:

قَدْ أَبْدَلَكُمُ ٱللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِّنْهُمَا، يَوْمَ ٱلْأَضْحَىٰ وَيَوْمَ ٱلْفِطْرِ

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Hari Idul Adha dan Hari Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud)

Ikhwatal Islam Rahimakumullah, ini adalah hari raya bagi kita semua. Kita bergembira, menampakkan kebahagiaan dengan mengenakan pakaian yang rapi, dan menikmati makanan yang tersedia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk berpuasa pada dua hari raya ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَىٰ عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ ٱلْأَضْحَىٰ وَيَوْمِ ٱلْفِطْرِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada dua hari: hari Idul Adha dan hari Idul Fitri. (HR. Muslim)

Ini adalah hari yang istimewa, maka layak kita memperlakukannya secara istimewa. Hari raya adalah hari yang spesial, maka semestinya kita memperlakukannya dengan cara yang spesial pula.

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil-hamd.

Ikhwatal Islam Rahmakumullah, saudara-saudara kita, sebagian kaum Muslimin, sedang melaksanakan ibadah yang hanya dilakukan dalam satu waktu dan satu tempat, yaitu ibadah haji di Tanah Suci. Namun, Allah Subḥanahu wa Taʿala membuka ladang amal yang luas bagi kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia, yakni ibadah kurban. Kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta untuk dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Yang Maha Esa, satu-satunya dalam penciptaan dan kekuasaan-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan Dialah satu-satunya yang berhak untuk disembah oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, apabila seseorang menyembelih sesembelihan untuk selain Allah Jalla Jalaluh, maka demi Allah, orang tersebut telah berbuat dzalim dengan kedzaliman yang sangat besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)

Ikhwatal Islam rahimakumullah, Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan:

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih (hewan) untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat, dan ada pula seseorang yang masuk surga karena seekor lalat. Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

دَخَلَ الجَنَّةَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ، وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ

“Ada seorang laki-laki masuk surga karena seekor lalat, dan ada seorang laki-laki masuk neraka karena seekor lalat.”

Para sahabat bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang melewati suatu kaum yang memiliki sebuah berhala. Tidak ada seorang pun yang boleh melewati mereka kecuali mempersembahkan sesuatu kepada berhala itu. Mereka berkata kepada salah satu dari keduanya, ‘Persembahkanlah sesuatu.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan.’ Mereka berkata, ‘Persembahkanlah meskipun hanya seekor lalat.’ Maka ia mempersembahkan seekor lalat, lalu mereka pun membiarkannya lewat, dan ia pun masuk neraka. Kemudian mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Persembahkanlah sesuatu.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu pun kepada siapa pun selain Allah.’ Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk surga.” (HR Ahmad)

Ikhwatal Islam Rahimakumullah. Inilah kurban, inilah sembelihan yang harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah Jalla Jalaluh, dan dipersembahkan hanya untuk Allah Subḥanahu wa Ta‘ala. Di dalam Surah Al-Kautsar, Allah Subḥanahu wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya untuk shalat dan menyembelih dengan niat lillahi ta‘ala.

Salah seorang sahabat yang mulia, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, mengisahkan bahwa suatu ketika Rasūlullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang tidur dengan tidur yang ringan. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan tertawa. Para sahabat pun bertanya, “Apa yang membuat engkau tertawa, wahai Rasūlullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Baru saja diturunkan kepadaku satu ayat.” Lalu beliau membaca firman Allah:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ • فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ • إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci engkau, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. al-Kautsar: 1–3)

Para ulama berselisih pendapat mengenai makna al-Kautsar. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Kautsar berasal dari kata al-katsrah yang berarti “banyak”. Ada pula yang berpendapat bahwa al-Kautsar adalah nama sungai di surga. Sebagian ulama lainnya menafsirkan bahwa al-Kautsar adalah sebuah telaga yang ada pada hari kiamat, yang dinamakan Telaga al-Kautsar. Tentu masih banyak pendapat lainnya, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling masyhur berkisar pada tiga hal ini. Jika kita cermati, pada hakikatnya tidak ada pertentangan di antara pendapat-pendapat tersebut.

Artinya, perbedaan pendapat ini dapat digabungkan antara satu dengan yang lain. Inilah yang disebut dengan khilaf tanawwu‘, yaitu perbedaan yang tampak sebagai khilaf, tetapi pada hakikatnya bukanlah perbedaan yang saling bertentangan, karena bisa dikompromikan dan saling melengkapi. Hal seperti ini banyak kita jumpai dalam kitab-kitab tafsir. Kita mengetahui bahwa setiap mukmin, atau setiap muslim yang masuk surga, akan memperoleh kenikmatan yang sangat banyak. Sebagaimana firman Allah Subḥanahu wa Ta‘ala:

لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ

“Bagi mereka di dalamnya (surga) segala apa yang mereka kehendak…” (QS. Qaf: 35)

Itu adalah keadaan penduduk surga secara umum. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau adalah afdhalul basyar, khatamul anbiya’ wal mursalin, sayyidul awwalīn wal akhirīn, manusia paling mulia. Allah Subḥanahu wa Taʿala memberikan kepada beliau kebaikan yang sangat banyak. Di antaranya adalah sungai yang bernama Al-Kautsar, yang airnya mengalir ke sebuah telaga pada hari kiamat, yang juga bernama telaga Al-Kautsar.

Ikhwatal Islam Rahimakumullah, berkaitan dengan telaga Al-Kautsar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  pernah bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْـحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ، اُخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di telaga (Al-Haudh). Sungguh, akan diangkat (dijauhkan) beberapa orang dari kalian dariku hingga ketika aku hendak memberikan (minum) kepada mereka, mereka diusir. Maka aku berkata: ‘Wahai Rabbku, (mereka) adalah sahabat-sahabatku!’ Maka dikatakan kepadaku: ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.'” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda:

إِنَّهُمْ مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي

“Sesungguhnya mereka adalah golongaku.” Maka dikatakan (kepadaku), “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ubah sepeninggalmu.” Maka aku berkata, “Celaka! Celakalah orang-orang yang mengubah (ajaran) sepeninggalku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa orang-orang yang diusir dari telaga adalah orang-orang munafik yang merusak agama dari dalam. Ada juga ulama yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang yang masuk Islam dimasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian setelah wafatnya beliau, mereka murtad meninggalkan agama ini. Ada juga yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa, mengubah agama ini, menambah dan mengurangi ajarannya, mengganti syariat, serta membuat perkara-perkara baru yang bukan bagian dari agama, lalu mereka nisbatkan hal itu kepada agama ini.

Salah seorang ulama, yaitu Imam al-Hafiz Abu ‘Amr Ibn ‘Abd al-Barr, mengatakan: “Setiap orang yang membuat perkara baru dalam agama, lalu dinisbatkan kepada agama ini padahal bukan darinya, maka mereka itulah orang-orang yang dijauhkan dari telaga (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ), yang diusir darinya.”

Ikhwatal Islam rahimakumullah. Kita semua memahami bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, agama ini telah sempurna. Tidak ada kekurangan di dalamnya, tidak pula membutuhkan revisi. Agama ini telah sempurna. Tidak perlu ditambah, tidak perlu dikurangi. Maka janganlah kita merasa bangga bila dapat menemukan hal-hal baru dalam urusan agama dengan alasan “inovasi”. Hal ini berbeda dengan sesuatu yang berasal dari luar agama yang sekadar dimanfaatkan untuk menunjang pelaksanaan agama. Karena tugas kita sebagai umat Islam adalah mengikuti petunjuk, yakni sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ikhwatal Islam rahimakumullah, Pada ayat yang kedua, Allah ʿAzza wa Jalla berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Kata وَانْحَرْ bermakna menyembelih dalam rangka berkurban karena Allah. Sedangkan kata فَصَلّ menunjukkan perintah untuk shalat. Huruf وَ pada وَانْحَرْ kembali kepada perintah sebelumnya, yakni فَصَلّ, sehingga kedua perintah tersebut ditujukan hanya untuk Allah Subḥanahu wa Taʿala. Dengan kata lain: فَصَلِّ لِرَبِّكَ artinya shalatlah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sembelihlah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud dari shalat dalam ayat ini adalah shalat Idul Adha, dan penyembelihan kurban dilakukan setelahnya. Ada juga yang menafsirkannya sebagai shalat Subuh di Muzdalifah, dan sebagian lain mengartikan sebagai shalat lima waktu.

Terlepas dari pendapat mana yang lebih kuat, yang jelas shalat adalah ibadah yang mulia dan wajib dipersembahkan hanya untuk Allah Subhanahu wa Taʿala. Demikian pula penyembelihan, harus ditujukan semata-mata untuk-Nya. Bahkan, hidup dan mati kita sepenuhnya harus dipersembahkan kepada Allah Jalla wa ʿAla. Allah Subḥanahu wa Taʿala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, bahkan hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. Al-Anʿam [6]: 162)

Ikhwatal Islam rahimakumullah, Ketika seorang Muslim mengetahui bahwa keikhlasan adalah salah satu syarat diterimanya sebuah amalan, maka ia pun harus menyadari bahwa ada syarat lain yang juga harus dipenuhi agar amal tersebut diterima oleh Allah ʿAzza wa Jalla. Syarat tersebut adalah mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam setiap amalan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا، وَنَسَكَ نُسُكَنَا، فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَلَا نُسُكَ لَهُ

“Barangsiapa yang shalat sebagaimana shalat kami dan menyembelih sebagaimana aturan kami, maka sungguh ia telah benar dalam pelaksanaan ibadah kurban. Namun, barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Idul Adha, maka sesungguhnya itu hanyalah sembelihan biasa sebelum shalat dan tidak termasuk ibadah kurban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian seorang sahabat mengatakan:

فَإِنِّي نَسَكْتُ شَاتِي قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Sesungguhnya aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda: “Sembelihanmu itu hanyalah daging (biasa).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa dalam menyembelih kurban, harus mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu setelah shalat Id. Tidak hanya dalam ibadah kurban, tetapi juga dalam seluruh bentuk ibadah dan amalan lainnya, kita harus senantiasa berusaha untuk meneladani dan menyesuaikan diri dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antaranya ketika ada seorang sahabat masuk ke dalam masjid kemudian shalat. Setelah shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

“Ulangi shalatmu karena engkau belum shalat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Padahal sahabat tadi sudah shalat, Rasulullah menyuruhnya shalat kembali 3 kali.

 Kemudian sahabat tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak tahu lagi selain ini.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  pun mengajarinya tata cara shalat yang baik dan benar. Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Hal ini menunjukkan bahwa dalam beribadah, seorang muslim tidak bisa bertindak bebas. Ibadah harus dilakukan dengan keikhlasan karena Allah Jalla wa ‘Ala dan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagai penutup, Allah Subḥanahu wa Taʿala  berfirman:

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kawtsar [108]: 3)

Ketika salah seorang putra Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, sebagian orang-orang kafir Quraisy berkata, “بَتَرَ مُحَمَّدٌ.” Maksudnya, “Muhammad telah terputus”. Mereka mengira bahwa karena beliau tidak memiliki anak laki-laki, maka nasabnya akan terputus dan beliau akan dilupakan oleh zaman, tidak akan dikenang lagi. Maka turunlah ayat yang menegaskan bahwa justru mereka orang-orang yang membenci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  yang akan terputus.

Mereka (yang membenci Rasulullah) yang akan terputus, akan dilupakan oleh zaman, atau jika diingat, maka dikenang dengan kehinaan dan celaan. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah Subḥanahu wa Taʿala akan terus meninggikan penyebutan namanya. Dalam Surah Al-Insyirah, Allah berfirman Subḥanahu wa Taʿala :

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (namamu).” (QS. Al-Insyirah [94]: 4)

Ketika seseorang mengucapkan syahadat, ketika ia shalat, ketika ia mengumandangkan azan dan melantunkan dua kalimat syahadat:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Ikhwatal Islam rahimakumullah, inilah hakikat ibadah: harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah Subḥanahu wa Taʿala , dan harus mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mudah-mudahan Allah Subḥanahu wa Taʿala memberikan kepada kita bimbingan dan taufik-Nya untuk senantiasa ikhlas dalam beramal, serta terus mempelajari dan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bagaimana khutbah selengkapnya? Mari download dan simak mp3 khutbah yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Khutbah Idul Adha

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Idul Adha: Kurban Hanya untuk Allah” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses