Shahih Jami' Ash-Shaghir
Tanda Orang Munafik
Tanda Orang Munafik adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 23 Dzulhijjah 1446 H / 19 Juni 2025 M.
Kajian Islam Tentang Tanda Orang Munafik
Para ulama membagi kemunafikan ke dalam dua tingkatan. Munafik ini, secara umum, adalah orang bermuka dua; berbeda antara apa yang disimpan dalam hati dengan apa yang ditampilkan dalam penampilan. Semua sepakat bahwa munafik bukanlah pujian, melainkan celaan. Ulama membagi menjadi dua:
Yang pertama, نِفَاق اعْتِقَادِي (nifaq i‘tiqadi), yaitu نِفَاق atau kemunafikan yang berkaitan dengan keyakinan. Jadi, dalam hatinya menyembunyikan kekufuran, tetapi penampilannya menunjukkan keimanan. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an surah An-Nisa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada kerak neraka.” (QS. An-Nisa: 145)
Dan mereka (orang-orang munafik) lebih parah daripada orang-orang kafir. Karena pembagian manusia dalam Al-Qur’an hanya tiga: yang pertama الْمُؤْمِنُونَ (orang-orang yang beriman), yang kedua الْكَافِرُونَ (orang-orang kafir), dan yang ketiga الْمُنَافِقُونَ (orang-orang munafik). Para مُنَافِقُونَ di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengetahui mereka, bahkan mengetahui nama-nama mereka. Nama-nama itu disampaikan kepada seorang sahabat yang sangat pandai menyimpan rahasia, hingga dijuluki sebagai صَاحِبُ السِّرِّ orang yang menyimpan rahasia Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu Hudzaifah ibnu al-Yaman.
Di Madinah, sampai Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu bertanya kepada Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu anhu “Apakah aku disebutkan termasuk orang munafik?”. Maka, Umar bin Khattab sangat takut jika dirinya termasuk, atau terjangkit penyakit نِفَاق (nifaq). Bahkan, ada sebuah perkataan seorang tabi‘īn yang mengatakan:
أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ
“Aku pernah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semuanya takut akan munculnya sifat nifaq dalam diri mereka.”
Orang yang tahu iman dan tahu bahaya kemunafikan, dia akan takut dengan bahaya satu ini. Tetapi masalahnya, keimanan kita ini lemah, sehingga kita merasa dalam hati ini aman-aman saja. Kalau ada sepuluh orang munafik, aman, insyaallah kita tidak termasuk mereka. Ini sebenarnya, kita berlindung kepada Allah dari sifat munafik. Khawatirnya kita termasuk salah satu dari orang yang terjangkit penyakit itu, tapi kita tidak sadar.
Yang kedua, (النِّفَاقُ الْعَمَلِيُّ) nifaq ‘amali, yaitu kemunafikan yang diperagakan dalam bentuk perbuatan saja, tidak sampai diyakini dalam hati. Contohnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits, ada orang yang apabila berbicara dia berdusta, dan seterusnya. Nah, orang seperti ini tidak sampai kufur, tidak sampai dia keluar dari Islam. Akan tetapi, tetap berbahaya. mereka ini punya “label” atau “jatah” bagian dari sifat itu. Semakin banyak jatah itu, maka semakin profesional kemunafikannya. Dan subhanallah, yang seperti ini diabaikan oleh orang-orang, padahal ini jelas-jelas dan semua orang tahu bahwa ini adalah sifat yang tercela sekali.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan:
آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ
“Tanda orang beriman adalah mencintai (sahabat) dari kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci (sahabat) dari kaum Anshar.” (HR. Ahmad)
Hadits ini berkaitan dengan keistimewaan orang Anshar. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa tanda keimanan adalah mencintai orang Anshar. Dalam riwayat lain disebutkan:
لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَيُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، فَمَن أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَن أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ
“Tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang beriman, dan tidak ada yang membenci mereka kecuali orang munafik. Maka barang siapa mencintai mereka, Allah mencintainya, dan barang siapa membenci mereka, Allah membencinya.”
Orang Anshar adalah orang-orang yang menyambut kedatangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan mempersilakan rumah mereka, jiwa, dan jasad serta seluruh yang mereka miliki untuk membela agama Allah ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diusir dari Makkah. Ternyata, merekalah yang membuka tangan lebar-lebar.
Sampai saat ini, Madinah diberikan julukan Dar al-Hijrah (tempat hijrah) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Keutamaan ini sampai pada tahap terdapat syariat dalam Islam, yakni orang yang berhijrah tidak boleh kembali ke tempat asalnya. Orang-orang Quraisy yang hijrah ke Madinah sudah meninggalkan kampung halaman mereka. Ketika mereka merasa rindu kepada keluarga di Makkah, mereka diperbolehkan untuk mengunjungi, tetapi tidak boleh tinggal lama-lama. Mereka harus kembali ke Madinah. Apabila mereka pindah kembali ke Makkah, hal tersebut dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Orang-orang Anshar, yang secara umum termasuk dalam kategori sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, merupakan orang-orang yang berjasa menyampaikan syariat ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai menyampaikan Islam. Selanjutnya, para sahabat menyampaikan ajaran tersebut kepada para Tabi‘īn, kemudian para Tabi‘in menyampaikannya kepada generasi Tabi‘u al-Tabi‘īn, dan seterusnya secara turun-temurun hingga saat ini kita dapat menikmati Islam dengan jernih berkat jasa mereka.
Oleh karena itu, ketika musuh-musuh Islam berusaha menghancurkan Islam, mereka tahu cara yang harus dilakukan. Jika mereka mengatakan Islam bobrok, jelek, atau terbelakang, hal tersebut sudah mereka lakukan, baik dengan cara kasar maupun halus; semuanya telah dikerjakan.
Namun, kenyataannya, apabila Islam dihina, orang-orang Islam akan marah. Maka, mereka membuat skenario agar orang Islam tidak sadar. Salah satu caranya adalah dengan menyerang dari sisi para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; mereka dijelekkan, nama baik mereka dirusak, bahkan biografi dan sejarah mereka disalahkan. Artimya itu merupakan tanda sebuah kemunafikan.
Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Tanda Orang Munafik” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




