Shahih Jami' Ash-Shaghir
Bersyukur Saat Lapang, Bersabar Saat Sempit
Bersyukur Saat Lapang, Bersabar Saat Sempit adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 16 Dzulhijjah 1446 H / 12 Juni 2025 M.
Kajian Islam Tentang Bersyukur Saat Lapang, Bersabar Saat Sempit
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَالفَقْرَ تَخَافُونَ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُصَبَّنَّ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا صَبًّا، حَتَّى لَا يَزِيغَ قَلْبُ أَحَدِكُمْ إِنْ أَزَاغَهُ إِلَّا هِيَ، وَأَيْمُ اللَّهِ، لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَىٰ مِثْلِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ
“Apakah kalian takut kepada kemiskinan? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dunia akan dicurahkan kepada kalian dengan jumlah yang banyak, hingga tidak ada hati seorang pun di antara kalian yang menyimpang kecuali karena dunia. Demi Allah, sungguh aku telah meninggalkan kalian di atas jalan (ajaran) yang putih bersih, malam dan siangnya sama.” (HR. Ibnu Majah)
Kita mengetahui bahwa ujian itu ada dua macam. Ada kalanya ujian datang dalam bentuk penderitaan, kesulitan, atau musibah dan dalam keadaan itu, seorang hamba dituntut untuk bersabar. Ada kalanya pula ujian berupa kelapangan, kesuksesan, kekayaan, kepercayaan, dan seterusnya dan tugas seorang Muslim dalam kondisi ini adalah bersyukur. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (fitnah).” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 35)
Para ulama membandingkan, manakah yang lebih afdhal: orang miskin yang sabar atau orang kaya yang bersyukur? Hal ini dinukil oleh Al-Qurṭubi Rahimahullah. Kalau kita diberi pilihan, kira-kira mana yang akan kita pilih? Menjadi orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang sabar? Mungkin kebanyakan dari kita akan memilih menjadi orang kaya yang bersyukur. Tidak apa-apa, kita ingin ujian yang ringan saja.
Akan tetapi, subḥanallah, jika kita melihat kenyataan, banyak orang yang justru mampu bertahan dengan kesabaran ketika ditimpa ujian berat. Ia tetap kuat membaja, dan berusaha melewati rintangan-rintangan itu. Namun, ketika diuji dengan kelapangan hanya sedikit saja ternyata langsung gagal. Lupa daratan, bahkan jatuh ke dalam kemaksiatan. Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan selalu sukses, atau bahwa akhir hidupnya akan baik. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya (akhirnya).” (HR. Bukhari)
Seseorang mungkin pada awalnya khusyuk, rajin berdoa, semangat mengikuti pengajian. Namun setelah sukses, jangankan mengaji, bahkan shalat pun sering tertinggal. Idealisme dalam beragama dan beribadah mulai memudar, meremehkan urusan agama, menggampangkan, bahkan satu demi satu kemaksiatan mulai dikerjakan. Mudah-mudahan Allah hindarkan kita semua dari hal demikian. Allah Subḥanahu wa Ta‘ala berfirman:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ [34]: 13)
Maka, tidaklah mudah menjadi hamba yang benar-benar bersyukur.
Al-Qurṭubi mengatakan, “Mana yang lebih afdal antara orang miskin yang sabar dan orang kaya yang bersyukur?” Beliau menjelaskan bahwa ada lima pendapat, diantaranya:
Pendapat pertama mengatakan bahwa orang kaya yang bersyukur lebih afdal karena ia dapat beramal lebih banyak dibanding orang miskin.
Pendapat kedua menyatakan bahwa orang miskin yang sabar lebih afdhal karena ia tidak banyak mengalami gangguan atau rintangan. Ia hanya diuji untuk bersabar dan berusaha tegar dalam melewati ujian Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ia akan terhormat ketika mampu bersabar menghadapi segala keterbatasan, namun tetap tenang.
Pendapat ketiga, kata Al-Qurtubi rahimahullah, yang paling afdal adalah yang kafaf (ٱلْكَفَاف), yaitu orang yang bisa menjaga kehormatan diri sendiri. Meskipun miskin, ia tidak meminta-minta, tetap merasa tidak butuh kepada orang lain, dan mampu bersabar dengan rezeki yang seadanya. Ia berkata, “Cukuplah, alhamdulillah,” dan tidak minder, atau mencari muka. Demikian pula orang kaya. Ia tidak merendahkan orang lain dan berusaha untuk tidak merepotkan siapa pun. Justru dengan rezekinya, ia berupaya memberi manfaat, bukan sekadar tidak merepotkan. Dan ini yang bagus.
Pendapat keempat mengatakan bahwa keutamaannya tergantung pada orangnya. Terkadang orang miskin yang sabar lebih afdhal, terkadang orang kaya yang bersyukur lebih utama. Hal ini bergantung pada masing-masing personal, dan tidak bisa dipukul rata atau dihukumi sama untuk semua.
Pendapat kelima adalah tawakkuf, yakni tidak berkomentar, karena keduanya memiliki keutamaan. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Para ulama salaf tidak biasa membandingkan dua kenyataan tersebut. Yang paling afdal adalah yang paling bertakwa. Jika seorang miskin memiliki ketakwaan karena ia sabar, berdoa dengan khusyuk, meminta hanya kepada Allah, dan tidak bergantung kepada makhluk serta manusia, maka alangkah baiknya keadaan tersebut.
Ada sebuah riwayat yang mengatakan:
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang yang shalih.” (HR. Ahmad)
Sehingga penggunaannya bisa sesuai dengan keinginan syariat.
Kemudian hadits yang selanjutnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَمَرَكُمْ بِأَرْبَعٍ، وَنَهَاكُمْ عَنْ أَرْبَعٍ، أَمَرَكُمْ بِالإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ، أَتَدْرُونَ مَا الإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ؟ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامُ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ، وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمُسَ مَا غَنِمْتُمْ، وَنَهَاكُمْ عَنِ الدُّبَّاءِ، وَالنَّقِيرِ، وَالْحَنْتَمِ، وَالْمُزَفَّتِ، احْفَظُوهُنَّ وَأَخْبِرُوا بِهِنَّ مَنْ وَرَاءَكُمْ.
“Aku akan memerintahkan kalian dengan empat hal, dan melarang kalian dari empat hal. Aku memerintahkan kalian untuk beriman kepada Allah semata. Tahukah kalian apa itu iman kepada Allah semata? (Yaitu) bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan agar kalian menyerahkan seperlima dari harta rampasan perang yang kalian peroleh. Dan Aku melarang kalian dari (menggunakan wadah) ad-dubba’, an-naqir, al-ḥantam, dan al-muzaffat. Hafalkanlah perkara-perkara ini dan sampaikanlah kepada orang-orang yang ada setelah kalian.”
Ini adalah poin penting: menyekutukan Allah tidak selalu berarti menyembah selain Allah semata. Menyekutukan Allah bisa terjadi ketika seseorang beribadah kepada Allah, tetapi disertai dengan ibadah kepada selain-Nya. Ia tetap dianggap musyrik meskipun tidak meninggalkan ibadah kepada Allah, karena ia tidak memurnikan tauhid. Syirik tidak harus dilakukan oleh orang yang menyembah berhala atau sesembahan lain. Namun, juga dikatakan syirik apabila seseorang tidak mengesakan Allah dalam ibadahnya. Ia berdoa kepada Allah, tetapi terkadang juga berdoa kepada selain-Nya. Maka jangan sampai ada orang yang terjangkit penyakit syirik
Dan beliau melarang dari empat hal. Tadi telah disebutkan: ad-dubba’, al-ḥantam, al-muzaffat, dan an-naqir. Larangan ini berkaitan dengan model dan bahan dari wadah-wadah yang digunakan yang pada masa itu cepat menyebabkan fermentasi dan memabukkan. Namun, akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengizinkan: silakan menggunakan bahan apapun, selama yang diminum tidak memabukkan.
Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Bersyukur Saat Lapang, Bersabar Saat Sempit” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




