Rodja Peduli

Kaidah Fiqih - Mandzuumah Ushuulil Fiqhi wa Qawaa'idihi

Contoh Penerapan dari Kaidah Fiqih: Sesuatu yang Kurang Utama bisa Menjadi Lebih Utama – Bait 85 – Bagian ke-1 (Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.)

By  |  pukul 10:40 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 30 Mei 2014 pukul 9:50 am

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=6257

Kajian kaidah fiqih oleh: Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

Berikut ini merupakan lanjutan dari pelajaran Kaidah Fiqih yang disampaikan oleh Ustadz Kurnaedi pada Kamis pagi, 8 Rajab 1435 / 8 Mei 2014 di Radio Rodja dan RodjaTV. Pada pertemuan sebelumnya, Ustadz Kurnaedi telah menjelaskan Kaidah Fiqih Bait yang ke-85, dan pada kajian kali ini beliau akan menjelaskan beberapa contoh dari penerapan kaidah fiqih bait tersebut, yaitu Bait 85, yang akan beliau paparkan adalah kaidah yang berbunyi “Sesuatu yang Kurang Utama bisa Menjadi Lebih Utama“. Semoga bermanfaat.

[sc:status-kaidah-fiqih-ustadz-kurnaedi-2013]

Ringkasan Kajian Kaidah Fiqih

Contoh Penerapan dari Kaidah Fiqih Bait ke-85: Sesuatu yang Kurang Utama bisa Menjadi Lebih Utama (رُبَّ مَفْضُوْلٍ يَكُوْنُ أَفْضَلًا) Bagian ke-1

Betapa banyak sesuatu yang kurang utama akan menjadi hal yang utama. Maksudnya adalah sesuatu yang awalnya tidak kita lakukan karena ada yang lebih utama, namum terkadang pada kondisi tertentu hal itu harus kita lakukan karena lebih utama dari yang lainnya.

Baca Juga:
Kaidah Fiqih: Bolehnya Mengambil Harta yang Dibolehkan secara Syari'at walaupun dengan Sembunyi-sembunyi - Bait 76 (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Sesuatu yang kurang utama bisa menjadi lebih utama, jika ada sebab yang menuntut hal itu. Dan contoh dari hal ini sangatlah banyak, di antaranya adalah:

– Pada asalnya, melakukan shalat sunnah qabliyyah afdhalnya dilakukan sebelum shalat wajib, bahkan apabila sesorang melakukannya dengan sengaja setelah setelah shalat wajib, maka shalatnya tidak diterima. Akan tetapi apabila orang tersebut disibukkan dengan suatu hal (misalnya ilmu) yang terpaksa ia harus mengakhirkan shalat qabliyyah itu hingga setelah shalat wajib, maka yang kurang utama ini bisa menajdi utama. Kurang utamanya adalah mengakhirkan shalat qabliyyah hingga setelah shalat wajib, dan yang utama adalah melaksanakn shalat qabliyyah tersebut tepat pada waktunya.

– Hukum asal shalat di awal waktu itu lebih utama, namun ketika cuaca sangat panas, maka mengakhirkan shalat hingga cuacanya dingin itu bisa lebih utama. Contohnya di sini adalah mengakhirkan shalat dhzuhur hingga cuacanya lebih dingin (tentunya harus tetap diadakan secara berjamaah). Begitu juga shalat isya’, afdhalnya adalah dilaksanakan pada akhir waktu (seperti yang disebutkan dalam hadits). Namun, apabila hal ini memberatkan jamaah yang lain, maka melaksanakannya di awal waktu itu tentu lebih baik.

– Apabila ada seseorang tinggal di Mekah, dan dia ingin melakukan thawaf atau ibadah yang lain, namun ia tinggal jauh dari Masjidil Haram. Ketika ia umrah dan berkunjung ke Masjidil Haram, maka dia jadi bingung, apakah dia memperbanyak thawaf atau sebaiknya dia melakukan ibadah-ibadah yang lainnya? Maka ulama menjelaskan bahwa, orang seperti ini lebih baik menyibukan diri untuk thawaf dari pada ibadah yang lainnya. Hal ini karena dia tidak bisa melakukan thawaf di selain Masjidil Haram. Sedangkan ibadah-ibadah yang lainnya bisa ia lakukan di tempat asalnya.

Baca Juga:
Kaidah Fiqih: Setiap Orang yang Diberi Amanah ketika Berkata telah Mengembalikan Apa yang Diamanahkan, maka Perkataan Itu Diterima - Bait 73 (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

– Dan sebagainya.

Bagaimana penjelasan rinci penerapan kaidah ini? Download rekaman ceramah agama ini dan simak penjelasan Ustadz Kurnaedi tentang kaidah ini, yang beliau ambil dari Mandzumah Ushulil Fiqhi wa Qawaidihi karya Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala.

Download Kajian Kaidah Fiqih, Kitab Mandzumah Ushul Al-Fiqh wa Qawa’idihi: Penerapan Kaidah “Sesuatu yang Kurang Utama bisa Menjadi Lebih Utama (Bagian ke-1)”

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 2

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.