Telegram Rodja Official

Syarh Riyaadhush Shaalihiin

Bab Haramnya Riya – Bagian ke-2 – hingga Bab Larangan Berkhalwat dengan Wanita Bukan Mahram – Bagian ke-1 – Bab 288-291 – Kitab Riyadhush Shalihin (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr)

By  | 

Ceramah agama dan pengajian Islam dengan pembahasan kitab Riyadhush Shalihin oleh: Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr
Penerjemah: Ustadz Anas Burhanuddin, M.A.

Berikut ini merupakan rekaman pengajian kitab Syarah Riyadhush Shalihin yang disiarkan live pada Senin sore, 10 Syaban 1435 / 9 Juni 2014 di Radio Rodja dan RodjaTV. Pada pengajian sebelumnya, telah disampaikan mengenai pembahasan Bab 285 hingga Bab 288 (Bagian ke-1), dan pada pembahasan kali ini Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdilmuhsin Al-‘Abbad Al-Badr Bab Haramnya Riya (Bagian ke-2) hingga Bab Larangan Berkhalwat dengan Wanita Bukan Mahram (Bagian ke-1).

[sc:status-riyadhush-shalihin-syaikh-abdur-razzaq-abdul-muhsin-2013]

Daftar Isi

Baca Juga:
Aqidah Ahlussunnah terhadap Al-Qur'an - Bagian ke-2 - Kitab Aqidah As-Salaf Ashabul Hadits (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Pembahasan dalam Rekaman Pengajian Kitab Riyadhush Shalihin Ini: Kitab Perkara-perkara yang Dilarang (كتَاب الأمُور المَنهي عَنْهَا)

Bab ke-288: Bab Haramnya Riya’ (باب تحريم الرياء) Bagian ke-2

[00:01]
Di antara dalil tentang haramnya riya’ adalah:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda”:

إنَّ أَولَ النَّاسِ يُقْضَى يَومَ القِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعْمَتَهُ، فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ! فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ العِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ القُرآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ العِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ، وَقَرَأتُ فِيكَ القُرآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ! وَقَرَأتَ القُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ؛ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأعْطاهُ مِنْ أصْنَافِ المَالِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ، فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، ولكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: جَوَادٌ! فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ. رواه مسلم.

“Sesungguhnya orang pertama yang akan diadili kelak pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang syahid (gugur di medan perang). Setelah dibawa menghadap Allah, ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmatNya untuk diakui. Dia pun mengakui nikmat-nikmat itu. Allah bertanya: “Lalu apa yang kamu lakukan dengan nikmat itu?” Jawabnya: “Aku berperang karena Engkau, hingga mati syahid.” Allah berfirman: “Kamu dusta! Tetapi, kamu berperang agar dikatakan sebagai seorang pemberani.” Dan hal itu telah dikatakan. Kemudian, diperintahkan untuk membawa orang itu, lalu diseret dengan posisi wajah di permukaan tanah, sampai dilemparkan ke dalam api neraka.

Baca Juga:
Bolehkah Menanyakan Dimanan Allah? - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Setelah itu, seorang laki-laki yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Quran. Setelah dibawa menghadap Allah, ditunjukkan nikmat-nikmatNya untuk diakui. Dia pun mengakui nikmat itu. Allah bertanya: “Lalu, apa yang kamu lakukan dengan nikmat itu?” Jawabnya: “Aku mencari ilmu dan mengajarkannya. Aku pun membaca Al-Quran karena Engkau.” Allah berfirman: “Kamu berdusta! Akan tetapi, kamu menuntut ilmu agar dikatakan sebagai seorang alim. Kamu pun membaca Al-Quran agar dikatakan sebagai seorang Qari’, dan hal itu telah dikatakan.” Kemudian, diperintahkan orang itu untuk dibawa, lalu diseret dengan posisi wajah di permukaan tanah, sampai dilemparkan ke dalam api neraka.

Selanjutnya, seorang laki-laki yang Allah lapangkan kehidupannya. Allah mengaruniainya berbagai macam harta. Setelah dibawa menghadap Allah, ditunjukkanlah kepadanya nikmat-nikmatNya untuk diakui. Dia pun mengakuinya. Allah bertanya: “Lalu, apa yang kamu lakukan dengan nikmat itu?” Jawabnya: “Aku tidak pernah meninggalkan satu jalan pun yang Engkau cintai untuk bersedekah, melainkan aku pasti bersedekah di jalan itu karenaMu.” Allah berfirman: “Kamu berdusta!. Akan tetapi, kamu melakukan hal itu agar dikatakan sebagai orang dermawan. Dan hal itu telah dikatakan. Kemudian, diperintahkan untuk membawa orang itu, lalu diseret dengan posisi wajah di permukaan tanah, sampai dilemparkan ke dalam api neraka.”” (HR Muslim)

Bab ke-289: Sesuatu yang Diduga Riya’, tetapi Ternyata Bukan (باب مَا يتوهم أنَّه رياء وليس هُوَ رياء)

[09:28]
Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya:

Baca Juga:
Bab Dusta yang Diperbolehkan hingga Bab Larangan Melaknat Orang Tertentu atau Binatang - Bagian ke-1 - Bab 261-264 - Kitab Riyadhush Shalihin (Syaikh Prof. DR 'Abdur Razzaq bin 'Abdil Muhsin Al-Badr)

أرَأيْتَ الرَّجُلَ الَّذِي يَعْمَلُ العَمَلَ مِنَ الخَيْرِ، وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى المُؤْمِنِ. رواه مسلم

“Beritahukanlah kepadaku mengenai seseorang yang melakukan kebaikan, lalu dia dipuji oleh orang-orang?” Beliau menjawab: “Itulah kabar gembira seorang mukmin yang disegerakan.” (HR Muslim)

Bab ke-290: Larangan Melihat Wanita yang Bukan Mahram dan Amrad (Pemuda Tampan yang Belum Baligh) (باب تحريم النظر إِلَى المرأة الأجنبية والأمرد الحسن لغير حاجة شرعية)

[12:30]
Allah Ta’ala berfirman:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya.” (QS An-Nur [24]: 30)

Bab ke-291: Larangan Berkhalwat Bersama Wanita Bukan Mahram (باب تحريم الخلوة بالأجنبية) Bagian ke-1

[42:48]
Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.” (QS Al-Ahzab [33]: 53)

Silakan simak selengkapnya pengajian kitab Riyadhush Shalihin selengkapnya bersama Asy-Syaikh ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr hafidzahullah. Semoga bermanfaat.

Dengarkan dan Download Seri Kajian Kitab Syarah Riyadhush Shalihin – Syaikh ‘Abdur Razzaq: Bab Haramnya Riya (Bagian ke-2) hingga Bab Larangan Berkhalwat dengan Wanita Bukan Mahram (Bagian ke-1)

Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link download pengajian ini ke Facebook, Twitter, dan Google+ Anda. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda semua.

Baca Juga:
Bab Karomah Para Wali dan Keutamaan Mereka - Bagian ke-2 - Bab 253 - Kitab Riyadhush Shalihin (Syaikh Prof. Dr. 'Abdur Razzaq bin 'Abdil Muhsin Al-Badr)
Telegram Rodja Official

1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.