Telegram Rodja Official

Tajriidut Tauhiid Al-Mufiid

Beberapa Syubhat yang Berkaitan dengan Kesyirikan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Musyrik – Kitab Tajridut Tauhid Al-Mufid (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

By  | 

Notice: Undefined variable: PodpressSettings in /home/radiorod/public_html/wp-content/plugins/powerpress/powerpress.php on line 3565

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.

Berikut ini adalah rekaman pengajian yang membahas masalah pemurnian aqidah dan tauhid yang sangat bermanfaat. Pengajian ini dikaji oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan dari kitab Tajridut Tauhid Al-Mufid, karya seorang ulama besar mazhab Syafi’i yang bernama Imam Taqiyyuddin Ahmad bin ‘Ali Al-Maqrizi rahimahullah. Pengajian ini disampaikan pada Jumat, 21 Syaban 1435 / 20 Juni 2014, pukul 05:30-07:00 WIB live di Radio Rodja. Pada pertemuan yang lalu, beliau telah menjelaskan tentang Kesyirikan di Dalam Niat dan Keinginan. Dan pada pertemuan kali ini, beliau akan menjelaskan tentang “Beberapa Syubhat yang Berkaitan dengan Kesyirikan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Musyrik“. Semoga bermanfaat.

Program Kajian Kitab Tajridut Tauhid Al-Mufid - Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. di Radio Rodja

Simak program ini hanya di Radio Rodja setiap:

Jumat pagi, 05:30-07:00 WIB



Status program Kajian Kitab Tajridut Tauhid: AKTIF

Ringkasan Pengajian Kitab Tajridut Tauhid Al-Mufid (تجريد التوحيد المفيد)

Beberapa Syubhat yang Berkaitan dengan Kesyirikan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Musyrik

Tauhid merupakan hak Allah yang wajib ditunaikan oleh setiap hambaNya. Dan sebaliknya, syirik merupakan bentuk kedurhakaan kepada Allah Ta’ala, dan syirik merupakan dosa terbesar yang bisa menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka jika pelakunya tidak bertaubat sebelum ajal menjemputnya.

Baca Juga:
Larangan Menyembelih karena Allah di Tempat Penyembelihan yang Bukan karena Allah - Kitab Tauhid (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Setiap hamba Allah wajib membersihkan dirinya dari segala macam bentuk kesyirikan, baik itu kesyirikan di dalam perkataan, perbuatan atau keinginan. Dan ini merupakan bentuk aplikasi dari kalimat laa ilaha illallah.

Syaikh Imam Taqiyyuddin Ahmad bin ‘Ali Al-Maqrizi rahimahullah berkata:

فإن قيل المشرك إنما قصد تعظيم جناب الله تعالى وأنه لعظمته لا ينبغي الدخول عليه إلا بالوسائط والشفعاء كحال الملوك. فالمشرك لم يقصد الاستهانة بجناب الربوبية، وإنما قصد تعظيمه وقال: إِيَّاكَ نَعْبُد، وإنما أعبد هذه الوسائط لتقربني إليه وَتَدخُلَ بي عليه، فهو الغاية، وهذه وسائل، فَلِمَ كان هذا القدر موجباً لسخط الله تعالى وغضبه، ومخلداً في النار وموجباً لسفك دماء أصحابه واستباحة حريمهم وأموالهم؟ وهل يجوز في العقل أن يشرع الله تعالى لعباده التقرب إليه بالشفعاء والوسائط فيكون تحريم هذا إنما استفيد بالشرع فقط أم ذلك قبيح في الشرع ، والعقل يمنع أن تأتيَ به شريعة من الشرائع؟ ومالسر في كونه لا يغفر من بين سائر الذنوب كما قال تعالى: إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ. النساء: من الآية (٤٨).

“Jika ada yang bertanya (tentang syubhat) dengan mengatakan, “Seorang musyrik itu tidak lain tujuannya hanyalah ingin mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala (menurutnya) karena keagunganNya, tidak pantas seseorang berinteraksi denganNya kecuali dengan perantara dan para pemberi syafa’at, seperti halnya para raja. Maka orang-orang musyrik tidak bermaksud untuk menghina atau merendahkan kedudukan rububiyyah Allah, tidak lain tujuan mereka adalah untuk mengagungkan Allah. Mereka mengatakan إِيَّاكَ نَعْبُد, dan perantara-perantara yang saya ibadahi ini, hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan agar bisa berinteraksi dengan Allah. Dan Allah lah yang menjadi tujuan, sementara hal ini adalah sekedar perantara. Jika hanya demikian, kenapa hanya sekedar ini saja menjadi penyebab datangnya kemurkaan dan amarah Allah Ta’ala, dan menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka, dan menjadikannya boleh untuk diperangi, dan juga dihalalkan keluarga dan harta-harta mereka. Apakah diperbolehkan secara akal, Allah swt mensyaraiatkan kepada hamba-hambaNya untuk mendekatkan diri kepadaNya melalui perantara-perantara terseebut? Sehingga keharaman hal ini hanya berdasarkan syariat saja? Atau yang demikian itu juga adalah hal yang tercela di dalam agama dan akal? Sehingga mustahil syariat dari syariat-syariat sebelumnya membawa hal yang demikian. Dan apa rahasia mengapa Allah tidak mengampuni dosa kesyirikan, seperti yang tertera di dalam firmanNya: ” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. (QS An-Nisa [4]: 48)”.”

Baca Juga:
Sikap Seorang Muslim terhadap Para Sahabat Nabi, dst - Poin 39-41 - Kitab Al-Ibanah Ash-Shughra (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Bagaimana penjelasan selengkapnya dari pembahasan ini? Simak penjelasan lengkapnya bersama Ustadz Muhammad Nur Ihsan dalam pembahasan Kitab Tajridut Tauhid, dengan download pengajian yang bermanfaat ini. Semoga bermanfaat.

Dengarkan dan Download Pengajian Kitab Tajridut Tauhid Al-Mufid: Beberapa Syubhat yang Berkaitan dengan Kesyirikan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Musyrik

Silakan bagikan hasil rekaman ataupun link pengajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda semua.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.