Telegram Rodja Official

Syarh Buluughul Maraam

Sifat Shalat Nabi – Bagian ke-15: Dianjurkan Mengeraskan Lafadz Amin setelah Membaca Al-Fatihah – Hadits 283-284 – Kitab Bulughul Maram (Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)

By  | 

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Zainal Abidin Syamsudin

Ceramah agama dari Bab Sifat Shalat Nabi, kitab Bulughul Maram, karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, yang telah disampaikan beberapa seri pembahasan haditsnya. Pembahasan yang telah lalu mengupas Hadits 282 tentang Basmalah, Apakah Bagian dari Surat Al-Fatihah?). Kemudian pada kesempatan siaran live pada Rabu malam, 12 Jumadal Akhirah 1436 / 2 April 2015, pukul 20:00-21:30 WIB, Ustadz Zainal Abidin menyampaikan pembahasan lanjutan dari Hadits 283-284 tentang Dianjurkan Mengeraskan Lafadz Amin setelah Membaca Al-Fatihah.

[sc:status-syarah-bulughul-maram-ustadz-zainal-abidin-2013]
[sc:ralat-seri-sifat-shalat-nabi-ustadz-zainal]

Ringkasan Ceramah – Kajian Kitab Bulughul Maram: Bab Sifat Shalat Nabi (بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ)

Sifat Shalat Nabi (Bagian ke-15: Dianjurkan Mengeraskan Lafadz Amin setelah Membaca Al-Fatihah – Hadits 283-284)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ أُمِّ اَلْقُرْآنِ رَفَعَ صَوْتَهُ وَقَالَ : “آمِينَ”.

“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam ketika selesai membaca Ummul Qur’an (Surat Al-Fatihah) mengangkat suara beliau dan mengatakan: “Aamiin.”” (Dihasankan oleh Ad-Daraquthni, dan Imam Hakim menshahihkan hadits ini dalam kitab Mustadrak-nya.”

Baca Juga:
Ekonomi Hancur karena Riba (Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.)

Hadits ini adalah hadits dha’if, namun kenapa para ulama menyatakan bahwa hadits ini adalah hasan?
Karena di sana ada hadits yang menjadi syahid, yang inilah menjadi dasar oleh Imam Al-Hafidz (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menurunkan hadits ini beriringan, yaitu hadits dari Wa-il ibnu Hujr, yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud di dalam Sunan-nya, juga oleh Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan-nya, dari jalan Sufyan ibnu Ats-Tsauri, Salamah ibnu Kuhail, dari Hujr ibnu Anbas Al-Hadhrami, yang dikatakan oleh Imam Al-Albani bahwa seluruh perawinya adalah perawi Shahihain, kecuali Hujr ibnu Anbas Al-Hadhrami.

Dari Wa’il ibnu Hujr radhiyallahu ‘anhu:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” قَرَأَ : غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ فَقَالَ : آمِينَ وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ

“Saya mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “Ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin” (QS Al-Fatihah [1]: 7), maka beliau mengucapkan, “Aamiin” dan memanjangkan suaranya.”

Hadits ini dinyatakan hasan oleh Imam At-Tirmidzi. Kata Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar, sanadnya shahih, juga Syaikh Albani mengatakan sanad-nya jayyid dan rijalnya adalah rijalush Shihaini kecuali Hujr ibnu ‘Anbas Al-Hadhrami, tetapi dia (Hujr bin ‘Anbas) tetap seperti yang ditegaskan oleh Imam Al-Hafidz di dalam kitab Taqrib-nya shaduqun, yaitu jujur.

Dengan rangkaian 2 riwayat inilah, hadits yang pertama itu bisa kita katakan hadits shahih, karena di sana ada syahid.

Baca Juga:
Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah - Ensiklopedi Larangan dalam Islam (Ustadz Mahfudz Umri, Lc.)

Mari kita lanjutkan untuk mempelajari tata cara shalat yang benar sesuai tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui kitab kenamaan Bulughul Maram dengan mendownload ceramah agama ini.

Download Kajian Kitab Bulughul Maram: Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (Bagian ke-15: Dianjurkan Mengeraskan Lafadz Amin setelah Membaca Al-Fatihah – Hadits 283-284)

Ayo share ceramah agama penuh manfaat seri pembahasan shalat yang tentunya tidak bisa diabaikan oleh Muslimin. Share ke Facebook, Twitter, dan Google+ sekarang juga yuk.

Telegram Rodja Official

1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.