Telegram Rodja Official

Fiqih Wanita

Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Haid, Istihadhah, dan Nifas – Bagian ke-3 – Tuntunan Praktis Fiqih Wanita (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

By  |  pukul 10:10 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 17 Mei 2017 pukul 2:33 pm

Tautan: http://rodja.id/11z

Kajian Islam oleh: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Berikut ini adalah rekaman kajian dan ceramah agama yang disiaran live di Radio Rodja dan Rodja TV pada Rabu pagi, 23 Jumadal Akhirah 1438 / 22 Maret 2017. Kajian ini membahas Kitab “تنبيهات على أحكام تختص بالمؤمناتTanbiihaat ‘alaa Ahkaamin Takhtashshu bil Mu’minaat atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan “Tuntunan Praktis Fiqih Wanita” yang merupakan karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah.

Kajian ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin dengan pembahasan mengenai “Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Haid, Istihadhah, dan Nifas (Bagian ke-3)“. Kajian ini lebih membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan fiqih wanita.

Download kajian sebelumnya: Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Haid, Istihadhah, dan Nifas (Bagian ke-2)

Ringkasan Kajian Kitab Tuntunan Praktis Fiqih Wanita: Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Haid, Istihadhah, dan Nifas (Bagian ke-3)

Pembahasan kali ini adalah seputar hukum cairan shufrah dan kudrah. Shufrah yaitu cairan seperti nanan kekuning-kuningan, dan kudrah yaitu cairan seperti air keruh.

Apabila wanita mengeluarkan kudrah atau shufrah pada masa rutinitas bulanannya, maka itu dapat diartikan haid yang berlaku hukum haid seperti yang telah dibicarakan sebelumnya.

Baca Juga:
Kautamaan Menjenguk Orang Sakit dan Hadits Tentang Sakit

Dan jika salah satu dari keduanya (kudrah atau shufrah) keluar pada wanita di luar masa rutinitasnya, maka itu diartikan sesuatu yang lain (bukan haid), dan wanita tersebut dianggap dalam keadaan suci.

Hal ini berdasarkan perkataan Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha:

كُنَّا لَا نَعُدُّ اَلْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ اَلطُّهْرِ شَيْئًا

“Kami tidak menghitung kudrah dan shufrah sebagai sesuatu pada masa suci (setelah suci dari haid)” (Hadits marfu diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Bukhari)

Simak penjelasan Ustadz Ahmad Zainudin selengkapnya tentang hal tersebut di dalam rekaman kajian berikut ini. Semoga bermanfaat.

Download Kajian Kitab Tuntunan Praktis Fiqih Wanita: Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Haid, Istihadhah, dan Nifas (Bagian ke-3)


Jangan lupa untuk turut membagikan link download kajian ini ke akun media sosial yang Anda miliki, baik Facebook, Twitter, Google+, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahufiikum

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

29 − 25 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.