Syarh Riyaadhush Shaalihiin
Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib dan Berapa Rakaat yang Paling Sempurna, dst – Bab 195-198 – Kitab Riyadhush Shalihin (Syaikh Prof. DR ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr)
Ceramah agama tentang kajian kitab Riyadhush Shalihin oleh: Syaikh Prof. DR ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr
Penerjemah: Ustadz Firanda Andirja, M.A.
Ceramah ini adalah yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin Al-Abbad Al-Badr pada Senin sore, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013, pukul 16:45-17:45 WIB di Radio Rodja dan RodjaTV, dengan didampingi penerjemahan oleh Ustadz Firanda Andirja. Melanjutkan pembahasan bab sebelumnya dari kitab Riyadhush Shalihin min Kalamis Sayyidil Mursalin, yaitu bab ke-194 tentang Meluruskan dan Merapatkan Shaf dalam Shalat, maka kita kini akan mempelajari mulai dari bab ke-195 hingga bab ke-198, yaitu dimulai dengan “Keutamaan Shalat-shalat Sunnah Rawatib yang Dikerjakan Beriringan bersama Shalat-shalat Fardhu serta Berapa Rakaat yang Paling Sedikit, yang Paling Sempurna, dan yang Ada di antara Keduanya“.
NB: Tidak ada sesi tanya-jawab pada saat kajian berlangsung.
[sc:status-riyadhush-shalihin-syaikh-abdur-razzaq-abdul-muhsin-2013]Pembahasan dalam Rekaman Kajian Kitab Riyadhush Shalihin Ini: Kitab Fadhilah / Keutamaan Amal (كتَاب الفَضَائِل
Bab ke-195: Bab Keutamaan Shalat-shalat Sunnah Rawatib yang Dikerjakan Beriringan bersama Shalat-shalat Fardhu serta Berapa Rakaat yang Paling Sedikit, yang Paling Sempurna, dan yang Ada di antara Keduanya (باب فضل السنن الراتبة مع الفرائض وبيان أقلها وأكملها وما بينهما)
[00:16]
Dari Ummul Mukminin, Ummu Habibah, Ramlah binti Abi Sufyan radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي للهِ تَعَالى كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيرَ الفَرِيضَةِ، إلاَّ بَنَى الله لَهُ بَيْتًا في الجَنَّةِ، أو إلاَّ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الجَنَّةِ
“Tidak ada seorang hamba Muslim pun yang shalat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap hari 12 rakaat shalat sunnah–bukan shalat wajib, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan bangunkan bagi dia sebuah istana atau rumah di surga.” (H.R. Muslim)
Dua belas raka’at shalat sunnah rawatib tersebut adalah: 2 rakaat sebelum shalat Subuh, 4 rakaat sebelum shalat Dzuhur, 2 rakaat setelah shalat Dzuhur, 2 rakaat setelah shalat Maghrib, dan 2 rakaat setelah shalat Isya’.
Bab ke-196: Bab Penekanan Dua Shalat Sunnah sebelum Subuh (باب تأكيد ركعتي سنّةِ الصبح)
[11:40]
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الغَدَاةِ
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan 4 rakaat sebelum Dzuhur dan 2 rakaat sebelum Subuh.” (H.R. Bukhari)
Bab ke-197: Bab Meringankan Shalat Sunnah Dua Rakaat sebelum Subuh serta Penjelasan Apa yang Dibaca padanya dan Kapan Dilaksanakannya (باب تخفيف ركعتي الفجر وبيان مَا يقرأ فيهما وبيان وقتهما)
[31:09]
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُصَلّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan dua rakaat yang ringan (yang cepat) di antara adzan dan iqomah dari shalat Subuh.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
يُصَلِّي رَكْعَتَي الفَجْرِ، فَيُخَفِّفُهُمَا حَتَّى أقُولَ: هَلْ قَرَأَ فِيهما بِأُمِّ القُرْآنِ.
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika mendengar adzan adzan Subuh dikumandangkan, maka beliau pun melaksanakan dua rakaat sebelum Subuh dan beliau ringankan dua rakaat tersebut sampai-sampai aku (‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Apakah Nabi membaca surat Al-Fatihah atau tidak dalam dua rakaat tersebut?” (Karena saking cepatnya Nabi mengerjakan dua shalat sebelum Subuh tersebut.)” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim:
كَانَ يُصلِّي رَكْعَتَي الفَجْرِ إذَا سَمِعَ الأذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan dua rakaat sebelum Subuh jika beliau mendengar dikumandakannya adzan dan beliau mempercepat / meringankan dua rakaatnya tersebut.”
Bab ke-198: Bab Anjuran untuk Berbaring di Atas Lambung Kanan setelah Shalat Dua Rakaat sebelum Subuh, baik telah Melaksanakan Shalat Tahajud maupun Tidak (باب استحباب الاضطجاع بعد ركعتي الفجر عَلَى جنبه الأيمن والحث عليه سواءٌ كَانَ تَهَجَّدَ بِاللَّيْلِ أمْ لا)
[45:14]
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كَانَ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – إذَا صَلَّى ركعتي الفجر، اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَن.
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah selesai shalat dua rakaat sebelum Subuh maka beliau pun berbaring di atas lambung kanannya.” (H.R. Bukhari)
Simak untaian penjelasan dari Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin Al-Abbad Al-Badr dengan simak langsung atau download rekaman ini.
Dengarkan dan Download Seri Kajian Kitab Syarah Riyadhush Shalihin – Syaikh ‘Abdur Razzaq: Bab 195-198 – Keutamaan Shalat-shalat Sunnah Rawatib yang Dikerjakan Beriringan bersama Shalat-shalat Fardhu serta Berapa Rakaat yang Paling Sedikit, yang Paling Sempurna, dan yang Ada di antara Keduanya, dst
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Silakan download dan bagi-bagikan rekaman ceramah agama Islam ini kepada saudara-saudara kita. Anda dapat menggunakan menu sosial media yang telah disediakan (like, tweet, dan +1). Jazakumullahu khoiron





16 Comments