Rodja Peduli

Kaidah Fiqih - Mandzuumah Ushuulil Fiqhi wa Qawaa'idihi

Kaidah Fiqih: Bolehnya Mengambil Harta yang Dibolehkan secara Syari’at walaupun dengan Sembunyi-sembunyi – Bait 76 (Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.)

By  |  pukul 10:40 am

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 22 Maret 2014 pukul 1:55 pm

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=5187

Kajian kaidah fiqih oleh: Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

Download kajian oleh Ustadz Kurnaedi berkaitan dengan Kaidah Fiqih yang rutin beliau sampaikan di Radio Rodja dan RodjaTV pada Kamis pagi, 12 Rabi’ul Akhir 1435 / 13 Februari 2014. Pembahasan masih seputar amanah melanjutkan bait ke-75, yaitu bait ke-76 tentang “Bolehnya Mengambil Harta yang Dibolehkan secara Syari’at walaupun dengan Sembunyi-sembunyi“.

[sc:status-kaidah-fiqih-ustadz-kurnaedi-2013]

Ringkasan Kajian Kaidah Fiqih

Bait ke-76: Bolehnya Mengambil Harta yang Dibolehkan secara Syari’at walaupun dengan Sembunyi-sembunyi (وَجَائِزٌ أَخْذُكَ مَالاً اُسْتُحِقْ شَرْعاً ولَوْ سِرًّا كَضَيْفٍ فَهُوَ حَقْ)

[08:55]

Kaidah yang ke-76 ini masih mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kaidah sebelumnya, dan kaidah ini sangat penting untuk kita ketahui karena manfaatnya sangat banyak bagi kehidupan kita.
Di dalam bait yang ke-76, Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وَجَائِزٌ أَخْذُكَ مَالاً اُسْتُحِقْ شَرْعاً ولَوْ سِرًّا كَضَيْفٍ فَهُوَ حَقْ

Boleh bagi Anda untuk mengambil harta yang berhak (yang bisa diambil), yang dibolehkan secara syari’at walaupun sembunyi-sembunyi. Seperti tamu karena dia memiliki hak (jamuan sebagai seorang tamu).

Baca Juga:
Kaidah Fiqih: Orang yang Tidak Mengetahui Maksud dari Lawan Akadnya, maka Akadnya Tidak Rusak dari Sisi Dia - Bait 81-82 (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan kaidah di bait ini, bahwa di sana ada hal yang diperbolehkan bagi siapapun kita untuk mengambil sesuatu yang itu adalah merupakan haknya. Walaupun secara dhzohir hal itu nampaknya sesuatu yang tidak boleh, namun hal itu dibolehkan secara syari’at. Beliau memberikan contoh di sini adalah apabila ada seorang tamu yang berkunjung ke rumah seseorang, kemudian orang tersebut tidak menerima (tidak menjamu) tamu itu. Maka boleh bagi tamu itu untuk mengambil sesuatu dari rumah tersebut, yaitu dari hak “jamuan” (karena tamu memang memiliki hak untuk dijamu).

Mungkin sebagian kita baru mendengar dan merasa asing/heran dengan permasalahan ini. Namun Ustadz Kurnaedi akan menjelaskannya dengan rinci agar tidak disalahpahami. Karena memang kaidah ini tidak boleh dipahami secara parsial atau sebagian-sebagian saja. Bagaimana penjelasan yang benar mengenai kaidah ini? Silahkan download ceramah agama ini sekarang juga.

Download Kajian Kaidah Fiqih, Kitab Mandzumah Ushul Al-Fiqh wa Qawa’idihi: Bait 76 – Bolehnya Mengambil Harta yang Dibolehkan secara Syari’at walaupun dengan Sembunyi-sembunyi

Mari kita raih pahala dengan menyebarkan link kajian ini ke Facebook, Twitter, dan Google+ Anda. Jazakumullahu khoiron.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.