Riyadhus Shalihin
Dimakruhkannya Menolak Tumbuhan yang Harum
Dimakruhkannya Menolak Tumbuhan yang Harum adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 22 Dzulqa’dah 1446 H / 20 Mei 2025 M.
Kajian sebelumnya: Larangan Menghambur-Hamburkan Harta
Kajian Tentang Dimakruhkannya Menolak Tumbuhan yang Harum
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ رَيْحَانٌ فَلَا يَرُدَّهُ، فَإِنَّهُ خَفِيفُ الْمَحْمِلِ طَيِّبُ الرِّيحِ
“Barangsiapa diberi (ditawarkan) Rayhan (tumbuhan wewangian), maka janganlah ia menolaknya, karena sesungguhnya ia ringan dibawa dan harum baunya.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa apabila seseorang memberikan tumbuh-tumbuhan yang harum atau wewangian kepada saudaranya, maka janganlah ia menolaknya. Mengapa demikian? Karena, sebagaimana sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, benda tersebut tidak berat untuk dibawa dan baunya harum. Ketika seseorang memberikan sesuatu kepada saudaranya, tentu yang diharapkannya adalah agar pemberian tersebut diterima dengan baik.
Menerima pemberian ini merupakan bagian dari adab dalam Islam, yaitu tidak mengecewakan atau menyakiti perasaan orang lain. Kecuali jika seseorang memiliki uzur atau alasan yang dibenarkan, maka ia diperbolehkan untuk menolak. Namun, jika tidak ada alasan yang kuat, sebaiknya ia menerima pemberian tersebut. Inilah salah satu adab baik yang diajarkankepada seorang Muslim yaitu menerima atau tidak menolak pemberian dari saudaranya dengan tujuan untuk menyenangkan hati saudaranya.
Hadits selanjutnya
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata:
إِنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لاَ يَرُدُّ الطِّيبَ
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menolak wewangian (minyak wangi atau sesuatu yang harum).” (HR Bukhari)
Hadits ini memberikan pelajaran penting kepada kita, yaitu anjuran untuk menerimahadiah baik berupa rayhān (tumbuhan yang harum), minyak wangi, maupun jenis hadiah lainnya. Selama hadiah tersebut diberikan dengan penuh keikhlasan oleh saudara atau teman kita, maka sepatutnya kita menerimanya. Ini termasuk salah satu adab yang diajarkan olehRasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebab, dengan saling menerima dan memberi hadiah, akan menguatkan hubungan pertemanan dan persahabatan antara seseorang dengan saudaranya. Saling memberi dan menerima hadiah dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang di antara sesama, khususnya di antara orang-orang yang menjalin persahabatan.
Ini merupakan salah satu adab yang dijaga oleh para ulama dan para penuntut ilmu ketika menghadiri majelis-majelis ilmu. Aroma harum yang dikenakan akan memberikan kenyamanan bagi orang-orang di sekitarnya. Keharuman tersebut menyenangkan dan tidak mengganggu orang lain, berbeda halnya jika seseorang datang ke masjid atau duduk di majelis ilmu dalam keadaan berbau tidak sedap, maka hal itu justru dapat mengganggu orang yang berada di dekatnya.
Oleh karena itu, seseorang, baik sebagai guru, mu’allim, syekh, maupun alim, hendaknya menggunakan wewangian ketika hendak mengajar. Demikian pula para penuntut ilmu, sebaiknya memakai minyak wangi sebelum menghadiri majelis ilmu. Hal ini karena wewangian dapat menyegarkan jiwa dan menenangkan hati.
Bab Tentang Dimakruhkannya Memuji Seseorang Secara Langsung Di Hadapannya
Manusia terbagi menjadi dua golongan ketika mereka menerima pujian. Pertama, ada orang yang ketika dipuji di hadapannya, ia tetap bersikap biasa saja. Ia menyikapinya dengan rendah hati dan mengatakan, “Alhamdulillah, semua berasal dari Allah Ta‘ala.” Ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa, dan semua kebaikan yang ia miliki hanyalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Namun, yang kedua ada juga jenis manusia yang ketika dipuji di hadapannya, ia bisa terfitnah oleh pujian tersebut. Hal ini dapat menimbulkan penyakit hati seperti riya, ujub (bangga diri), dan perasaan tinggi hati, yang pada akhirnya dapat merusak amal perbuatannya.
Berikut adalah hadits yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadush Shalihin, dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ، وَيُطْرِيهِ فِي الْمِدْحَةِ، فَقَالَ: أَهْلَكْتُمْ أَوْ قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar seorang laki-laki memuji orang lain secara berlebihan. Maka beliau bersabda: ‘Kalian telah membinasakannya, atau telah mematahkan punggungnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat-kalimat dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa memuji seseorang secara berlebihan merupakan perbuatan yang tercela. Perbuatan ini ditegur langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang merupakan manusia paling mulia dan pemimpin para rasul. Meski beliau memiliki kedudukan yang tinggi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menyukai pujian yang berlebihan sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Nabi Isa ‘alaihissalam. Berikut adalah redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhari)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menginginkan agar umatnya menempatkan beliau sesuai dengan kedudukan yang semestinya. Beliau adalah hamba Allah, sebagaimana manusia lainnya. Namun, yang membedakan beliau dengan manusia biasa adalah status beliau sebagai utusan Allah, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita, sebagai manusia biasa, bukanlah rasul dan tidak diberi amanah untuk menyampaikan risalah. Sementara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diangkat secara langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta‘ala sebagai Rasul. Makanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyampaikan kepada umat manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu Tuhan yang Esa…” (QS. Fussilat[41]: 6)
Apabila seseorang terfitnah, artinya dia sedang diuji oleh Allah Ta‘ala, khususnya dengan ujian berupa kesenangan dipuji. Oleh karena itu, hendaknya dia menekan perasaan senang tersebut dan berusaha menghilangkannya. Dia juga dianjurkan untuk berdoa kepada Allah Ta‘ala, memohon, “Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kecintaan terhadap pujian.”
Meminta kepada Allah sangat penting karena Dia Maha Kuasa untuk mengubah hati seseorang dan memberikan apa yang diminta hamba-Nya. Sebagian manusia memang merasa senang jika dipuji hingga seolah-olah merasa di atas angin dan lupa akan dirinya sendiri. Na‘udzubillahi min dzalik (kami berlindung kepada Allah dari sifat tersebut). Sikap ini termasuk sifat yang tidak baik dan tercela. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda ketika mendengar seseorang memuji saudaranya secara berlebihan, “Kamu telah membinasakan orang ini.” Hal ini menunjukkan bahwa pujian yang berlebihan dan kesenangan terhadap pujian dapat merusak seseorang, bahkan bisa menggugurkan amal-amalnya.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Dimakruhkannya Menolak Tumbuhan yang Harum” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




