Al-Bayan Min Qashashil Qur'an
Bersabar dalam Berdakwah
Bersabar dalam Berdakwahadalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 6 Dzulhijjah 1446 H / 2 Juni 2025 M.
Kajian sebelumnya: Mengobati Umat dengan Dakwah kepada Allah
Kajian Tentang Bersabar dalam Berdakwah
Pada kesempatan sebelumnya telah dibahas seputar dakwah. Ada empat usul (prinsip dasar) dalam dakwah yang perlu diketahui:
- Maudu‘ ad-Dakwah: Materi dakwah, pokok bahasan yang disampaikan.
- Ad-Da‘i ilallah: Orang yang berdakwah, yakni penyeru kepada Allah.
- Al-Mad‘u: Objek dakwah, yaitu orang yang didakwahi.
- Asalib wa Wasa’il ad-Dakwah ilallah: Metode dan sarana dakwah.
Dakwah adalah ‘ilaj (obat) untuk berbagai penyakit yang menimpa umat. Dalam kitab ini disebutkan tiga penyakit besar:
- Maksiat, yang menyebabkan kehinaan menimpa umat.
- Hizbiyyah, yaitu fanatisme golongan atau kelompok.
- Fikrah menyimpang, seperti pemikiran Khawarij—yang awalnya mengkafirkan sesama muslim yang dianggap melakukan kesalahan dalam Islam, dan akhirnya menghalalkan penumpahan darah kaum muslimin, termasuk melalui aksi pengeboman. Semua itu dilakukan atas nama dakwah dan Islam.
Penyakit-penyakit ini tidak bisa disembuhkan dengan dakwah yang benar. Dalam kitab ini, disebutkan:
Dakwah kepada Allah Ta‘ala di atas manhaj kenabian adalah satu-satunya obat. Obat nubuwwah yang bermanfaat bagi umat Islam, baik di masa kini maupun di setiap zaman. Namun demikian, dakwah yang benar hanya akan berhasil jika disertai dengan kesabaran. Dakwah akan terus berjalan dan membuahkan hasil dengan sabar. Sebaliknya, dakwah akan terhenti dan gagal jika disertai dengan sikap isti‘jāl (tergesa-gesa).
Apa itu isti‘jāl? Yaitu keinginan untuk segera melihat hasil. Ingin orang yang didakwahi langsung berubah hanya karena satu atau dua kali diberi nasihat. Padahal, dakwah membutuhkan waktu dan kesabaran. Nabi pun berdakwah tidak dalam waktu singkat. Dakwah beliau panjang dan berproses.
Contoh sikap isti‘jāl adalah saat seseorang berdakwah, tetapi karena umat tak kunjung berubah, ia justru mengambil jalan pintas seperti aksi kekerasan, bahkan sampai pemboman. Ini bukan dakwah, tetapi isti‘jal yang menyesatkan.
Isti‘jal juga bisa muncul dalam bentuk dakwah dengan ucapan kasar, atau berdakwah dengan cara sendiri tanpa mengikuti manhaj kenabian. Ini terjadi karena kurangnya kesabaran dan tidak mau mengikuti jalan yang ditempuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka, kunci dakwah yang benar adalah sabar, mengikuti manhaj Nabi, dan terus istiqamah tanpa tergesa-gesa ingin melihat hasil.
Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membuat sebuah garis lurus yang panjang. Beliau bersabda bahwa itu adalah jalan Allah yang lurus. Setelah itu, beliau membuat garis-garis pendek di sisi kanan dan kiri dari garis panjang tersebut, lalu bersabda:
هَذِهِ السُّبُلُ وَلَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ { وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ }
“Ini adalah jalan-jalan, tidak ada satu jalan pun kecuali ada setan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat: ‘ (Dan sesungguhnya ini adalah jalan-ku yang lurus maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain)) ‘” (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Ada dua jenis jalan: satu jalan lurus yang panjang, dan lainnya adalah jalan-jalan pendek yang menyimpang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk mengikuti jalan yang lurus, meskipun panjang dan penuh kesabaran.
Maka dari itu, dibutuhkan kesabaran dalam berdakwah. Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar dan melarang bersikap tergesa-gesa (isti‘jāl). Allah Ta‘ala berfirman:
فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ
“Maka bersabarlah atas ketetapan Rabbmu, dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam (perut) ikan.” (QS. Al-Qalam [68]: 48)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat ini: “Wahai Muhammad, bersabarlah atas gangguan kaummu terhadap dirimu dan pendustaan mereka kepadamu. Karena sesungguhnya Allah akan menghukumi mereka, dan Dia akan menjadikan kesudahan yang baik bagimu dan bagi para pengikutmu.”
Allah juga berfirman:
فَٱصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْعَزْمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ
“Maka bersabarlah seperti kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau tergesa-gesa terhadap mereka.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 35)
Dari sini dapat dipahami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintahkan untuk bersabar dan dilarang bersikap tergesa-gesa dalam dakwah. Sikap tergesa-gesa ini justru menjadi penyebab utama terhentinya dakwah.
Banyak yang mengaku berada di atas kebenaran, namun berdakwah sendirian tanpa bimbingan ulama. Padahal, Nabi Musa ‘Alaihis Salam yang mendapat wahyu langsung dari Allah pun meminta bantuan kepada Allah agar ditemani oleh Harun. Dalam doanya beliau mengucapkan:
رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى ﴿٢٥﴾ وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى ﴿٢٦﴾ وَٱحْلُلْ عُقْدَةًۭ مِّن لِّسَانِى ﴿٢٧﴾ يَفْقَهُوا۟ قَوْلِى ﴿٢٨﴾ وَٱجْعَل لِّى وَزِيرًۭا مِّنْ أَهْلِى ﴿٢٩﴾ هَـٰرُونَ أَخِى ﴿٣٠﴾ ٱشْدُدْ بِهِۦٓ أَزْرِى ﴿٣١﴾ وَأَشْرِكْهُ فِىٓ أَمْرِى ﴿٣٢﴾
“Ya Rabbku, lapangkanlah dadaku. Mudahkanlah urusanku. Lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku. Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Hārūn, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengannya, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.” (QS. Thaha [20]: 25–32)
Namun sebagian dari kita ingin berdakwah sendirian tanpa arahan. Ini sangat berisiko.
Allah juga berfirman:
فَٱصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّۭ ۖ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ ٱلَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ
“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah adalah benar. Dan janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran) itu membuatmu gelisah.” (QS. Ar-Rum [30]: 60)
Ayat ini mengandung peringatan agar tidak merasa lemah atau sedih menghadapi orang-orang yang tidak yakin terhadap kebenaran ayat-ayat Allah. Teruslah berdakwah dengan sabar, karena jalan ini memang tidak selalu ramai dan penuh dukungan.
Apalagi di zaman keterasingan seperti sekarang, ketika dakwah Ahlus Sunnah terasa sepi dan asing. Maka bersabarlah dan bertawakallah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:
فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلْحَقِّ ٱلْمُبِينِ
“Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran yang nyata.” (QS. An-Naml [27]: 79)
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian “Bersabar dalam Berdakwah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




