Renovasi Masjid

Muqaddimah Tafsir

Menafsirkan Al-Qur’an dengan Perkataan Sahabat

By  |  | https://rodja.id/5nb

Tafsir Al-Qur’an dengan Perkataan Para Sahabat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Muqaddimah Tafsir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Nasrullah, M.A. pada Sabtu, 11 Dzulhijjah 1446 H / 7 Juni 2025 M.

Kajian Islam Tentang Menafsirkan Al-Qur’an dengan Perkataan Sahabat

Sunnah adalah ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau segala sesuatu yang dinisbatkan kepada beliau, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun persetujuan (taqrir) beliau, yakni ketika beliau mendiamkan suatu perbuatan yang menunjukkan bahwa hal tersebut tidak salah. Itulah pengertian sunnah. Menafsirkan Al-Qur’an dengan sunnah adalah ketika para ulama menggabungkan antara hadits dengan ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadits. Ini disebut tafsir al-Qur’an bi al-sunnah. Adapun jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri yang menafsirkan suatu ayat, maka itu disebut sebagai tafsir nabawi (tafsir dari Nabi).

Tafsir nabawi tentu merupakan bagian dari tafsir al-Qur’an bi al-sunnah, meskipun lebih khusus. Setiap tafsir nabawi adalah tafsir Al-Qur’an dengan sunnah, tetapi tidak setiap tafsir dengan sunnah termasuk tafsir nabawi. Beberapa contohnya antara lain: tafsir Al-Qur’an dengan sunnah yang berasal dari perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu ketika beliau sendiri menafsirkan ayat Al-Qur’an. Bisa juga ketika para sahabat, tabi‘in, atau para ulama ahli tafsir menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dengan perkataan beliau maupun dengan perbuatan beliau.

Sebagian ulama menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Misalnya, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Namun, tata cara shalat secara rinci tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an. Begitu juga nisab dan ketentuan zakat lainnya. Semuanya dapat ditemukan dalam hadits. Bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat? Beliau bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Jadi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang shalat melalui perbuatan beliau. Begitu pula dengan keseharian beliau. Hal ini menunjukkan bahwa tafsir al-Qur’an bi al-sunnah sangatlah penting. Tidak mungkin Al-Qur’an dipisahkan dari hadits.

Tentang Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum

Para ulama rahimahumullahu jami‘an mendefinisikan sahabat dengan berbagai macam definisi. Namun secara umum, pengertiannya kembali pada satu takrif, yaitu: sahabat adalah orang-orang yang berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagian ulama menjelaskan definisinya sebagai berikut:

مَنْ لَقِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Siapa saja yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Baik perjumpaan itu disertai dengan berbicara, mendengarkan, ataupun sekadar hadir. Kemudian, مُؤْمِنًا بِهِ  “ia beriman kepada Nabi”. Artinya, selain berjumpa, ia juga meyakini kerasulan beliau. Lalu وَمَاتَ عَلَى الْإِسْلَامِ “orang tersebut wafat dalam keadaan Islam”, dalam kondisi beriman. وَلَوْ تَخَلَّلَ ذَلِكَ رِدَّةٌ عَلَى الْأَصَحِّ “Meskipun sempat diselingi dengan kemurtadan”  Artinya, meskipun sebelum wafat seseorang sempat murtad, namun jika ia kembali masuk Islam dan wafat dalam keadaan beriman, maka ia tetap termasuk sahabat.

Pengertian sahabat mencakup kalimat  مُؤْمِنًا بِهِ  yaitu orang yang beriman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka, ketika seseorang melihat atau mendengar Rasulullah, tetapi tidak beriman, orang seperti itu tidak bisa disebut sebagai sahabat. Bahkan, seandainya seseorang hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun tidak beriman, maka ia tetap tidak termasuk sahabat. Meskipun ada hubungan kekerabatan, tetapi jika tidak ada iman, tetap tidak tergolong sahabat. Contohnya banyak, seperti orang-orang kafir Quraisy. Mereka hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan sejak kecil. Namun ketika Rasulullah diutus sebagai rasul, mereka tidak beriman. Maka, mereka tidak disebut sahabat.

Kemudian syarat وَمَاتَ عَلَى الْإِسْلَامِ  yaitu wafat dalam keadaan Islam. Jika ada seseorang yang beriman, bertemu Rasulullah, lalu meninggalkan keimanan dan meninggal dalam kondisi tidak beriman (murtad)  -na‘udzu billahi min dzalik- maka orang tersebut tidak bisa disebut sebagai sahabat. Namun, apabila ada orang yang telah beriman di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu murtad, kemudian setelah Rasulullah wafat ia kembali masuk Islam, beriman, dan meninggal dalam keadaan beriman, maka sebagian ulama menyebut bahwa orang tersebut juga bisa disebut sebagai sahabat.

Keistimewaan Para Sahabat

Para sahabat adalah generasi yang istimewa. Dalil yang menunjukkan keistimewaan mereka sangatlah banyak, baik dari Al-Qur’an maupun hadits, baik yang bersifat umum maupun khusus.

Salah satu dalil yang menegaskan keutamaan mereka adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah [9]: 100)

Ayat ini adalah bentuk kesaksian dan rekomendasi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk para sahabat—baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar—sebagai hamba-hamba pilihan yang diridhai oleh-Nya. Begitu pula bagi orang-orang setelah mereka yang mengikuti jalan para sahabat dengan ihsan; mereka pun berpeluang mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun, untuk meraih ridha tersebut, syaratnya adalah mengikuti jejak para sahabat. Tidak ada jaminan seseorang benar-benar telah mengikuti mereka secara utuh, namun setiap Muslim hendaknya berusaha meneladani jalan mereka. Walau tidak setara dalam derajat, tetap berharap dapat tergabung dalam golongan mereka.

Ayat ini dengan jelas menunjukkan betapa mulianya para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum, dan menjadi pelajaran bagi umat setelah mereka agar menjadikan sahabat sebagai panutan dalam beragama.

Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum adalah orang-orang yang belajar langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Merekalah yang menyampaikan risalah ini, menyampaikan syariat agama kepada umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada generasi setelah mereka. Maka, para sahabat adalah jembatan yang menghubungkan antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan umat ini.

Sebagian sahabat Radhiyallahu ‘Anhum terkenal dari sisi keilmuannya, dan bidang keilmuan itu pun beragam. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa para sahabat juga memiliki spesialisasi dalam berbagai cabang ilmu, termasuk dalam bidang tafsir. Di antara sahabat, ada yang dikenal sebagai rujukan dalam tafsir Al-Qur’an. Ada pula yang menjadi rujukan dalam ilmu-ilmu lainnya. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut. Di antara sahabat yang paling terkenal dalam bidang tafsir, sebagaimana disebutkan oleh sebagian imam, di antaranya Al-Imam As-Suyuti rahimahullah, adalah Khulafa’ur Rasyidin: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhum.

Hanya saja, tidak banyak ditemukan riwayat tafsir dari Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman. Meskipun mungkin ada, tetapi tidak banyak. Di antara sebabnya, sebagaimana dijelaskan oleh beliau, adalah karena mereka memiliki tanggung jawab besar sebagai khalifah, memimpin umat. Selain itu, pada masa mereka masih hidup, para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum secara umum sudah memahami Al-Qur’an, sehingga nukilan-nukilan seputar tafsir tidak terlalu banyak.

Namun, ketika Islam mulai menyebar dan muncul pertanyaan-pertanyaan baru mengenai tafsir, saat itulah mulai muncul fatwa-fatwa dan penafsiran-penafsiran dari para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Di antara sahabat yang menjadi rujukan utama dalam tafsir adalah ‘Ali bin Abi Ṭalib Radhiyallahu ‘Anhu. Sahabat lainnya yang dikenal dalam bidang tafsir adalah ‘Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau adalah sahabat mulia yang sangat terkenal dari sisi keilmuannya, terutama dalam ilmu tafsir Al-Qur’an. Dalam sebuah atsar disebutkan:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

“Barang siapa yang ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah menurut bacaan Ibnu Umm ‘Abd (yaitu ‘Abdullah bin Mas‘ud).” (HR. Ahmad)

Di antara sahabat lainnya yang juga dikenal sebagai ahli tafsir adalah ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. Beliau adalah sepupu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, putra dari Al-‘Abbas bin ‘Abdil Muṭṭalib, paman Nabi. ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma dikenal sebagai salah seorang imam tafsir dari kalangan sahabat. Kisahnya masyhur. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendoakan beliau:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ.

“Ya Allah, berikanlah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah kepadanya ilmu tafsir (penakwilan Al-Qur’an).” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Tafsir Al-Qur’an Dengan Perkataan Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum

Apa yang dimaksud dengan tafsirul-Qur’an bi aqwalis-sahabah? Ketika telah diketahui kedudukan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum ajma‘in dalam agama ini, maka hal itu juga menunjukkan kedudukan mereka dalam dunia tafsir. Mereka adalah orang-orang terkemuka dalam bidang tafsir. Yang dimaksud dengan tafsirul-Qur’an bi aqwalis-sahabah adalah ketika seorang mufassir menjelaskan makna suatu ayat dengan menggunakan perkataan para sahabat. Tentunya hal ini dilakukan setelah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, kemudian dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau dengan hadits beliau. maka mereka mencari perkataan para sahabat yang menjelaskan tentang ayat tersebut Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Ibnu Katsir Rahimahullah:

“وحينئذ إذا لم نجد التفسير في القرآن ولا في السٌّنَّة رجعنا في ذلك إلى أقوال الصحابة…

“Dan ketika itu, jika tidak ditemukan penafsiran dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah, maka kita kembali kepada perkataan para sahabat. Sebab, merekalah yang paling mengetahui hal itu karena mereka menyaksikan berbagai petunjuk dan kondisi yang khusus mereka alami, serta karena mereka memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang benar, dan amal yang shalih.”

Jadi, ketika para a’immatut-tafsir tidak mendapatkan penjelasan Al-Qur’an dari ayat lain ataupun dari hadits, maka mereka kembali kepada perkataan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Menafsirkan Al-Qur’an dengan Perkataan Sahabat” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses