Telegram Rodja Official

Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah

Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: Hadits ke-752 hingga ke-758 – TPP: Berilmu dan Beramal sebelum Zaman Fitnah; Menjual Agama untuk Dunia (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

By  | 

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Ini adalah rekaman dari kajian yang live di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Bogor, pada Ahad malam, 21 Muharram 1435 / 24 November 2013, ba’da Maghrib dan dilanjut ba’da shalat Isya’ (18:00-19:45 WIB, yaitu kajian kitab hadits, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah bersama Ustadz Badrusalam, Lc., melanjutkan kajian sebelumnya, yaitu membahas hadits ke-752 hingga ke-758. Silakan langsung simak atau download MP3 kajiannya.

Termasuk Pembahasan Penting (TPP): Berilmu dan Beramal sebelum Zaman Fitnah; Menjual Agama untuk Dunia

[sc:status-silsilah-al-ahadits-ash-shahihah-ustadz-badrusalam-2013]

Ringkasan Ceramah Agama Islam: Hadits-hadits Shahih dari Kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah

Hadits ke-752: Wajibnya Taat kepada Pemimpin

[00:53]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga:
Cinta Yang Benar Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

طاعة الإمام حق على المرء المسلم ما لم يأمر بمعصية الله عز وجل , فإذا أمر بمعصية الله , فلا طاعة له

“Mentaati imam adalah kewajiban setiap Muslim selama dia tidak memerintahkan maksiat kepada Allah. Apabila ia memerintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada ketaatan untuknya.” (H.R. Tamam)

Imam adalah yang diakui keimamannya (pemimpin) oleh setiap Muslim di suatu negara. Maka keimaman-keimaman yang ada pada kelompok-kelompok kemudian dibaiat, semua itu adalah imam-imam yang batil. Karena Syaikhul Islam mengatakan pada Minhajus Sunnah, syarat seseorang dikatakan imam yang dibaiat itu adalah dia harus mempunyai wilayah kekuasaan, dia harus punya kemampuan menjalankan roda pemerintahan (siyasah syar’iyyah). Sementara, yang kita lihat di Indonesia, kelompok-kelompok yang mempunyai imam-imam itu tidak terpenuhi syarat-syarat tersebut, bahkan numpang di Indonesia.

Hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban kita mentaati pemimpin dalam hal yang makruf saja. Adapun jika pemimpin memerintahkan kepada maksiat, maka kita tidak boleh mentaati pemimpin, tapi bukan berarti kita memberontak.

Hadits ke-753: Berbekam di Kepala (Ummul Mughits)

[05:02]
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

كان يحتجم في رأسه , و يسميه أم مغيث

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhijamah (berbekam) di kepalanya, yang disebut dengan ummul mughits.” (H.R. Tamam dan Al-Khatib)

Hadits ke-754: Makanan Haram Diperbolehkan untuk Orang yang Berhak Memakannya

[09:07]
Dari seorang Anshar, ia berkata:

Baca Juga:
Muqadimah Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah

خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة رجل من الأنصار , فلما انصرفنا لقينا داعي امرأة من قريش فقال : إن فلانة تدعوك و من معك على طعام , فانصرف , و جلس و جلسنا معه , و جيء بالطعام , فوضع النبي صلى|||
الله عليه وسلم يده و وضع القوم أيديهم , فنظروا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فإذا أكلته في فيه لا يسيغها , فكفوا أيديهم لينظروا ما يصنع رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخذ لقمته فلفظها , و قال : أجد لحم شاة أخذت بغير إذن أهلها , أطعموها الأسارى

“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada jenazah seseorang dari Anshar. Ketika kami pulang, kami bertemu dengan seseorang yang disuruh wanita dari Quraisy dan berkata, “Sesungguhnya Fulanah mengundang kamu dan beberapa orang bersama kamu untuk makan.” Lalu pergilah Rasulullah. Dan beliau duduk, kami pun duduk bersamanya, dan dihidangkan makanan. Lalu Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangannya, dan para sahabat pun meletakkan tangan-tangan mereka, lalu mereka memperhatikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ternyata makanan itu tidak cocok di mulut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu para sahabat pun tidak mau memakannya untuk mereka lihat apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalalm, lalu Rasulullah mengeluarkan kembali daging itu dan dibuangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku mendapati daging kambing ini diambil dari pemiliknya tanpa seizinnya. Berikan makanan kepada para tawanan (maksudnya, makanan tersebut diberikan kepada para tawanan).”” (H.R. Ibnu Mandah)

Baca Juga:
Kanikmatan dan Tingkatan Surga

Hadits ke-755: Sifat Tertawa Allah

[20:47]
Dari Abu Burdah bin Abi Musa, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يتجلى لنا ربنا عز وجل يوم القيامة ضاحكا

“Allah akan memperlihatkan diriNya kepada kita nanti pada hari kiamat sambil tertawa.” (H.R. Ibnu Huzaimah, Ath-Thabrani, Tamam, dan Ahmad)

Hadits ini memiliki penguat dari hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, pada hadits berikut ini.

Hadits ke-756: Sifat Tertawa Allah

[29:12]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا جمع الله الأولى و الأخرى يوم القيامة , جاء الرب تبارك و تعالى إلى المؤمنين , فوقف عليهم , و المؤمنون على كوم ( فقالوا لعقبة : ما الكوم ؟ قال : مكان مرتفع ) فيقول : هل تعرفون ربكم ؟ فيقولون : إن عرفنا نفسه عرفناه , ثم
يقول لهم الثانية , فيضحك في وجوههم , فيخرون له سجدا

“Apabila Allah mengumpulkan manusia dari generasi awal sampai generasi akhir nanti di hari kiamat, maka Allah akan datang kepada kaum mukminin, lalu Allah berdiri di antara mereka, sementara kaum mukminin berada di sebuah tempat yang tinggi. Lalu Allah berfirman, “Apakah kalian mengenal Rabb kalian?” Kaum mukminin menjawab, “Apabila Rabb kami memperkenalkan diriNya kepada kami, kami akan kenal.” Lalu Allah mengulangi lagi ucapanNya, lalu Allah pun tertawa di hadapan kaum mukminin itu, lalu kaum mukminin pun sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (H.R. Ibnu Huzaimah)

Baca Juga:
Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas - Prinsip-Prinsip 'Aqidah Menurut Imam Ahmad

Hadits ini menunjukkan di antara sifat Allah adalah tertawa. Tapi ingat, sekali lagi, jangan membayangkan bagaimana tertawanya Allah. Kenapa demikian? Karena kita tak pernah bisa memmikirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita ini ibarat orang buta yang selama hidupnya buta kecuali 1 detik bisa melihat, sewaktu bisa melihat, kemudian melihatlah kita kepada kepala ayam, sehingga dalam hidup kita melihat kepala ayam, kalau dikatakan kepada kita tentang kepala kerbau, maka ingatnya kepala ayam. Allah tidak mungkin serupa dengan makhluknya. Allah Ta’ala berfirman, “ليس كمثله شيء, “Allah tidak serupa dengan apa pun juga.“. Tertawanya Allah sesuai dengan keagungan Allah, kita wajib imani dengan sifat ini.

Hanya orang-orang yang pikirannya rusak saja yang menolak sifat tertawa, dengan mengatakan, “Mana mungkin Allah tertawa, tertawa itu kan sifat makhluk, Allah tidak serupa dengan makhlukNya. Jadi tidak boleh Allah disifati dengan sifat tertawa.” Maka kita katakan, “Ya Akhi, kita tidak pernah menyerupakan Allah dengan makhluk. Tertawanya Allah tidak serupa dengan (sifat) tertawa (pada) makhlukNya, sebagaimana Mendengarnya Allah tidak serupa dengan (sifat) mendengar (pada) makhlukNya, Melihatnya Allah tidak serupa dengan (sifat) melihat (pada) makhlukNya. Tidak serupa!

Maka kita tanyakan kepada orang-orang yang mengatakan Allah tidak tertawa itu, “Menurut kalian Allah punya keinginan, tidak?” Jika mereka menjawab, “Ya.” Maka kita katakan, “Bukankah makhluk juga berkeinginan?” Jika mereka menjawab, “Keinginan Allah kan tidak serupa dengan keinginan makhluk.Maka kita katakan, “Demikian pula, tertawanya Allah tidak serupa dengan tertawanya makhluk!” Sebagaimana, “Menurut kamu, Allah berilmu, tidak?” Apabila dijawab, “Ya, berilmu dong!” Maka kita katakan, “Manusia juga berilmu!” Kemudian apabila dijawab, “Tapi beda dong, ilmu Allah tidak sama dengan ilmu makhluk.Kita katakan, “Sama! Tertawanya Allah tidak serupa dengan tertawa makhluk!”

Baca Juga:
Syarat-Syarat Shalat Beserta Penjelasannya

Tetapkan saja sifat tertawa bagi Allah sesuai dengan keagunganNya, tanpa kita menyerupakan bagaimana tertawanya sebagaimana tertawa makhluk. Tidak boleh juga kita mempertanyakannya, bahkan pula tidak boleh membayangkannya.

Hadits ke-757: Umur Manusia 60-70 Tahun, Sedikit yang Lebih dari Itu

[35:55]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبعين و أقلهم من يجوز ذلك

“Umurnya umatku rata-rata antara 60-70 tahun, dan yang lebih dari itu sedikit sekali.” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ats-Tsa’labi, Al-Qudha’i, Al-Hakim, dan Al-Khatib)

Hadits ke-758: Berilmu dan Beramal sebelum Zaman Fitnah; Menjual Agama untuk Dunia

[38:54]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم , يصبح الرجل مؤمنا و يمسي كافرا أو يمسي مؤمنا و يصبح كافرا , يبيع دينه بعرض من الدنيا

Bersegeralah kalian beramal sebelum munculnya fitnah bagaikan malam yang sangat gelap, di mana seseorang di waktu pagi beriman, di waktu sore ia kafir; dan di waktu sore dia beriman, di waktu pagi ia kafir. Dia menjual agamanya hanya untuk mendapatkan sedikit bagian dari dunia.” (H.R. Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Al-Firyabi)

Download Ceramah Agama Islam: Kitab Silsilah Hadits Shahih, Hadits ke-752 hingga ke-758

Baca Juga:
Kedudukan Wanita dalam Islam - Bagian ke-3 - Tuntunan Praktis Fiqih Wanita (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Silakan dibagi-bagikan ke saudara-saudara kita. Jangan lupa klik share ke Facebook, Twitter, dan Google+. Jazakumullahu khoiron.

Telegram Rodja Official

3 Comments

  1. idham

    Jumat, _29 _November _2013 / 29 November 2013 at 13:10

    assalamualaikum ustadz, izin copas kajian ustadz, terimakasih

    • Radio Rodja

      Kamis, _08 _Mei _2014 / 08 Mei 2014 at 09:27

      Wa’alaikumsalam, iya silakan. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.