Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu
Sunnah-Sunnah dalam Khutbah Jumat
Sunnah-Sunnah dalam Khutbah Jumat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 7 Dzulqa’dah 1446 H / 05 Mei 2025 M.
Kajian Tentang Sunnah-Sunnah dalam Khutbah Jumat
Pada kesempatan yang lalu, telah dibahas mengenai hukum khutbah Jumat dan kewajiban-kewajiban di dalamnya. Kali ini, pembahasan akan berlanjut pada sunnah-sunnah dalam khutbah Jumat, yaitu amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh khatib saat menyampaikan khutbah.
1. Memulai Khutbah dengan Pujian kepada Allah, Shalawat, dan Syahadat
Sunnah pertama adalah memulai khutbah dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta mengucapkan dua kalimat syahadat.
Pertama, khatib memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan khutbatul hajah:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ…
Kedua, membaca shalawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta keluarga, sahabat, dan seluruh kaum Muslimin.
Ketiga, mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pembuka khutbah.
Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu. Ia berkata:
كَانَتْ خُطْبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى ٱللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ ٱلْجُمُعَةِ، يَحْمَدُ ٱللّٰهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: مَنْ يَهْدِهِ ٱللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَخَيْرَ ٱلْحَدِيثِ كِتَابُ ٱللّٰهِ
“Dahulu khutbah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Jumat, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya sebagaimana Dia layak untuk itu, lalu beliau mengucapkan: ‘Barang siapa yang Allah beri hidayah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah kehendaki tersesat, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah.’” (HR. Muslim)
Dalam hadits Abu Humayd As-Sa’idi disebutkan:
أَنَّ رَسُولَ ٱللّٰهِ صَلَّى ٱللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَشِيَّةً بَعْدَ ٱلصَّلَاةِ، فَتَشَهَّدَ وَأَثْنَىٰ عَلَى ٱللّٰهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ…
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri pada suatu sore setelah shalat, lalu beliau membaca syahadat dan menyanjung Allah sebagaimana Dia layak dipuji, kemudian beliau mengatakan: ‘Amma ba’du…’” (HR. Bukhari)
2. Khutbah Disampaikan dengan Serius dan Suara yang Jelas
Sunnah kedua, khutbah disampaikan secara serius dan dengan suara yang jelas agar menarik perhatian jamaah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika berkhutbah benar-benar menghayati isi khutbah, menunjukkan bahwa khutbah tersebut penting untuk didengar dan direnungi.
Jangan sampai khutbah disampaikan dengan nada datar atau terbaca seperti membaca teks tanpa penjiwaan. Meskipun membaca dari buku itu tidak terlarang, tetapi hendaknya dibawakan dengan penghayatan, agar jamaah tertarik dan tidak mengantuk.
Sayangnya, hal ini sering terjadi. Banyak khatib yang hanya membaca buku kecil yang sama sepanjang tahun, hingga isi khutbahnya telah dihafal oleh jamaah. Ini bukanlah hal yang baik, walaupun tidak bisa dikatakan haram.
Jamaah telah meluangkan waktu untuk datang ke masjid, meninggalkan pekerjaan mereka, dan duduk mendengarkan khutbah. Maka khatib seharusnya tidak menyia-nyiakan momen yang sangat berharga ini. Khutbah adalah media untuk menyampaikan nasihat, pengingat, dan ilmu. Hendaknya khatib serius dan bersungguh-sungguh dalam menyampaikannya agar umat benar-benar mendapatkan manfaat.
Coba bayangkan jika kita serius menggarap khutbah Jumat, betapa besar manfaat yang akan diperoleh oleh kaum muslimin. Misalnya, di masjid kita, tema khutbah diatur dengan rapi. Dalam satu tahun, setiap khutbah Jumat membahas satu bab dari Kitab at-Tauhid. Kitab ini terdiri atas sekitar lima puluh hingga enam puluh bab. Maka setiap pekan, satu khutbah mengangkat satu bab.
Jika DKM menetapkan keputusan semacam ini, lalu mengarahkan para khatib untuk menerapkannya, maka para khatib akan lebih serius mempersiapkan khutbah, dan kaum muslimin pun akan mendapatkan banyak manfaat dari isinya. Setelah Kitab at-Tauhid selesai, bisa dilanjutkan dengan kitab lain.
Sebagai contoh, jika ingin memperbaiki akhlak kaum muslimin, kita bisa mengambil tema dari Riyadhus Shalihin yang berkaitan dengan akhlak. Satu khutbah membahas satu tema atau satu bab. Betapa banyak pembahasan akhlak dalam kitab tersebut. Ada juga kitab berjudul Ahaditsul Akhlaq karya Syaikh ‘Abdurrazzaq al-Badr Hafidzahullah, yang sangat bagus untuk dijadikan bahan khutbah. Dengan pendekatan seperti ini, para khatib akan lebih serius mempersiapkan dan menyampaikan khutbah, dan para jemaah pun akan mendapat faedah yang besar.
Dalam syariat Islam, tidak ada kewajiban menghadiri khutbah selain khutbah Jumat. Ini menunjukkan keistimewaannya. Maka jangan sampai disia-siakan.
Disebutkan dalam hadits dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma:
كَانَ رَسُولُ ٱللّٰهِ صَلَّى ٱللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ ٱحْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَٱشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ، وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَٱلسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apabila berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya memuncak, seakan-akan beliau adalah seorang komandan pasukan yang sedang memperingatkan, seraya berkata: ‘Pagi atau petang kalian akan diserang.’ Beliau juga bersabda: ‘Aku diutus bersama hari Kiamat seperti dua ini (jari telunjuk dan jari tengah).’” (HR. Muslim)
Dengan suara yang meninggi dan penghayatan yang dalam, para jemaah yang tadinya mengantuk pun bisa kembali segar. Apalagi jika khatib sampai menangis karena menghayati isi khutbahnya, dengan raut wajah yang menunjukkan keseriusan—ini sangat berpengaruh terhadap para jemaah.
3. Memendekkan Khutbah, Memanjangkan Shalat
Sunnah selanjutnya yang dianjurkan dalam khutbah Jumat adalah memendekkan khutbah dan memanjangkan shalat. Memendekkan di sini bukan berarti hanya satu atau dua menit, tapi khutbah disampaikan secara ringkas dan padat.
Jangan sampai isi khutbah hanya dua atau tiga poin, tetapi dijabarkan hingga satu jam. Itu bukan sesuatu yang baik. Bukan berarti haram, tapi tidak baik. Cukup misalnya khutbah pertama sepuluh menit, khutbah kedua lima menit, lalu dilanjutkan dengan shalat Jumat yang dipanjangkan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering kali memendekkan khutbahnya dan memanjangkan shalatnya. Itulah keadaan mayoritas khutbah beliau.
Diriwayatkan dari ‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِينَةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا هٰذِهِ ٱلصَّلَاةَ، وَأَقْصِرُوا هٰذِهِ ٱلْخُطْبَةَ، فَإِنَّ مِنَ ٱلْبَيَانِ لَسِحْرًا
“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang (khatib) dan pendeknya khutbahnya adalah tanda kefakihan (pemahaman agama yang mendalam) seseorang. Maka perpanjanglah shalat dan persingkatlah khutbah. Sesungguhnya sebagian dari penjelasan itu ada yang bisa berpengaruh seperti sihir.” (HR. Muslim)
Sebagian dari penjelasan itu bisa seperti sihir. Maksudnya, dapat memberikan pengaruh kuat sebagaimana sihir memengaruhi seseorang. Jika seorang khatib benar-benar serius menyusun khutbahnya dengan baik, pengaruh khutbah itu bisa luar biasa bagi kaum Muslimin yang mendengarnya. Maka hendaknya khutbah Jumat dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, dengan tujuan memberikan pengaruh positif yang kuat kepada para jamaah.
Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا، وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا
“Aku pernah shalat Jumat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Shalat beliau pertengahan, khutbahnya pun pertengahan.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
لَا يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ
“Beliau dahulu tidak memanjangkan nasihatnya, khutbahnya hanya menyampaikan kalimat-kalimat yang sedikit.” (HR. Muslim)
Itulah keadaan mayoritas khutbah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: singkat dan padat. Namun, sesekali beliau juga memanjangkan khutbahnya sesuai dengan kebutuhan. Ini hal yang jarang disadari oleh sebagian kaum Muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak selalu memendekkan khutbah. Ketika keadaan menuntut, beliau bisa memanjangkannya.
Lalu, mengapa beliau lebih sering menyampaikan khutbah yang pendek, padahal itu adalah kesempatan besar untuk menyampaikan banyak pesan? Di antara faedahnya, khutbah yang ringkas lebih jauh dari sifat membosankan. Bayangkan jika para jamaah harus mendengarkan khutbah selama satu jam—tentu akan timbul rasa bosan. Namun, jika hanya sekitar sepuluh menit, maka tidak membosankan, terlebih jika khatibnya menyampaikan dengan semangat dan kalimat-kalimat yang padat makna.
Dengan khutbah yang singkat, jelas, dan menarik, para jamaah akan lebih mudah menangkap isi pesan, serta berusaha menghilangkan rasa kantuk agar tetap fokus mengikuti khutbah.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Subscribe: RSS
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Sunnah-Sunnah dalam Khutbah Jumat” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv




