Telegram Rodja Official

Syarh 'Umdatul Ahkaam

Kitab Puasa (Bagian ke-1): Puasa Ramadhan hingga Penentuan Awal Ramadhan yang Benar – Kitab Umdatul Ahkam (Ustadz Abu Qatadah)

By  | 

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Qatadah

Alhamdulillah, setelah sekian lama kita berpisah dari kajian kitab Umdatul Ahkam, kini, kita dapat lanjutkan kembali pelajaran kitab tersebut bersama Ustadz Abu Qatadah pada Sabtu pagi, 10 Rajab 1435 / 10 Mei 2014, pukul 05:30-07:00 WIB. Dan pada pengajian kitab Umdatul Ahkam ini, kita akan mempelajari bersama pembahasan kitab baru, yaitu Kitab Puasa, dimulai dengan hadits pertama, yang meliputi pembahasan Definisi Puasa dan Puasa Ramadhan. Sedangkan puasa Ramadhan yang dibahas ini, meliputi Hukum Puasa Ramadhan hingga Penentuan Awal Ramadhan. Mari kita simak kajian penuh manfaat ini, bi’idznillah.

Ringkasan Ceramah Agama Islam – Kajian Kitab Umdatul Ahkam: Kitab Puasa (كتاب الصيام) – Bagian ke-1

Definisi Puasa

[03:00]
Ash-shiyam (الصيام) adalah jamak dari kata ash-shaum (الصوم). Shaum (puasa) dari sisi bahasa adalah menahan. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

… إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْماً … (مريم: ٢٦)

Baca Juga:
Permasalahan seputar Puasa dan Ramadhan - Bagian ke-2: Puasa bagi Orang yang Bepergian, Tidak Puasa sejak Sebelum Berangkat Bepergian, dan Seterusnya (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

“… Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, …” (QS Maryam [19]: 26)

Dari sisi syariat, para ulama mendefinisikan puasa dengan definisi yang banyak, tetapi satu dengan lainnya tidak bertentangan. Salah satu definisi dari puasa adalah:

إمساك مخصوص من شخص مخصوص عن شيء مخصوص في زمن مخصوص

“Menahan untuk meninggalkan sesuatu yang khusus (dari makan, minum, dan jima’–dan ini berdasarkan ijma’) bagi orang-orang tertentu (yaitu Muslim, baligh [belum baligh tidak wajib puasa–tapi jika yang belum baligh berpuasa maka sah puasanya, mendapat pahala dan sebagai orang tua mendapat pahala apabila ia yang mengajarinya], ‘aqil [berakal], muqim [orang yang safar tidak wajib baginya puasa pada hari itu, dan baginya adalah mengganti puasanya pada hari yang lain], shohihun [sehat], dan qodirun ‘ala ash-shiyam [mampu untuk menunaikan shaum. Orang yang sakit maka dia meng-qodho’-nya di lain hari dan orang yang tidak memiliki kekuatan untuk berpuasa maka baginya adalah fidyah]) dari sesuatu yang khusus (telah dijelaskan [di awal paragraf]) dari waktu yang telah ditentukan (yakni dari terbit fajar shadiq sampai terbenam matahari).”

Atau:

التعبد لله تعالى بترك المفطرات من طلوع الفجر إلى غروب الشمس

“Beribadah kepada Allah dengan meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar shadiq sampai terbenamnya matahari.”

Hukum Puasa Ramadhan

[10:38]
Puasa adalah merupakan rukun di antara rukun Islam. Puasa adalah wajib hukumnya. Telah menunjukkan kepada wajibnya puasa dari dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’.

Baca Juga:
Tanya-Jawab seputar Adab dan Akhlak (Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc.)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: ١٨٣)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah [2]: 183)

Hadits Pertama: Larangan Mendahului Puasa Ramadhan dengan Puasa

[22:05]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا تقدموا رمضان بصوم يوم ، أو يومين إلا رجلا كان يصوم صوما فليصمه

“Janganlah kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali salah seorang dari kita yang terbiasa berpuasa.”

Yang dimaksud di sini, termasuk ketika seseorang melakukan puasa qadha’ (mengganti puasa wajib) atau punya kebiasaan puasa sunnah yang tidak bertujuan untuk mengagungkan puasa Ramadhan.

Hadits Abu Hurairah ini adalah hadits yang menjelaskan salah satu adab dalam menunaikan puasa. Di antara adab dalam menunaikan ibadah puasa adalah tidak boleh mendahului puasa Ramadhan sebelum melihat hilal / bulan (rukyatul hilal).

Hadits Kedua: Penetapan Awal Ramadhan dan Syawal

[38:10]
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا رأيتموه فصوموا . وإذا رأيتموه فأفطروا . فإن غم عليكم فاقدروا له

“Apabila kamu melihat hilal (bulan), maka berpuasalah. Dan apabila melihat hilal (Syawwal), maka berbukalah (Idul Fitri). Apabila terhalang oleh awan (atau lebih dari itu, adalah hujan), maka sempurnakanlah (Sya’ban-nya dan Ramadhan-nya).”

Baca Juga:
Bab Dusta yang Diperbolehkan hingga Bab Larangan Melaknat Orang Tertentu atau Binatang - Bagian ke-1 - Bab 261-264 - Kitab Riyadhush Shalihin (Syaikh Prof. DR 'Abdur Razzaq bin 'Abdil Muhsin Al-Badr)

Yang dimaksud ‘disempurnakan’ adalah bahwa bulan Qomariyah itu 29 atau 30 hari.

[53:25]
Bahwa seseorang tidak boleh menunaikan puasa pada bulan Ramadhan, kecuali melihat (rukyat) bulan atau adanya seseorang yang melihat bulan lalu memberikan kesaksian. Kalau tidak ada yang melihat bulan atau memberitakan melihat bulan, maka bagi kaum Muslimin menyempurnakan Sya’ban-nya 30 hari dan tidak ada jalan selain ini (tidak dengan hisab falaki).

Apabila seseorang melihat bulan, lalu dia datang ke amirul mukminin / ulil amri, ataupun yang mewakilinya yaitu qodhi (hakim), lalu kesaksiannya tidak diterima, baik disebabkan ada beberapa hal yang menyebabkan qodhi itu tidak mempercayainya, seperti ada sifat yang menurut qodhi adalah tidak sah untuk diterima atau menunjukkan bahwa orang itu tidak bisa dipercaya karena dia tidak memiliki pengetahuan untuk mengetahui bagaimana munculnya hilal, dst, maka pendapat yang benar dan kuat, bahwa baginya dan bagi kaum Muslimin adalah puasa bersama imamnya (pemimpin, yaitu pemerintah). Dan bagi seseorang yang telah melihat bulan dan tidak diterima syahadahnya (persaksiannya), maka bagi dia pun tidak puasa sendirian, apalagi baginya mengumumkan sendiri kepada kaum Muslimin yang lainnya, apalagi dia menyuruh yang lainnya dengan sebab dia telah melihat sendiri.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ ، وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Puasalah kalian pada hari orang-orang menunaikan puasa. Dan berbukalah kalian di hari orang-orang melakukan buka.”

Baca Juga:
Ceramah Tentang Puasa: Targhib Ramadhan

Mari kita download untuk menyimak penjelasan lengkap penuh manfaat dan faedah dari pembahasan kitab Syarah ‘Umdatul Ahkam berkaitan dengan puasa Ramadhan yang sangat pas kondisi kita saat ini yang akan menjelang Ramadhan.

Download Ceramah Agama Seri Kajian Kitab Umdatul Ahkam – Ustadz Abu Qatadah: Kitab Puasa (Bagian ke-1): Puasa Ramadhan hingga Penentuan Awal Ramadhan yang Benar

Mari kita share ke Facebook, Twitter, dan Google+, semoga bisa bermanfaat bagi saudara-saudara Muslimin kita dan bermanfaat pula bagi kita sebagai amal ibadah, Aamiin.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.