Telegram Rodja Official

Syarh Buluughul Maraam

Sifat Shalat Nabi – Bagian ke-11: Hukum Membaca Al-Fatihah dalam Shalat – Hadits 279 – Kitab Bulughul Maram (Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)

By  | 

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Zainal Abidin Syamsudin

Ceramah agama seri Sifat Shalat Nabi dari kitab Bulughul Maram yang sebelumnya telah kita pelajari adalah telah sampai pada Sifat Shalat Nabi (Bagian ke-10: Letak Kedua Tangan ketika Berdiri dalam Shalat – Hadits 278). Pada kesempatan lanjutan ini, Al-Ustadz Zainal Abidin akan menjelaskan hadits berikutnya, yaitu tentang Sifat Shalat Nabi (Bagian ke-11: Hukum Membaca Al-Fatihah dalam Shalat – Hadits 279). Ceramah ini live pada Rabu malam, 11 Shafar 1436 / 3 Desember 2014.

[sc:status-syarah-bulughul-maram-ustadz-zainal-abidin-2013]
[sc:ralat-seri-sifat-shalat-nabi-ustadz-zainal]

Ringkasan Ceramah – Kajian Kitab Bulughul Maram: Bab Sifat Shalat Nabi (بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ)

Sifat Shalat Nabi (Bagian ke-11: Hukum Membaca Al-Fatihah dalam Shalat – Hadits 279)

Pada malam hari ini (waktu terselenggaranya kajian ini secara live – red), kita akan membahas hukum membaca Al-Fatihah dalam shalat.

Hadits dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu. ‘Ubadah bin Shamit, kunyahnya adalah Abul Walid. Banyak sahabat yang lebih dikenal kunyahnya daripada nama aslinya. Tapi sebaliknya, ada yang lebih dikenal nama aslinya daripada kunyahnya, seperti ‘Ubadah ibnu Shamit. ‘Ubadah bin Shamit adalah seorang sahabat yang termasuk as-sabiqunal awwalun (orang yang pertama-tama masuk) dari Anshar, yang tepatnya adalah Khazraji. Dan beliau menyaksikan Bai’at Aqabah Pertama dan Kedua. Dan beliau tidak pernah absen perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perang 25 atau 27 kali, maka semuanya beliau ikuti. Beliau sahabat mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari orang kepercayaan umatnya (orang yang dianggap ahlinya, orang yang bisa mewakili dalam urusan-urusan penting), sehingga diutus kaumnya untuk menghadiri kaumnya untuk menghadiri Baiat Aqabah Pertama dan Kedua. Pada zaman pemerintahan ‘Umar bin Khathtab radhiyallahu ‘anhu, ‘Umar mengangkatnya menjadi qadhi dan mu’allim untuk umat Syam, tepatnya di Hims. Kemudian beliau hijrah ke Palestina, dan akhirnya wafat di Ramallah pada tahun 34. Allah memberinya umur 72 tahun. Semoga Allah Subhananahu wa Ta’ala meridhainya.

Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga:
Keutamaan Shalat Sunnah - Panduan Amal Sehari Semalam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ

“Tidak ada shalat yang bagi orang yang tidak membaca Ummul Quran (Al-Fatihah).”

Yuk, mari simak pembahasan menyeluruh dari hadits ke-279 dari kitab Bulughul Maram ini, untuk kita dapat mengambil pelajaran darinya, khususnya untuk mengambil hukum bacaan Al-Fatihah dalam shalat darinya. Mari download ceramah agamanya Islam ini sekarang juga.

Download Kajian Kitab Bulughul Maram: Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (Bagian ke-11: Hukum Bacaan Al-Fatihah dalam Shalat – Hadits 279)

Mari sebarkan juga ke Facebook, Twitter, dan Google+, sehingga kita dan saudara-saudara Muslimin kita dapat semakin mengilmui tentang shalat.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.